Buku Baru Budi Miank tentang "Notokng", Kisah Magis Ritual Adat Dayak Angan di Kalimantan Barat

Oleh Mathias Hariyadi

Orang Dayak Angan di Kalimantan Barat sering menyebutnya dengan satu kata ini: Notokng.

Notokng adalah sebuah perayaan sekaligus peringatan di kalagan komunitas adat Dayak di Kalimantan Barat. Dalam tatanan adat, Dayak Angan, notokng bermakna membunyikan totokng (sejenis beduk) yang sering ditabuh sebagai musik pengiring dalam perayaan dan peringatan.

Disebut perayaan, karena notokng digelar setelah panen padi dan hal itu menjadi pesta syukur atas usaha satu tahun mengupayakan perladangan.Disebut peringatan, karena notokngmemperingatkan komunitas adat akan usaha pada tahun berikutnya agar berperilaku sesuai norma adat yang ada. Hal ini menjadi harapan agar panen pada tahun padi berikutnya bisa berlimpah.

Notokng lebih utama untuk menjaga wasiat leluhur agar ‘memberi makan’ tengkorak yang pemiliknya mewakafkan diri sebagai pusaka, yang menjaga kampung dan seisinya. Hal yang harus selalu dilaksanakan setiap tahun.

Notokng mesti digelar dengan hari yang ganjil. Bisa satu hari, tiga hari, tujuh hari, bahkan satu tahun.

Selama ini, komunitas adat Dayak Angan hanya paling lama menggelar ritual notokng selama tujuh hari. Paling banyak satu hari. Hal ini lebih pada faktor finansial. Semakin banyak hari dalam melaksanakanannya semakin banyak dana yang dibutuhkan.

Buku yang sebentar lagi akan terbit di Pontianak  ini ingin berkisah tentang sebuah kisah ritual notokng, namun dalam bentuk novel. Cerita yang dimulai dari seseorang ibu tua kedatangan temuai (tamu) dari jauh. Temuai yang kemudian mewakafkan kepalanya untuk dijadikan pusaka menjaga kampung.

Ini terlihat dalam dialog pada novel tersebut.

“Maukah kamu jadi pusaka kami di kampung ini?” tanya perempuan renta itu. 

“Kami di kampung ini, perlu satu barang utuk dijadikan pusaka, untuk menjaga kampung. Sebut saja, apa makanmu?”

“Nasi kuning, nasi hitam, ayam jantan, ikan sleuang, rokok daun, tumpi, pulut, juga minyak wangi. Setiap tahun, kalian harus menggelar ritual. Namakan ritual itu dengan Mininal sehari semalam,” jawab lelaki berwajah oriental itu.

Perjalanan cerita kemudian berlanjut dengan pertarungan batin para pemegang kepala. Ada kekhawatiran tak sanggup menjaga wasiat karena akan berdampak pada kekacaubalauan, bahkan bencana di kampung itu. Namanya juga sudah warisan. Seluruh kekuatan kampung mesti menjaganya. Hingga saat ini, pesan Aghu, nama pemilik tengkorak, itu tetap dilaksanakan.

Silakan nikmati kisah lebih lengkap pada buku yang diberi judul Notokng yang ditulis oleh Budi Miank, seorang wartawan di Kota Pontianak.

Seorang peminat sastra, G. Michael Jeno menulis  catatan sebagai berikut: “Buku ini mengajak kita menyelami lebih dalam tentang ritual magis peradaban sebuah bangsa. Buku yang sangat layak dibaca.”

* Penulis adalah Co-founder dan Chief Editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional. Naskah ini terlebih dahulu ditayangkan di Sesawi.Net

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.