Arina

Agustus 10, 2022
Last Updated


AKU mencintai Arina budak Tanjung Nipah. Cinta sesungguhnya,  lahir dari lubuk hati paling dalam.

Cintaku untuk Arina telah  lama bersemi sejak ia masih  SMA kelas tiga, melanjutkan kuliah kebidanan di Jakarta selama empat tahun. Usai kuliah Arina balik kampung, tinggal  bersama Long Said bapaknya dan dua adik lelaki di rumah paling besar dan mewah di Tanjung Nipah.

Arina tak lekas bekerja seperti umumnya anak-anak yang baru lulus dari perguruan tinggi atau jadi sarjana. Waktunya lebih banyak  di rumah. Jadilah kami sering bertemu. Mulanya sekadar  ngobrol biasa. Lama-lama, setiap kali ngobrol kurasakan ada getaran halus dalam dada, terlebih  sewaktu kami saling beradu pandang. Aku deg-degan. Tak tenang. Hari-hariku kemudian  ketika sedang apa, di mana saja pasti teringat Arina, selalu ada bayang wajahnya.

Aku resah jika Arina tak ada di rumahnya. Bertanya-tanya ia pergi ke mana. Kutelepon atau ku-WhatsApp. Ada rindu yang datang menggoda. Aih, apakah aku sedang jatuh cinta? beginikah rasanya...?!

Tak tahan dengan getaran rasa yang selalu menggetarkan dada ketika kami bersama,  kuberanikan diri mengungkapkannya. Aku sungguh  suka dengan Arina. Jatuh cinta! Aku ingin hidup dan menua bersamanya.

Mulanya Arina diam. Tak lama, ia  menyatakan hal yang sama. Ingin selalu bersamaku pula.  Yess! Aku dan Arina saling jatuh cinta. Aku girang bukan kepalang.

Arina tak ingin kami berpacaran. Untuk apa menjalin hubungan pribadi antara lelaki dan perempuan jika hanya  membuka pintu maksiat, biasa berduaan tanpa mahram (semua orang yang haram dinikahi karena sebab keturunan, sepersusuan dan perkawinan dalam syariat Islam). Janganlah. Tak usah! Arina ingin kami langsung menikah. Langkah pertama, cepatlah aku datang menemui sang bapak. Melamarnya. Mendengar keinginan Arina begitu, aku setuju.

Dua bulan lalu, malam setelah Isya terang-benderang karena cahaya bulan purnama datanglah aku ke rumah Arina menemui Long Said bapaknya.  Aku datang bersama  Usu Min adik emak yang bungsu dan seorang lelaki  teman akrab Usu Min namanya Pak Wijaya. Maksud kedatanganku disampaikan Usu Min hendak melamar Arina sebagai istriku.

Tahu maksud kedatanganku, Pak Long Said menolak tegas. Telunjuk kanannya bergerak lincah di depan   batang hidungku. Sepasang matanya menatap tajam penuh kebencian.  Suaranya yang  keras terdengar sampai jarak belasan meter.

“Kau lelaki tak tahu diri!  Tak mau berkaca. Melarat! Lulusan sekolah dasar, seorang pemanjat kelapa di perusahaanku lancang benar hendak melamar Arina. Kau tahu Arina anakku, Faisal?! Dia perempuan lulusan  perguruan tinggi di Jakarta, kelak punya pekerjaan yang menjanjikan. Sampai kapanpun aku tak  setuju, tak pernah mau menikahkan Arina anak kesayanganku dengan kau!” teriak  Pak Long Said membuang ludah.

Lelaki botak  berkumis tebal,  perut buncit itu jelas-jelas menghinaku di depan Usu Min dan Pak Wijaya, menggoreskan luka yang teramat dalam di hati. Sakit! Tubuhku bergetar tersulut emosi.

“Aku memang melarat, tetapi masih punya hati, punya harga diri! Aku terima semua penghinaan Pak Long.  Kelak akan kubuktikan ...!”  kataku ditukas Usu Min.

