Dispensasi Uskup Agung Pontianak Bagi Tionghoa Katolik Terkait Pantang-Puasa Saat Imlek

Ilustrasi: Permainan naga. Dok. Kosakata
PONTIANAK, KOSAKATA – Keuskupan Agung Pontianak memberikan dispensasi bagi masyarakat Tionghoa yang beragama Katolik untuk tidak menjalankan ibadah puasa dan pantang pada Jumat (16/2/18). Pada Februari ini pantang wajib masa Pra-Paskah bagi umat Katolik bertepatan dengan Hari Raya Imlek. Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus mengatakan pada hari itu umat Katolik wajib berpantang dari daging dan pantang pilihan pribadi, namun bagi mereka yang merayakan Imlek dan punya tradisi makan besar, maka kewajiban tersebut diizinkan dipindahkan ke hari lain.

“Saya memberikan dispensasi dari kedua jenis pantang ini bagi sesama umat Katolik di Keuskupan Agung Pontianak. Pantang tersebut dapat dipindahkan ke hari lain,” ujarnya, Kamis (8/2/18).

Keuskupan Agung Pontianak mengharapkan umat Katolik yang merayakan tahun baru Imlek mempertimbangkan dialog dengan budaya Tionghoa. Kedewasasaan, kata dia, mutlak diperlukan untuk mempertimbangkan dan memilah mana yang bermakna, baik dari ajaran gereja Katolik tentang pantang dan puasa dimasa prapaskah, maupun dari budaya dan tradisi Tionghoa.

Pihak gereja juga menggelar perayaan Misa Syukur Tahun Baru Imlek pada hari Jumat, 16 Februari 2018. Adapun Ibadat jalan salib baik secara pribadi maupun kelompok pada hari tersebut dapat dipindahkan ke hari lain Lebih lanjut, Uskup Agustinus meminta selain Imlek diadakan dengan penuh sukacita, sebaiknya disertai pula dengan kegiatan berbela rasa serta berbagi rejeki dengan orang miskin, menderita dan tersisih serta berkebutuhan khusus.

“Semoga umat Allah Keuskupan Agung Pontianak semakin tangguh dalam Iman terlibat dalam persaudaraan dan berbela rasa terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Salam persatuan dalam kebhinekaan,” ucap dia.

Gereja Katolik, kata dia, mengahargai makna dari peristiwa budaya Imlek yang masih dihayati oleh sebagian orang Tionghoa yang beragama Katolik. Dia meminta orang Katolik yang merayakan Imlek dapat memetik inti dari perayaan tersebut. Menrut dia, perayaan Imlek adalah perayaan kehidupan yang pasti menghargai dan menghormati Tuhan Sang Pencipta (taqwa), manusia dan alam ciptaanNya.

“Selain itu Perayaan Imlek merupakan perayaan pendamaian (rekonsiliasi dan harmoni) antara manusia dengan Allah, manusia dengan sesama dan manusia dengan alam ciptaanNya. Imlek juga merupakan sarana perwujudan adat istiadat yang menjadikan manusia sebagai Jen (manusia bijak). Perayaan Imlek adalah perayaan Syukur bersama keluarga dan komunitas serta masyarakat. Perayaan Imlek juga diwujudkan dengan berbela rasa dan berbagi kepada sesama manusia yang miskin dan menderita,” papar dia.

Soal diadakannya Misa Imlek, disebutkan Uskup Agustinus, merupakan perwujudan iman dan budaya. Iman selalu, membutuhkan budaya, baik dalam penghayatan maupun dalam pewartaan. Iman tak pernah melayang di udara tanpa bungkus budaya . Iman kristiani tidak terikat pada satu budaya tertentu, tetapi bisa diungkapkan dalam sebuah budaya. Dalam arti itulah, iman kristiani bersifat Katolik.

“Agar penghayatan iman bisa sungguh mendalam dan pewartaan iman dapat sungguh menarik dan dimengerti, maka iman perlu dibungkus dengan budaya yang sesuai,” pungkasnya. (Ars)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.