Sapo Caritas di Tanah Ape Meliko

Jaringan Caritas Indonesia bertemu di Palu, Sulawesi Tengah. Pertemuan selama empat hari itu untuk berbagi, berdiskusi, dan melihat langsung di lapangan terkait penanganan bencana. Jaringan Caritas Indonesia membangun 60 Sapo Caritas di Desa Ape Meliko. Berikut catatan Br. Hilarinus Tampajara, MTB yang hadir mewakili Caritas Keuskupan Agung Pontianak.

“Saya melihat dengan mata kepala sendiri menjelang magrib, tanah seperti di bolak balik, kami berlari ke lapangan desa, ada yang berlari tidak tentu arah, bahkan ada yang mengendarai motor dengan istrinya, lalu ditinggalkan begitu saja menyelamatkan diri menuju ke tempat yang aman, setelah sadar ia lalu mencari istrinya,” tutur Rosnah mengisahkan peristiwa gempa bumi dan likuifaksi yang menimpa Palu, Donggala, dan Poso pada tanggal 28 September 2018.

Selama beberapa hari Caritas Indonesia bersama seluruh Caritas Keuskupan di Indonesia melakukan pertemuan dan pembelajaran mengenai penangganan bencana skala nasional. Pertemuan ini dilaksanakan di Palu, Sulawesi Tengah dengan sharing dan diskusi bersama para pekerja kemanusiaan yang datang dari berbagai daerah (26-30/10/2021).

Pertemuan tahunan kali ini, lebih banyak membahas bagaimana upaya kerja sama berbagai pihak dalam penangganan bencana sesuai Protocol Caritas Internasional secara profesional tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Selain itu, dilakukan juga kunjungan lapangan sebagai upaya melihat bagaimana implementasi program rekonstruksi dan rehabilitasi yang dilakukan Caritas Indonesia dan Caritas Manado serta jaringannya.

Ketika peserta Learning Event Jaringan Caritas Indonesia melakukan kunjungan lapangan di Desa Ape Meliko, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, warga desa sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Di beberapa tempat terlihat ada warga masih melakukan pembangunan rumah hunian sementara.

Pembangunan rumah hunian sementara bagi warga terdampak bencana ini merupakan program rekontruksi dan rehabilitasi yang dilakukan Caritas Indonesia bersama jaringannya.


Dalam kunjungan lapangan ikut serta juga Mgr. Benedictus Rolly Untu, Uskup Manado, Mgr. Aloysius Sutrisnaatmadja, MSF-Ketua Pengawas Yayasan Karina-KWI, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ-Ketua Pengurus Yayasan Karina KWI, Pastor Ewaldus-Sekretaris Eksekutif KWI sekaligus Sekteratis Eksekutif Komisi PSE-KWI, RD Fredy Rante Taruk Direktur Caritas Indonesia (Karina KWI), RP. Eko Aldinato, O’Carm-Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan Perdamaian-Pastoral Migrant Perantau, RD. Kristiadji-Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan, Sr. Natalia, OP-Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan KWI/SGPP-KWI, serta Brigitta Imam Rahayu dan Siswanto sebagai anggota Yayasan Karina KWI.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Caritas Indonesia dan jaringannya yang telah membantu kami dan membangun 60 unit rumah hunian sementara (Sapo Caritas) yang sekarang sudah dapat dihuni,” ungkap Tokoh Adat Desa Ape Meliko di hadapan para peserta Learning Event. Hal senada juga diungkapkan oleh Sekretaris Kecamatan Sindue mewakili Camat dalam acara ramah tamah.

Fadilah yang baru tiga bulan menjabat Sekretaris Kecamatan mengungkapkan syukur dan terima kasih kepada Caritas yang merupakan lembaga Katolik, namun telah membantu warga Ape Meliko yang mayoritas beragama Islam untuk membangun rumah hunian sementara.

Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ ketika kunjungan lapangan ini juga melakukan blusukan dan menyapa warga yang mendapat bantuan hunian sementara. Ia juga melihat kualitas bangunan rumah dan kelayakannya dalam aspek kesehatan. Ia juga mengungkapkan rasa syukur bahwa warga yang dibantu dapat bangkit kembali menata kehidupannya.

“Caritas di Desa Ape Meliko ini membangun rumah hunian sementara yang agak terakhir karena kita fokus di tempat-tempat yang lebih parah terdampak bencana gempa bumi dan likuifaksi disertai tsunami,” tutur Yohanes Baskoro, Konsultan Program Rekonstruksi dan Rehabilitasi di Palu.


Dalam menentukan tempat untuk melakukan program rekonstruksi dan rehabilitasi, Caritas Indonesia bersama Caritas Manado melakukan assessment dengan salah satu kriteria bahwa di tempat tersebut belum disentuh bantuan dari lembaga pemerintah atau NGO.

“Memang di Desa Ape Meliko ini program rekonstruksi yang agak telat karena berbagai kendala yang kita hadapi, namun demikian bersyukurlah berkat kerja sama dengan masyarakat program ini berjalan dengan baik,” imbuh RD. Joy Derry, mantan Ketua Komisi PSE-Caritas Manado yang ikut terlibat langsung mengawal dari awal program tersebut.

“Caritas sangat peduli dengan kami. Caritas itu cinta kasih. Caritas tidak membedakan suku, agama, ras dan golongan dalam memberikan bantuan. Caritas benar-benar melayani kemanusiaan, hanya. Kami mewakili warga mengucapkan banyak terimakasih kepada Caritas,” ujar Mustahiq, Sekretaris Desa Ape Meliko.

Kunjungan lapangan yang diikuti para peserta dari seluruh Caritas Keuskupan di Indonesia untuk mengajak seluruh jaringan Caritas Indonesia melihat proses penanganan respon bencana berbasis komunitas dengan menguatkan manajerial, transparan, akutabel, kegotongroyongan yang melibatkan berbagai pihak.

Dalam refleksi atas kunjungan lapangan tersebut, Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF mengajak para peserta Learning Event agar bantuan-bantuan yang diberikan pada warga terdampak semakin menguatkan martabat penerimanya.

“Nilai kemanusiaan yang mesti dikedepankan agar orang yang terdampak sungguh merasakan kehadiran dan kebaikan Allah,” tegas Uskup Palangka Raya tersebut.[]

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.