Sepotong Tumpeng dari Uskup Agung Pontianak di Lapas Anak

Peresmian oleh Uskup Agung. (Foto: dok)
PONTIANAK, KOSAKATALagu berbahasa Dayak Kandayan berjudul Jubata—berarti Tuhan—mengalun di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) Klas II B Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Pagi Jumat (24/11/17) itu, lagu yang dipadu tari-tarian dipersembahkan anak-anak warga binaan, untuk para tamu. Ada gawe besar yang tengah berlangsung: pemberkatan dan peresmian sebuah kapel yang berdiri berdampingan dengan surau yang sudah lebih dulu ada dalam kompleks itu.

Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus memotong tumpeng, memberikannya kepada warga binaan non Katolik. Ada nuansa keberagaman, karena yang hadir tidak terbatas penganut Katolik.
Uskup kemudian menyanyikan sebuah lagu berbahasa daerah berjudul “Kayu Ara”.

Keuskupan Agung Pontianak bersama Komunitas Religius Katolik Dominikan Awam, telah membangun sebuah kapel berukuran enam kali sembilan meter di dalam kompleks LPKA, di atas areal seluas 450 meter persegi.

Selama ini, Dominikan Awam memberikan pelayanan rohani bagi anak-anak yang berada di tempat itu. Secara rutin mengunjungi wargaan binaan beragama Katolik, melakukan ibadat dan pendalaman iman.

Uskup Agustinus menggunting pita, memimpin ibadat pemberkatan singkat sebagai bagian prosesi peresmian kapel yang diberi nama pelindung Santa Katarina dari Siena, dan melakukan serah-terima kapada Kepala LPKA, Slamet Budiono.

Uskup berharap pelayanan rohani di lapas itu bisa terus dilakukan oleh Gereja Katolik, sebab, sungguh membantu para warga binaan mengubah tingkah laku mereka.

“Setelah mereka bebas, diharapkan mereka akan mempunyai iman yang kuat dan hidup baik di tengah masyarakat,” kata Uskup Agustinus. 

Uskup mengingatkan, warga binaan di lapas berbeda dengan umat biasa, tetapi mereka tetap sesama manusia yang perlu ditolong dan disapa.  

Kapel Santa Katarina dari Siena. (Foto: dok) 
Kepala Sub Seksi Pendidikan dan Bimbingan Kemasyarakatan LPKA Klas II B Sungai Raya, Lina Anggraini, mengatakan, warga binaan yang beragama nasrani di tempat itu sebanyak 15 orang, 10 Katolik dan 5 Kristen.

Kepala Bidang Keamanan, Kesehatan, Perawatan Narapidana/Tahanan dan Pengelolaan Basan dan Baran, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kalimantan Barat, Winduarto, mengapresiasi usaha Keuskupan Agung dan Dominikan Awan yang membantu melengkapi sarana peribadatan tersebut, sebagai untuk menunjang pembinaan kerohanian warga binaan.


Adanya kapel ini membuat pembinaan rohani dapat lebih sering dilakukan. Kegiatan rohani dapat mengurangi rasa bosan dan sepi para narapidana, juga mengobati trauma yang pernah mereka alami,kata Winduarto. (*/End)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.