Menjaga Bahasa Ibu Lewat Kamus

Oleh: Tuah Rampan

PONTIANAK, KOSAKATA - Sabtu malam di Kedai Herbal Kite, Komplek Rumah Melayu di Pontianak. Suguhan kerupuk basah khas Kapuas Hulu menjadi penyaji yang apik malam itu. Air mineral menjaga haus ketika kerongkongan mulai mengering. Lima belas anak muda berkumpul, mengisi bangku-bangku dengan meja memanjang. Empat lelaki duduk di depan, di belakangnya terpampang spanduk berukuran dua kali tiga meter.
Penulis sedang membaca ulang kamus. Foto: Hanz

Sabtu, 15 September 2018, saat jarum jam beralih ke angka delapan. Sudah pukul dua puluh dalam perhitungan arloji. Waktu yang menunjukkan malam sedang mengganti siang. Lampu-lampu yang cahayanya redup melahirkan temaram. Tak ada musik pengiring seperti layaknya cafe-cafe di pusat keramaian.

Malam itu berlangsung bedah buku berjudul Kamus Bahasa Angan - Indonesia. Buku yang ukurannya sebesar saku baju kemeja itu ditulis Budi Miank, seorang jurnalis di Harian Pontianak Post, sebuah media berbasis di Pontianak, Kalimantan Barat. Ada dua pembedah malam itu. Ada Yusriadi, seorang doktor linguistik yang berkarya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. Kemudian Dedy Ari Asfar, peneliti pada Balai Bahasa Kalimantan Barat. Dedy juga mengantongi sertifikat sebagai ahli perkamusan di Indonesia. Dia termasuk salah seorang editor pada Kamus Besar Bahasa Indonesia jilid kelima.

Budi Miank, penulis kamus itu, mengakui bahwa niat menyusun buku sudah ada sejak 2016. "Lewat diskusi-diskusi kecil dengan teman-teman satu kampung, penggiat bahasa, hingga ahli linguistik memantapkan niat itu. Agak telat terwujud karena harus mengumpulkan serpihan-serpihan kata yang cukup sulit dalam menuliskannya," katanya.

Penulis antologi puisi Ombon; Perempuan Pengembara ini mengaku beruntung memiliki teman di luar penutur yang mau membantu seluruh proses penyusunan kamus ini. Orang-orang yang bekerja tanpa pamrih. Misinya untuk menyelamatkan sekaligus melestarikan bahasa ibu dari ancaman ketiadaan penutur. "Kamus, sebagai bagian dari kampanye literasi, menjadi satu langkah kecil untuk mewujudkan misi itu," ujarnya.

Bahasa Angan memiliki penutur yang mendiami Desa Angan Tembawang, Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Dalam kelompok besarnya, Bahasa Angan termasuk kelompok Bahasa Be Aja, yang memiliki penuturnya di wilayah Kabupaten Landak dan Sanggau. Lebih dominan di Kabupaten Sanggau, terutama Kecamatan Balai (Batang Tarang).

Desa Angan Tembawang memiliki tujuh dusun, yakni Dusun Angan Tembawang (Rumah Angan), Dusun Angan Tutu, Dusun Angan Bangka, Dusun Angan Pelanjau (Pelanyo), Dusun Angan Limau (Merimo), Dusun Angan Rampan (Semtigakng), dan Dusun Angan Landak (Belanak). Jumlah penuturnya tidak sampai dua ribu orang, termasuk Orang Angan yang tidak lagi berdomisili di Angan Tembawang.

Dedy Ari Asfar mengatakan, kamus ini merupakan kamus dwibahasa, yakni bahasa daerah (Bahasa Angan) - bahasa Indonesia, dengan memberikan makna secara leksikografis dan sinonimis. Kamus ini menerapkan pencatatan dan komputerisasi dengan memanfaatkan sistem International Phonetic Alphabet (IPA) dan otografi, yang umum dikenal dalam tatatulis.

Kamus ini tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan akademik lokal dan internasional yang menaruh minat dalam bidang bahasa dan leksikografi, juga bisa digunakan oleh masyarakat umum, pelajar, dan guru.

"Kamus bahasa Angan ini bisa dimanfaatkan sebagai salah satu sumber acuan dalam mengajarkan muatan lokal di sekolah dasar dan menjadi pangkalan data penting dalam memahami bahasa daerah," katanya.

Menurut Dedy, kamus ini bermanfaat dalam mendokumentasikan dan mewariskan budaya literasi khazanah bahasa daerah yang berkembang di komunitas Dayak di Desa Angan Tembawang, Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

"Kamus Bahasa Angan ini hadir di tangan pembaca berkat kerja keras penulis bernama Budi Miank. Kamus ini menjadi cara penulis untuk mengenalkan kosakata arkaik dan klasik yang jarang diketahui oleh generasi milenial bahasa Angan," kata Dedy.

Dedy mengemukakan bahwa penulis kamus ini sudah boleh didaulat menjadi munsyi bagi bahasa daerahnya sendiri.

“Kami sangat berterima kasih kepada Budi Miank yang bersedia bersusah payah membuat kamus ini demi gerakan Indonesia melestarikan bahasa ibu,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia Melestarikan Bahasa Ibu tersebut.

Kata Dedy, penulis berhasil mencatat kosakata dasar dan berimbuhan serta memaparkan konteks kata dalam kalimat. Kamus ini juga dilengkapi dengan pelafalan yang sesuai dengan bunyi bahasa Angan itu diucapkan. Kamus ini bisa menjadi bahan ajar muatan lokal dan pengayaan bagi sekolah di sekitar Benua Angan. Kamus ini menjadi contoh inspiratif bagi kalangan terpelajar di Kalimantan Barat yang memiliki keragaman bahasa daerah.

Dedy berharap penerbitan kamus ini mendorong kamus-kamus bahasa daerah lainnya untuk ditulis dan diterbitkan.

“Mari kita melestarikan bahasa daerah dengan menulis berbagai genre fiksi dan nonfiksi agar bahasa daerah bisa diselamatkan dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Dedy.

Yusriadi, Pengajar di IAIN Pontianak, melihat bahwa kamus ini hadir sebagai pemenuhan janji penulis kepada dirinya sendiri juga bahasa ibunya. Penulis, kata Yusriadi, telah mendokumentasikan kosakata bahasa yang dituturkannya.

"Memang masihh sangat sederhana. Tetapi, seperti kata penulis, buku ini menjadi pintu masuk bagi para profesional kebahasaan, bahkan antropologi untuk meneliti lebih komprehensif," katanya.

Bedah buku sekaligus peluncurannya pada Sabtu malam itu benar-benar sederhana, sama sederhananya kamus tersebut. Namun, banyak hal yang bisa dipetik dari kesederhanaan itu. (*)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.