Pagi Sang Penoreh Karet

Ilustrasi pohon karet. (Foto: S. Endi)
Budi Miank
Angan Tembawang, Kalimantan Barat

Pagi pukul empat. Dapur yang tadinya gelap sudah benderang. Bunyi periuk beradu dengan kuali. Ceret memerah menahan panas. Air bergolak di dalamnya. Emak sedang menjerang air. Hari sudah dimulai. Rasa kantuk harus dilawan. Saatnya pergi menoreh.

Emak menyerahkan baju dinas yang biasa dipakai untuk menoreh. Warnanya sudah campur aduk. Lubang-lubang kecil membuat angin pagi leluasa merasuki pori-pori tubuh. Bau keringat juga menjadi aroma khas, yang mengalahkan segarnya udara pagi pedesaan. Sebuah topi biru juga menunggu digantungannya. Celana panjang yang tak lagi utuh kakinya kuraih.

Sebuah lading, sejenis pisau sadap karet, dengan mata mengkilat menunggu di tiang gantungan. Setiap hari ia tergantung, usai diasah senja hari. Ayah yang bertugas mengasahnya. Setiap senja, ada empat sampai lima lading yang diasah. Ini rutinitas senja yang tak lagi kulihat. Ayah sudah pergi ke Rumah Bapa. Emak sudah pensiun menoreh. Dan, Aku, memilih jalan lain yang menoreh dengan ladingpena.

Sebenarnya aku rindu suasana rumah saat pagi emak membangunkan tidurku. Saat dingin merasuk. Saat dengkur terdengar keras. Saat mimpi sedang membuai. “Sudah pagi. Bangun. Menoreh,” begitu cara Emak membangunkanku setiap pagi. Kadang hujan pun emak tetap membangunkan. Ia adalah alarm hidup yang tahu kapan harus membangunkan anaknya. Ia bagaikan kokok ayam yang menjadi petanda hari telah berganti.

Aku harus melawan rasa kantuk. Aku harus menyusuri pagi yang dingin. Menyibak lalang yang ujungnya dipenuhi embun. Meretas semak yang masih malu-malu untuk mendongak. Meniti tanggul yang dihiasi bilur-bilur padi menjuntai. Menapaki jalan setapak yang dipenuhi daun-daun kering. Singgah di setiap batang karet. Menoreh dengan lading yang melahirkan air sadapan. Membuat satu goresan di batang karet yang membentuk anak sungai melengkung. Meletakan satu tadah di bawah pancuran daun. Tetesan getah karet menjadi ritme baru pagi yang sunyi itu.

Seekor bengkarung merayap di antara daun-daun kering. Suaranya melahirkan gemerisik. Burung-burung hutan mulai berkicau. Bernyanyi menyambut pagi. Mereka bersyukur diberi pagi yang cerah. Kilatan matahari menyeruak di antara lambaian daun-daun karet. Angin bermain di antara belahan-belahan pohon karet. Aku terus berjalan dan singgah pada batang-batang karet. Aku tetap menoreh.

Sejenak lagi, batang terakhir akan tiba. Peluh mulai membasahi tubuh. Rasa lelah menghampiri. Tapi kantuk tak lagi menyerah. Dingin yang masuk lewat lubang baju kemudian menusuk pori-pori berganti keluarnya bulir-bulir kecil keringat. Siulan anak-anak berangkat sekolah menjadi petanda pagi sudah berakhir. Kegirangan anak-anak yang bajunya tak seragam, tanpa alas kaki, itu menjadi nyanyian lain dalam rutinitas sang penoreh. Ingatanku melambung ke masa-masa kanak-kanak dulu.

Aku sudah sampai di batang terakhir. Sayup-sayup kudengar lagu dari radio transistor milik ayah. Sintua itu sedang menikmati Teluk Bayur. Aku hanya senyum mendengar lagu favorit ayah. Sesekali terdengar siulannya mengikuti irama lagu. Kadang bersenandung. Kadang juga menyanyikan lirik pada lagu itu. Walau hanya bagian terakhir saja.

Aku rehat sejenak usai menyadap batang terakhir. Aku berbaring beralaskan daun-daun kering. Sebentar lagi, aku akan memungut hasil sadapan. (*)

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.