Berangkat ke Borneo Barat, Pasificus Bos Sampaikan Kata-kata yang Bikin Haru

Agustus 03, 2022
Last Updated

 


SEJAK 1896, umat Katolik di Singkawang dan Sejiram tanpa pelayanan dari imam. Pelayanan hanya diberikan oleh katekis Tshang Kang yang diangkat pada 1895. Umat yang dibaptis sangat merindukan pelayanan iman dari para pastor.

 

Kalimantan tak mudah ditaklukan. Medan yang berat membuat karya pewartaan Injil menjadi tak mudah. Orang-orang asing kerapkali masih dianggap sebagai penjajah, yang hendak merampas potensi alam dan kemerdekaan penduduk asli. Kendati sejak 1800-an, kelompok religius Katolik berupaya menyebarkan Injil kepada penghuni Borneo, hasilnya belum memuaskan. Akhirnya, para misionaris melihat bahwa upaya penyebaran iman Katolik kurang menggiurkan di tanah Borneo.

 

Pada 11 Februari 1905, semasa Paus Pius X – diangkat sebagai Paus pada 4 Agustus 1903 hingga 20 Agustus 1914 – di Roma mengeluarkan dekrit pembentukan Prefektur Apostolik Borneo Belanda. Paus menyerahkan pelayanan gereja seluruh Borneo-Belanda sebagai daerah misi kepada Ordo Kapusin Provinsi Belanda.

 

Baca Ini: Menguak Jejak Misi Gereja Katolik di Tanah Borneo

 

Pada 10 April 1905, Pater Pasificus Bos, yang saat itu menjabat sebagai Provinsial Kapusin Provinsi Belanda diangkat menjadi Prefektur Apostolik Borneo. Beberapa hari kemudian dipilih tiga orang pastor dan dua bruder Kapusin untuk menemani Bos menuju medan misi di Borneo.

 

Pada Jumat, 26 Mei 1905 di Roma, Pater Pasificus Bos beraudiensi dengan Sri Paus Pius X. Dalam pertemuan tersebut, Sri Paus Pius X merasa gembira karena para Kapusin Belanda rela mengambil bagian dalam karya misi di Borneo yang sangat berat. Bos kemudian menerima berkat khusus dari Paus Pius X dengan meletakkan tangan di atas kepala Pater Bos.

 

Paus merasa terharu dengan kerelaan Ordo Kapusin Belanda tersebut.

“Semoga benih injil segera ditaburkan di Borneo laksana biji sesawi yang kecil pada awalnya tetapi menjadi semakin tumbuh seperti pohon yang rindang,” kata Paus Pius X saat memberi berkat kepada Pater Bos.

 

Setelah semuanya siap, pada 16 Oktober 1905, lima misionaris Kapusin berangkat ke tanah misi Borneo. Kelima misionaris itu terdiri atas Pater Pasifikus Johanes Bos, Pater Eugenius Adr V. Disseldorp, Pater Camillus Frans Buil, Pater Beatus Josef Bayens, Bruder Wilhelmus Johan Verhulst, dan Bruder Theodoricus Wilh Van Lanen.




Saat hendak berpisah, Pastor Pasificus Bos mengungkapkan kata-kata yang mengharukan. Ini kata-kata yang disampaikan Bos sebelum berangkat ke tanah misi Borneo Barat.

 

“Anda semua, yang membaca kalimat-kalimat ini, kami mohon anda selalu ingat akan misi kami dalam doa-doa anda. Pekerjaan ini begitu berat, dan memulai karya ini begitu sulit. Berdoalah bukan hanya bagi misionaris-misionaris, tetapi terlebih untuk penghuni Borneo juga. Memohon pada Allah yang mahabaik, agar Dia mengutus Roh Kudus-Nya dalam hati mereka. Kami mungkin dapat melakukan segala-galanya yang merupakan kewajiban seorang misionaris, anda dapat membantu kami dan tinggal membantu dengan mengirim doa dan derma mu, tetapi akhir dari segala-galanya adalah; Tuhan harus beri rahmat-Nya dan kesuburan pada karya kami. Kami yakin, bahwa dengan berkat yang harus ada, dan dengan dukungan saudara-saudara kami seiman, pengutusan kami akan berhasil. Penyebaran Injil, yang sudah begitu banyak membahagiakan bangsa, akan juga membawa kesejahteraan dan berkat di tanah orang Dayak yang miskin. Pelajaran dari yang disalib, yang sudah begitu banyak penderitaan meringankan, juga akan membangkitkan mereka dari kesusahan. Bangsa-bangsa disana juga merupakan bagian dari satu kawanan, di mana Kristus adalah gembala.”

 

Setelah beberapa saat singgah di Batavia, Pater Pacificus Bos bersama Pater Eugenius, Bruder Wilhelmus dan Bruder Theodoricus tiba Singkawang pada 30 November 1905. Dalam perjalanan dari Batavia ke Singkawang para misionaris tersebut ditemani oleh Pater Schräder.

 

Saat tiba di Singkawang, mereka menjumpai sebuah bangunan gereja yang baru dibangun dalam keadaan bersih. Gereja ini memiliki luasnya 17 x 7 meter, yang terdiri atas sakristi dengan panjang enam meter. Dalam gereja terdapat sebuah meja altar yang cukup baik, tiga buah patung, dan gambar-gambar jalan salib tergantung. Benda-benda itu dibawa dari Buitenzorg setahun sebelumnya.

 

Artikel Selanjutnya: Vries Jumpa Jin Kon; Siapkan Lima Orang yang Mohon Dibaptis Anut Iman Katolik

 

 

Penulis: Br. Kris Tampajara MTB

Editor: Budi Atemba

Selengkapnya