Ada Puisi di Sarang Kata

Oleh: Budi Rampan

Minggu malam di halaman belakang sebuah gedung di Jalan WR Supratman bernomor 100. Bau asap daging terbakar berbaur dengan bau karbon hasil pembakaran lahan. Dua bulan terakhir, Pontianak diselimuti kabut asap. Kemarau melahirkan udara kian tercemar hingga melewati ambang batas.

Suara air yang jatuh dari pipa-pipa plastik hidroponik menghadirkan keteduhan, seperti mata seorang hawa yang merindukan arjuna menemuinya pada senja yang temaram. Sawi yang berbaris pada lubang-lubang paralon berebut makanan dari sari yang dibawa aliran airnya. Hijau adalah kerinduan pada kesyahduan malam berkabut tipis itu.

Di bangku plastik biru, Martin duduk memangku gitar akustik. Jari-jarinya mulai memetik dawai yang melahirkan bunyi denting berirama. Satu meter di kanannya, Kris Tampajara menjelajahi halaman-halaman buku di tangannya. Ia berhenti di halaman 212. Kemudian dia sejenak, lalu menarik napas.

"Angin Subuh," kata Kris.

Tonton pembacaan puisinya di tautan ini: Puisi "Angin Subuh" oleh Kris Tampajara - KoSaKata

Lelaki gondrong yang mengabdikan hidupnya sebagai seorang bruder ini mulai membaca puisi. Puisi dari buku berjudul Jejak, Lipatan Musim di Tubuhmu, itu ditulis Bruder Kris, begitu dia biasa disapa, dan diterbitkan pada 2016.

"Pieta," katanya lagi membaca bait kedua puisi itu. Hening. Hanya ada suaranya dan denting dawai gitar yang dipetik Martin. Endi memberi sedikit pancaran sinar dari cahaya android agar gelap tak mendominasi tempat itu.

"Cahaya itu abadi. Sepanjang masa." Bruder Kris mengakhiri baris terakhir dari puisi itu. Hening sejenak. Kemudian tepuk tangan sebagai apresiasi atas lakon tersebut.

"Saya bergetar," kata Martin.

Jeda sejenak. Martin terus memainkan dawai-dawai gitarnya. Dua meter di kanannya, Devienda masih mencari-cari puisi yang pas untuk dibaca. Pada halaman 65 buku bersampul hijau itu, Vienda berhenti.

"Proficiat untuk malam," Vienda mulai membaca.

Tonton pembacaan puisinya di tautan ini: Puisi "Proficiat untuk Malam" oleh Kris Tampajara - KoSaKata

"Malam. Selamat untukmu karena ada banyak orang gandrung padamu," begitu baris pertama pada bait pertama puisi itu.

Vienda cukup pandai membacanya. Gadis berkulit eksotis ini memiliki talenta sebagai seorang seni. Martin terus memetik dawai mengiringi Vienda menghabiskan larik-larik puisinya.

"Tetapi hanya kesepianlah yang akan mengutukmu." Vienda mengakhiri puisinya. (*)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.