Sepucuk Surat untuk Mama di Hari Natal

Cerpen: Awa Indriani


SECARIK kertas saya raih dari buku catatan. Berbait-bait kalimat penuh cinta mulai saya goreskan di sana. 

Ilustrasi: shutterstock.com via gaya.tempo.co

Eh, di era satelit begini, masih adakah yang menulis surat seperti ini? Ketika pesan-pesan instan begitu mudahnya diketik dan dikirim kepada orang tercinta? Hmmm...


Bagi saya mungkin tahun ini beda dengan tahun sebelumnya. Suasana hati saat ingin menyambut pesta Natal.

 

Mungkin tahun sebelumnya saya sudah sibuk mempersiapkan oleh-oleh natal untuk dibawa pulang kampung. Tanda kasih sederhana yang saya peruntukkan bagi keponakan dan orangtua. 



Namun tahun, sudah berbeda sekali! 



Meski tetap sangat berharga. Inilah natal pertama bagi keluarga kecil kami. Buah hati mungil telah dititipkan Tuhan. Pelengkap kebahagiaan kami. 


Tapi, suasananya berbeda. Tidak bisa berkumpul dengan orang tua. Kami tinggal berjauhan. Sangat jauh. 


Saya sangat bahagia walaupun rasanya ada yang kurang. Mau menjenguk kampung kampung halaman, suasananya belumlah memungkinkan. 


Untuk sampai ke kampung orangtua saya, membutuhkan waktu tiga hari dari tempat saya tinggal sekarang. Belum lagi ini masa pandemi. Juga sulit mau ke mana-mana. 


Tidak mudah melewati batas batas antar kota atau pun kapupaten. Ada rasa takut juga karena memboyong serta si buah hati yang masih bayi.  


Dari tempat tinggalku sekarang, sulit untuk menjangkau kampung tempat tinggal orangtua. Harus melewati jalur sungai. Bermula dari kota kecamatan menuju desa tempat orangtua saya tinggal bakal mamakan waktu lima hingga enam jam menggunakan speedboat. 


Mengarungi sungai yang kadang arusnya kurang bersahabat. Kalau musim hujan, jalur sungainya sangat deras. 


Sebaliknya, kalau musim kemarau air sungai mengering. Orang-orang sangat sulit keluar masuk menuju desa mau pun pergi ke kota kecamatan. 


Kami memutuskan untuk natalan di kota ini saja saja...


Di kampung orangtua, sinyal seluler bagaikan barang mewah. Sangat sulit berkomunikasi satu sama lain. Saya memutuskan menulis surat, dan mengirimnya. Tidak sah rasanya, jika belum bercerita kepaa mama.


Ma... 


Lewat surat ini banyak yang ingin saya sampaikan terutama permohonan maaf karena tahun ini aku tidak bisa mengunjungi mama. Banyak juga keluh kesah tentang keluarga baru. Tapi mama jangan khawatir. Kami di sini baik baik saja. 


Aku merasa tidak nyaman tinggal di daerah orang. Tidak seperti tinggal di kampungku sendiri. Aku merasa menjadi orang asing. Meskipun pun aku sudah setahun tinggal disini, aku belum bisa bergaul dengan orang-orang di sini. Bahkan aku tidak punya teman. 


Tapi aku sangat bersyukur punya mertua yang begitu baik terhadap ku. Aku bahagia. Namun kebahagiaanku tertutup dengan air mata. 


Bahkan aku merasa diriku tidak berguna. Seperti anak kecil yang cengeng. Air mataku selalu ingin mengalir tanpa ada yang menyakitiku. Tanpa ada yang memarahiku. 


Aku selalu merasa sepi, Ma. Walau hari-hariku selalu ditemani sang buah hati. Ya, itu cucu mama. Mungkin karena aku sangat merindukan mama. 


Ma, waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa sekarang aku telah menjadi seorang ibu. Mampukah aku menjadi seorang ibu yang hebat seperti mama? 


Ingin sekali aku memeluk mama saat aku merasa sedih dan sepi. Ma, doakan aku supaya aku bisa menjadi seorang ibu yang hebat seperti mama. 


Aku akan selalu berdoa buat mama dan papa semoga sehat selalu dan di beri umur panjang oleh Tuhan.


Selamat natal ya ma, pa 


Salam rindu dari anakmu


Mungkin bagi orang zaman sekarang, tidak bisa dibayang, mau pulang kampung harus melewati jalur sungai. Tinggal di tempat yang tidak memiliki sinyal seluler. Juga internet. 


Bahkan listrik juga belum ada. Penduduk desa masih menggunakan pembangkit listrik tenaga surya sebagai alat penerang. 


Sukacita natal menghalau segala perasaaan sepi ini. Bayi kecilku, keluarga kecilku, dan kota ini. Ingatanku melayang pada kesederhanaan dan keterasingan keluarga kecil Nazareth. 


Aku harus bahagia. (HEP)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.