Uskup Agus Ajak Wujudkan Kedamaian di Kalimantan

PONTIANAK, KOSAKATA – Umat Katolik sudah menerima abu sebagai lambang pertobatan pada Rabu Abu lewat perayaan misa yang digelar pada Rabu (14/2). Perayaan Rabu Abu ini bertepatan dengan Hari Kasih Sayang, yang kerap disebut dengan Valentine Day. 

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus meminta seluruh umat kristiani untuk mawas diri. Terkait tahun poltik, dia juga meminta umat untuk selalu menjaga perkataan dan perbuatan, serta selalu menjunjung tinggi hidup orang Kristiani yang mengedepankan perdamaian. Secara khusus pada masa puasa ini umat diajak untuk melakukan langkah-langkah nyata agar ada sukacita diantara umat manusia, merajut hubungan yang penuh kasih dengan sesama tanpa membeda-bedakan suku, agama, budaya, ras dan antar golongan.

“Secara khusus pada masa puasa ini kita diajak untuk melakukan langkah-langkah nyata agar ada sukacita diantara umat manusia, merajut hubungan yang penuh kasih dengan sesama tanpa membeda-bedakan suku, agama, budaya, ras dan antar golongan,” ujarnya.

Setiap orang Katolik yang sudah memenuhi syarat untuk memilih sesuai dengan undang-undang yang berlaku wajib menggunakan hak pilihnya sesuai hati nuraninya dalam pemilihan kepala daerah baik itu di tingkat kabupaten/kota, maupun provinsi yang akan datang

Menurut dia, masa puasa tahun 2018 ini kita jalani dalam suasana dimana bangsa dan negara kita akan menghadapi pesta demokrasi. Dia mengajak umat untuk mendoakan agar pesta demokrasi ini berjalan damai sesuai dengan harapan rakyat dan bangsa dan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang berpihak kepada rakyat. Selain itu dia berdoa agar Pilkada ini tidak menjadi ajang perpecahan sesama anak bangsa. 

“Tentu harapan kita semua agar apapun hasilnya tidak akan mengkotak-kotakan apalagi memecah-belah bangsa dan negara kita tercinta ini. Setiap orang Katolik yang sudah memenuhi syarat untuk memilih sesuai dengan undang-undang yang berlaku wajib menggunakan hak pilihnya sesuai hati nuraninya dalam pemilihan kepala daerah baik itu di tingkat kabupaten/kota, maupun provinsi yang akan datang,” ungkap dia.

Terkait maraknya kasis intoleransi, hingga mengarah ke tindakan kekerasan, Agustinus meminta umat dan masyarakat untuk memaknai kembali falsafah Pancasila ini. “Masa puasa sekarang ini juga dilaksanakan dalam suasana dimana kita sebagai bangsa Indonesia masih mengalami situasi yang sangat memprihatinkan dimana ancaman perpecahan, perilaku kekerasan dan intoleransi yang tidak sesuai dengan falsafah bangsa kita Pancasila masih terus terjadi,” tutur dia.

Bahkan akhir-akhir ini tindakan kekerasan bukan hanya terhadap penganut-penganut agama tetapi juga terhadap pemimpin-pemimpin agama. Menurutnya peristiwa itu sungguh sangat manyayat hati dan sangat disesalkan di negara kita yang menganut falsafah Pancasila yang menjadi kebanggaan seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia. Terakhir, adanya penyerangan terhadap umat di gereja Santa Lidwina di Bedog, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta,yang menyebabkan seorang pastor, tiga umat dan seorang polisi mengalami luka-luka. Penyerangan itu terjadi ketika misa sedang berlangsung. “Hidup yang aman, penuh kedamaian, saling mencintai, hormat-menghormati, saling menghargai yang menjadi dambaan setiap orang terasa masih jauh dari kenyataan,” kata dia.

Terkait Masa Pra-Paskah, tahun ini yang menjadi tema adalah”Mewujudkan sukacita seluruh ciptaan di bumi Kalimantan”. Lanjut dia, tema ini merupakan ajakan bagi para pengikut Yesus Kristus agar ikut ambil bagian agar hidup penuh sukacita dirasakan oleh setiap orang di bumi ini, di tanah air kita, Indonesia, dimanapun kita berada.

“Situasi hidup kemasyarakatan yang telah disebut di atas tadi, ditambah lagi dengan masalah kemiskinan, tidak adanya lapangan kerja, ancaman narkoba, pergaulan bebas, pengelolaan kekayaan alam yang semena-mena, adalah tantangan nyata yang harus dihadapi agar hidup yang penuh sukacita menjadi milik umat manusia, khususnya kita yang hidup di bumi Kalimantan ini,” tegas dia.

Menurutnya, umat Kristiani hendaknya menjadi pembawa damai. “Tidak bisa menghindari dari tanggungjawab untuk menjadi agent-agent perdamaian agar sukacita diantara umat manusia dan seluruh alam ciptaan menjadi kenyataan. Bukan sebaliknya, menjadi orang yang menghambat adanya rasa damai,” tutup dia. (ris)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.