Pastor Lintas: 42 Tahun Imamat Buah Sulung

Oleh Alkap Pasti dan Amon Stefanus

P. Lintas muda bersama Mgr Sillekens. Dok: Ist
BIARA Pasionis Ketapang, Kalimantan Barat, Februari 1978. Uskup tua itu, duduk di ruang depan, memandang keluar biara. Senja memerah, matahari bersinar meredup. Ada senyum di bibir Uskup itu, Mgr Sillekens, CP.

Baru saja ia mendapat laporan, tentang persiapan tahbisan imam pribumi pertama suku Dayak Ketapang. Buah sulung panggilan, sebentar lagi, ya sebentar lagi.

Sehari sebelumnya, 4 Januari 1978, panitia tahbisan itu telah dibentuk. Yang akan ditahbiskan adalah Frater Zacharias Lintas Pr, seorang pemuda berkulit bersih, yang kehadirannya ditunggu sejak Gereja Katolik masuk di Ketapang di tahun 1911.

Tidak cukup banyak catatan tentang frater muda ini-- dalam buku Catatan Harian Pater Bernardinus. Dedikit yang terjejak, 29 September 1973 ia hadir ketika Pater Yerun Stoop, CP memberikan perminyakan suci (dan meninggalnya) Pastor Setiarjo CP.

Kemudian dituliskan, Frater Lintas kembali ke Yogyakarta 2 November 1973 untuk melanjutkan studi imamatnya. Dan pada 23 September 1976, Frater Lintas ditahbiskan sebagai diakon.

Dan akhirnya, pada jadwal yg telah ditentukan, 16 April 1978, Diakon Lintas ditahbiskan menjadi imam. Uskup itu, Mgr Sillekens, dengan terharu mentahbiskan imam muda itu.

Tak lama sesudah proses penahbisan itu, Mgr Sillekens mengajukan pengunduran diri sebagai uskup karena kondisi kesehatannya yang menurun.

Sementara itu, imam muda yang  dulu ditahbiskan, kini pada Senin (20 April 2020) telah menapaki panggilan imamatnya yang ke-42. Ia saat ini menjadi pastor kepala Paroki Tembelina, pedalaman wilayah Keuskupan Ketapang.

Catatan Pater Vitalis
Dari sedikit catatan yang ada, kisah tentang Lintas muda bisa diikuti dari goresan pena Pater Vitalis CP Frumau, CP. Misionaris asal negeri Kincir Angin yang berpuluh tahun ikut merintis karya misi di pedalaman Ketapang, telah mewariskan catatan berharga ini.

Dalam catatannya, 16 April 1978, diungkapkan sebagai “hari bersejarah untuk Keuskupan Ketapang.” Diiringi tarian daerah Simpang Dua dan para pastor Keuskupan Ketapang. Frater Zacharias Lintas ditahbiskan menjadi imam pribumi pertama  (Dayak) di Kabupaten Ketapang, oleh Mgr. Gabriel Wilhelmus Sillekens di Katedral St. Gemma Ketapang.

Gereja penuh sesak dengan umat dan para undangan, sehingga anak-anak asrama harus mengambil tempat di loteng Gereja. Upacara berjalan dengan hikmat dan lancar.

Yang menarik perhatian dalam liturgy, di antaranya, perarakan secara adat yang menunjukkan seorang anggota masyarakat diantar menuju kehidupan yang baru dalam hal ini kehidupan imamat. Upacara pembukaan pintu gereja menandakan, merestui anggota masyarakat adatnya memangku suatu tugas dalam Gereja. Sekaligus sebagai tanda bahwa kehadiran Gereja di tengah-tengah masyarakat adat diakui dan diterima.

Pastor Lintas bersama gambar karikatural dirinya. Foto: FB. 
“Labong Subang”, suatu mahkota adat dan tanda kebesaran yang dipakai oleh calon imam, menandakan suatu perubahan kedudukan dalam masyarakat. Dalam hal ini adat ikut serta dengan skaramen Imamat menerima tugas khusus dalam karya Kristus di tengah masyarakat pada umumnya, di lingkungan gereja khususnya.

Pada perarakan keluar gereja Imam baru mengenakan labong subang lagi. Ini menandakan, dalam menjalankan tugasnya seorang calon imm tetap selalu memperhatikan dan mengindahkan norma-norma serta adat yang hidup dalam masyarakat.

Tarian persembahan mengungkapkan hormat dan syukur kita kepada Allah yang memperkenankan Roti dan Anggur yang dalam Perayaan Ekaristi ini akan diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus sebagai santapan rohani bagi manusia.

Naik “Honda”
Juga dikisahkan, di antara tamu-tamu dari luar Keuskupan adalah Pastor Agus dari Lintang, kawan sekelas P. Zaharias Lintas yang ditahbiskan tahun lalu (1977), Pastor Rampai pastor pribumi dari Keuskupan Sintang, Pater Pasificus OFM Cap dari Keuskupan Agung Pontianak dan P. Djajasiswaja Vikjen KA Semarang. (Kelak, Pastor Agus menjadi Uskup Sintang, dan terakhir menerima mandate dari Vatican sebagai Uskup Agung Pontianak).

Sore harinya resepsi untuk para undangan khusus di Gedung Pancasila.

Pada 17 April 1978, keesokan harinya P. Zacharias Lintas Pr didampingi para pastor muda mempersembahkan misa konselebrasi yang dihadiri oleh para muda-mudi dan umat lainnya. Pada malam harinya diadakan ramah-tamah di Gedung ST untuk umat Katolik.

Manusia berdesakan hampir 800 orang. Dimeriahkan dengan band “Remaja ST” dan gamal dari masyarakat Dayak di Ketapang. Pelbagai nyanyian dan tarian disajikan dengan baik dan lancar.

Kemudian pada 28 April 1978, rombongan yang akan ikut P. Lintas ke Simpang Dua berangkat naik “Honda” ke Teluk Melano. Mereka yang ikut dalam rombongan antara lain: P. Yerun, P. Johan, Sr. Agneta, Sr. Celestina dan Hieronimus Godang. (HEP)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.