Berayun-ayun di Arus Danau Sentarum

Sebagian kawasan Danau Sentarum. (Foto: S. Endi)
Severianus Endi
Kapuas Hulu, Kalimantan Barat


Sejenak menarik diri dari hiruk-pikuk perkotaan, kawasan Taman Nasional Danau Sentarum di pedalaman Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, bisa jadi pilihan. Di sana, kita bisa berinteraksi dengan komunitas Dayak Iban yang mendiami rumah panjang, juga mengarungi danau yang menjadi habitat ikan langka arwana.


Arus danau yang kadang tenang, kadang agak bergolak, memberi sensasi tersendiri. Ada rasa khawatir melihat mendung hitam nun di kejauhan cakrawala, sementara angina mulai berhembus kencang. Juga decak kagum menyaksikan sesekali beberapa jenis burung melintasi langit.


Otoritas di Kalimantan Barat mendorong pemanfaatan kawasan eco tourism di dua taman nasional ini, Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Kedua taman nasional terletak di kabupaten terujung, Kapuas Hulu, yang berbatasan dengan Sarawak, Malaysia. 


Keduanya menawarkan eksotika unik menurut karakter wilayah. Kawasan Danau Sentarum relatif terjangkau dengan Rp 1,1 juta biaya speed boat sekali pergi dari Lanjak, Kecamatan Batang Lupar, menuju Dusun Meliau, Desa Melemba, tempat komunitas Dayak Iban berdiam di rumah panjang.


Di dusun ini, wisatawan bisa merasakan ritme kehidupan masyarakat, menginap di homestay di rumah betang itu. 


Alexander Burung, 47, seorang lelaki Dayak Iban yang kerap menjemput tamu dengan speed boad-nya, mengatakan, tujuan favorit para wisatawan asing maupun domestic adalah memancing ke danau. Kawasan itu memiliki banyak danau di antaranya merupakan habitat ikan arwana dan buaya. 


“Aturan kami melarang ikan hasil pancingan dibawa, jadi begitu didapat harus dilepaskan kembali setelah ditimbang dan difoto,” kata Burung, akhir Oktober 2017.  


Kerajinan tangan di Betang Meliau. (Foto: S. Endi)
Dia menambahkan, jika sedang beruntung, bisa berjumpa satwa endemic orangutan di alam bebas. Kedua taman nasional itu merupakan bagian dari Heart of Borneo yang membentang hingga negeri tetangga.


Sementara kawasan Betung Kerihun merupakan yang paling ekstrem dari aspek destinasi maupun cara menjangkaunya. 


Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Tingkat Pertama, Seksi Pelayanan dan Pemanfaatanan, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, Aripin, mengatakan, TNBK seluas 816,000 hektare memiliki karakter ekosistem hutan hutan tropika basah. 


Empat daerah aliran sungai (DAS) sebagai kawasan wisata minat khusus. Paling popular dan banyak menyedot turis asing adalah DAS Kapuas, didiami komunitas Dayak Dayak Punan Hovongan, dengan daya pikat alam, budaya, dan religi. 


“Banyak gua batu di DAS Kapuas menjadi makan leluhur. Arena arung jeram yang ekstrem sangat menantang nyali,” kata Aripin. 


Akses ke objek-objek ini relatif mahal dan sulit. Sebagai gambaran Rp 7,5 juta baru cukup untuk transportasi sekali pergi dengan speed boat dari Kota Putussibau—ibu kota kabupaten—menuju Desa Tanjung Lokang di areal DAS itu. 


Ada dua pilihan transportasi dari ibu kota provinsi Kalimantan Barat, Pontianak, untuk menjangkau kawasan itu. Bisa dengan menumpang pesawat dari Bandara Supadio ke Bandara Pang Suma di Putussibau dengan waktu tempuh sekitar 1,2 jam.



Dari Putussibau, masih dibutuhkan waktu dua jam bermobil menjangkau Lanjak jika ingin ke Danau Sentarum. Tetapi jika hendak ke Betung Kerihun, pelabuhan speed boad berada di dalam kota. (*)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.