IKN Nusantara Harus jadi Kota yang Ramah Lingkungan


Oleh: Fransiska Dena Lorenza

ANJUNGAN - Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), Komisi Keadilan dan Perdamaian Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP), Caritas dan SGPP (Sekretariat Gender Pemberdayaan Perempuan) menyelenggarakan pertemuan Regio Kalimantan di Rumah Retret St. John Paul II Anjongan pada 19-22 April 2022.

Pertemuan yang bertema “Bergerak Bersama Masyarakat Menuju Kalimantan Baru” ini untuk mengevaluasi sekaligus merespon isu-isu yang terjadi dalam masyarakat terhadap pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara ke Kalimantan.

Pertemuan ini terselenggara atas kerja sama Komisi PSE/KKP/Caritas/SGPP Keuskupan Regio Kalimantan dengan Keuskupan Agung Pontianak dan STKIP Pamane Talino Ngabang. Adapun para peserta yang dengan jumlah peserta 30 orang peserta berasal dari delapan Keuskupan yang ada di Regio Kalimantan, Keuskupan Tanjung Selor, Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Palangkaraya, Keuskupan Sintang, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Ketapang dan Keuskupan Agung Pontianak.


Dalam Ekaristi Pembukaan yang dipimpin Mgr. Agustinus Agus mengugkapkan, dalam melakukan pelayanan pada masyarakat, perlu memiliki nilai-nilai solidaritas,  subsidiaritas dan rendah hati.

“Untuk menuju wajah Kalimantan baru kita mesti dapat saling bekerjasama dan bersinergis,” kata Mgr Agus.

Pada pertemuan rutin ini juga menghadirkan para narasumber dari Sekretaris Komisi PSE KWI, RD. Ewaldus, Direktur Caritas Indonesia KWI, RD Fredy Rante Taruk, Sekretaris KKP-PMP KWI, RP. Aegidius Eko Aldilanta O’Carm, Sekretaris SGPP KWI, Sr. M. Natalia OP, dan Ahli Lingkungan Hidup dalam aspek ekonomi, Dr. Maria Ratnaningsih.

“Kita berkumpul di sini, akan melakukan evaluasi dan menangkap isu-isu strategis dalam beberapa tahun akhir ini terkait dengan pemindahan IKN Nusantara ke Kalimantan,” ujar Br. Kris Tampajara, MTB, Koordinator Komisi PSE Regio Kalimantan.

Untuk beberapa hari ke depan, akan melakukan evaluasi arah dasar Eko Pastoral Gerakan Kalimantan Baru yang merupakan Gerakan Bersama. Tujuan dari Arah dasar Kalimantan Baru adalah “Mempertahankan dan memperjuangkan keutuhan ciptaan dengan semangat injili dan nilai-nilai rumah Panjang untuk mencapai kesejahteraan bersama”.

Gerakan “Eko-Pastoral Laudato Si’ Menuju Kalimantan Baru” ini di rumuskan berangkat dari keprihatinan terhadap peristiwa yang dialami masyarakat lokal di Kalimantan yang menjadi korban dari perubahan dan kebijakan para konglomerasi nasional dan global.


Dalam pertemuan ini, juga diadakan Seminar Sehari dengan mengundang Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dengan tema “Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara”  yang diwakili oleh Dr. Ir. Chairil Abdini, M.Sc ( Staff Khusus Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepada Bappenas RI), dan Dr. Drs. Adrianus Asia Sidot sebagai pemateri. (20/4/2022).

“Ibukota Negara mesti menjadi kota yang ramah lingkungan dan berperadaban teknologi tinggi dengan tidak mengabaikan nilai-nilai kebhinekaan sebagai roh dari hidup berbagnsa dan bernegara kita,” ungkap Chairil Abdini.

Sedangkan Adrianus Asia Sidot, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan, yang mesti diprioritaskan untuk menyambut kehadiran IKN di Kalimantan adalah peningkatan sumberdaya manusia pada masyarakat lokal melalui pendidikan.

Seminar ini dihadiri oleh 125 orang peserta, yang berasal dari berbagai elemen msyarakat seperti; Ormas Katolik (PMKRI, WKRI, Pemuda Katolik, ISKA), Tarekat-tarekat/ordo religius yang ada di Keuskupan Agung Pontianak, Perguruan Tinggi STKIP Pamane Talino, STAKatN (Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri) dan Para sekretaris eksekutif Komisi PSE KWI, KKP-PMP KWI, Caritas Indonesia dan Sekretaris Gender Pemberdayaan Perempuan KWI.


Menurut Sekretaris Komisi PSE KWI, RD Ewaldus Pr, perumusan konsep “Eko-Pastoral Laudato Si’ Menuju Kalimantan Baru” adalah salah satu upaya pengarah yang masih perlu diwujudnyatakan dalam aksi-aksi yang melibatkan banyak pihak dan kiranya perlu mendapat dukungan luas dari berbagai element masyarakat.

Adapun beberapa strategi yang perlu dilakukan untuk mewujdunyatakan Gerakan Kalimantan Baru adalah peningkatan sumberdaya manusia, kaderisasi, animasi, sinergisitas yang semakin mendalam dengan mengambil peran dan keterlibatan lintas komisi dan caritas untuk program bersama/kolaborasi.

Selain itu perlu juga melakukan sosialisasi dengan cara publikasi melalui berbagai media sosial sehingga Kalimantan Baru menjadi bergaung dalam kehidupan masyarakat, khusus nya di Kalimantan.[]

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.