NGO Dorong Kaum Muda Kalimantan Barat Berperan dalam Konservasi Melalui Jurnalisme

Latihan wawancara. Foto: Hnz
KUBURAYA, KOSAKATA - Aksi konservasi, di antaranya penyelamatan satwa liar di Kalimantan Barat, terus dilakukan dengan merangkul keterlibatan kaum muda dengan memberi peningkatan kapasitas mereka memahami dan menerapkan citizen journalism untuk menyebarluaskan perspektif lingkungan hidup berkelanjutan.


“Kaum muda yang dibekali keterampilan jurnalistik memberi harapan masa depan bumi yang lebih baik, karena mereka berpartisipasi sebagai agen informasi yang positif,” kata Albertus Tjiu, Manager WWF Indonesia Program Kalimantan Barat, Senin (14/5/18)


Sebanyak 15 orang menjadi peserta pelatihan tiga hari bertajuk “Menulis untuk Pelestarian Satwa Liar Kalimantan Barat” yang digelar di Rumah Pelangi, di Desa Teluk Bakung, Kabupaten Kubu Raya, kawasan konservasi yang didirikan Pastor Samuel Oton Sidin OFM Cap, yang pada 2012 dianugerahi Kalpataru oleh Pemerintah Indonesia.


M Akbar S (13) merupakan satu-satunya peserta dari kalangan SMP, sementara peserta lainnya rata-rata manasiswa, aktivis pers kampus, dan mahasiswa magang di mdia lokal. Akbar merupakan anggota Komunitas Pecinta Satwa, yang rutin melakukan edukasi ke masyarakat terkait perlindungan satwa.


“Kami sampaikan pesan-pesan sederhana dalam berbagai event, seperti, jika menemukan ular di semak-semak, jangan dibunuh, tetapi biarkan dia pergi karena dia berhak hidup. Umumnya orang terdorong untuk selalu membunuh ular yang tidak sengaja mereka jumpai,” kata Akbar.


Jurnalis media lingkungan hidup Mongabay, Andy Fachrizal, mengatakan, para pemuda ini dimotivasi untuk selalu peduli dengan isu lingkungan di sekitarnya, sehingga bisa menuliskan sesuatu untuk meningkatkan kesadartahuan masyarakat terhadap kelestarian lingkungan.


“Di era social media yang serba instan dan bertabur hoax, mereka harus dibentuk menjadi pribadi berkarakter agar pesan tertulis yang mereka buat memiliki nilai positif untuk keberlangsungan lingkungan,” kata Andy.


Para pemuda ini akan terus didampingi hingga mampu menghasilkan reportase yang komunikatif, untuk kelak dijadikan local champion yang siap berkolaborasi dengan masyarakat dampingan NGO di pedalaman yang juga sedang dibekali keterampilan citizen journalism.


Contents komunikasi yang muncul dari local sendiri, diyakini akan jauh lebih membumi dan menyuarakan kondisi riil, sehingga lebih efektif untuk menyuarakan kerarifan tradisi, perlindungan satwa endemic seperti orangutan dan burung enggang, juga berbagai tanaman langka yang mulai punah. (Hnz)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.