Tinggalkan Bakar Lahan, Penduduk Desa Beralih ke Pertanian Organic

Foto: KoSaKata
KETAPANG, KOSAKATA – Ibu Mujillah (47) merasakan sendi-sendinya tidak lagi ngilu jika mengonsumsi sayuran kacang panjang, jenis sayuran yang menjadi pantangan bagi penderita penyakit asam urat seperti dirinya. Buah cabe yang dipanen dari kebunnya pun bisa bertahan tiga minggu tanpa disimpan di kulkas.


“Barangkali ini manfaat lain dari kebun organic ya, saya baru dua tahun belakangan mempelajarinya. Sayuran lebih awet, usia tanaman lebih panjang sehingga saya bisa penen terus,” kata Mujillah, petani di Desa Lembah Hijau 2.


Desa di Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, daerah pedalaman Kalimantan Barat menjadi satu dari tiga desa—selain Desa Tajuk Kayong dan Siantau Raya—dengan sekitar 60 petani yang menerapkan Pertanian Ekologis Terpadu (PET) sebagai peralihan pertanian dengan cara membakar lahan.


“Bertani organic sedikit repot karena banyak yang harus dikerjakan, tetapi hasilnya memuaskan. Bisa lebih dari dua kali lipat dari hasil pertanian kimia,” kata wanita yang enam bulan belakangan melakukan replikasi cara organic di pekarangan rumahnya seluas 10 kali 10 meter.


Sebelumnya, dia bersama 30-an petani lain di desa itu—dominan pesertanya perempuan—belajar bertani sayuran organic di sebuah kebun belajar seluas seperempat hektar. Rumput tebasan lahan yang biasanya dibakar, dicacah untuk bahan kompos dicampur cairan Mikro Organisme Lokal (MOL) yang diproduksi sendiri.


Ketua Kelompok Tani Sinar Harapan, Desa Lembah Hijau 2, Yatimin (laki-laki, 63), mengatakan, pola organic juga diterapkan dengan kombinasi kebun sayur bersama ternak sapi, kambing, dan kolam ikan. Bagian dari sayuran yang tidak digunakan, dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sebaliknya kotoran ternak diolah menjadi pupuk.


“Pengendalian hama kami lakukan secara alami dengan menanam tanaman pengalih hama. Ada jenis bunga-bungaan yang ditanam di sela sayuran untuk mengundang predator alami,” kata Yatimin.


Insektisida alami diproduksi dengan mengolah beberapa jenis daun local untuk disemprotkan ke sayuran, mengusir beberapa jenis hama.


Para petani lain di Desa Tajuk Kayong mencoba menerapkan pengolahan lahan tanpa bakar untuk tanaman padi. Ketua Kelompok Tani Mitra Bedulor, Ahmadi (50) mengatakan, lahan 1,000 meter persegi dengan 8 kilogram bibit dan usia tanam 4 bulan, menghasilkan gabah kering 200 kilogram. Ini dua kali lipat besarnya dibandingkan system bakar lahan.


“Kami mengenal cara baru bertani dengan memanfaatkan bahan-bahan dari sekitar tanpa harus membeli,” kata Ahmadi.


Camat Nanga Tayap, Dewanto, mengakui, tidak mudah mengedukasi masyarakat desa yang sudah familiar dengan cara membakar untuk membersihkan areal kebun sayur dan ladang, sebagai tradisi warisan leluhur masyarakat Dayak.


“Cara baru seperti ini barangkali terdengar aneh dan mustahil, tetapi mereka akan meniru jika sudah melihat hasilnya. Saya berharap semakin banyak desa bisa difasilitasi untuk peralihan pola pertanian. Secara keseluruhan ada 20 desa, namun yang tersentuh baru 8 desa,” kata Dewanto.


Foto: KoSaKata
Delapan desa itu berada di sekitar konsesi perusahaan perkebunan kelapa sawit Sinar Mas Agribusiness and Food yang mulanya menerima peningkatan kapasitas dan peralatan untuk berperan menekan angka kebakaran hutan dan lahan.


Vice President Agronomy Sinar Mas Agribusiness and Food Wilayah Kalimantan Barat, Junaidi Piliang, mengatakan, usaha menurunkan angka kebakaran hutan dan lahan tidak bisa semata-mata dengan melarang penduduk membakar lahan. Dibutuhkan pendampingan agar mereka beralih dari cara lama bertani, sehingga model organic dinilai menjawab kebutuhan local.


Titik panas dan titik api menurun signifikan dari perbandingan data 2015 (423 titik panas dan 271 titik api), berkurang pada 2017 (13 titik panas dan 9 titik api).


CEO Perkebunan Sinar Mas Wilayah Kalimantan Barat, Susanto Yang, mengatakan, memperkenalkan dan menerapkan metode pertanian organik menjadi solusi pemenuhan gizi local secara mandiri dan berkelanjutan. Setiap keluarga kini mampu menghemat hingga Rp 300,000 per bulan dari pemotongan belanja sayuran dan rempah, karena bisa diambil dari kebun sendiri. Juga mereka menerima Rp 500,000 per bulan dengan menjual sayuran ke desa-desa sekitar. (Hnz)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.