“Kita pulang, Faisal. Orang seperti ini kita tak usah beladen. Sombong!” katanya menepuk pundakku, mengajak keluar dari rumah Pak Long Said. Aku menurut. 

Kami  pulang tanpa pamit. Tak sempat lagi kusampaikan kepadanya bahwa aku memang melarat. Kelak akan kubuktikan, penghinaan yang telah kuterima jadi cambuk untuk hidup lebih baik.

Sebelum benar-benar pergi dari rumah Pak Long Said langkahku terhenti. Kutoleh ke belakang. Arina berteriak memanggil namaku,  menangis di ambang pintu lalu berlari mengejarku.

“Bang..! Aku ikut Bang Faisal,” katanya berurai air mata.

“Jangan! Tetaplah kau di sini, Arina.” cegahku.

“Aku ingin bersama Abang,” katanya lagi. Pak Long Said tak tinggal diam. Teriaknya menggelegar.

“Hei, Arina! Silakan kalau kau mau bersama lelaki melarat itu. Pergilah! Jangan pernah kembali ke rumah ini lagi!”

Arina membalik tubuhnya, berlari menuju pintu yang langsung dihempas dari dalam, seketika tertutup rapat. Arina menggedornya berkali-kali.  Pintu tak terbuka lagi. Arina berurai air mata, tubuhnya lemas, berlutut menatap pintu rumah.

“Bapak telah mengusirku, Bang. Aku tak punya siapa-siapa lagi,” suara perempuan berparas ayu itu menangis.

Aku menatap Usu Min yang menggeleng pelan tanda tak tahu harus bicara apa. Pak Wijaya  pun terdiam.

“Tunggulah. Bapakmu pasti membuka pintu,” kataku. Arina menggeleng.

“Bapak telah jelas mengusirku,” katanya lirih. “Malam ini aku tidur di mana, Bang?”

“Ke rumahku jak.”  ujar Pak Wijaya.

“Benar begitu, Bapak?” sambung Arina cepat, menengadah ke wajah Pak Wijaya.

“Ya, untuk malam ini jak sambil menunggu gimane sikap bapakmu. Kau bisa tidur dengan anak perempuanku yang bungsu,” kata Pak Wijaya lagi.

“Baiknya gitu’ jak dulu,  nanti kita cari solusi terbaik dari persoalan ini,” timpal Usu Min.

“Ya, Allah...! Terima kasih, Bapak,” ucap Arina girang, bangkit dari posisi berlutut, bergantian menyalami Pak Wijaya dan  Usu Min.

Baca Ini: Dentang Lonceng Angelus – Hanz E. Pramana

Malam itu Arina tidur di rumah Pak Wijaya, aku menginap di rumah  Usu Min.

Pagi pukul enam hawa di Tanjung Nipah masih sejuk benar sewaktu aku pergi ke rumah Arina. Niatku semula hendak bekerja seperti biasa, menjadi pemanjat kelapa di kebun milik Pak  Long Said tetapi aku ragu karena peristiwa semalam. Apakah Pak Long Said mau menerima kedatanganku?

Lelaki tua itu sedang di beranda ketika aku datang. Berdiri sarungan sambil berkacak pinggang.

“Pergi! Aku tak mau melihat mukamu, apa lagi bekerja  di sini!” usirnya keras.

“Baiklah. Terima kasih,” kataku tak bicara apa-apa,  melangkah pulang. Aku kesal. Merasa bodoh. Kenapa setelah menerima hinaan dari lelaki pengusaha kopra itu aku masih juga mau datang ke rumahnya, ingin kembali bekerja memanjat kelapa seperti biasa selama tujuh tahun.

Aku ke rumah Usu Min, Arina duduk santai di bilik tamu. Geleng-geleng kepala setelah mendengar ceritaku bertemu bapaknya.

“Aku jak diusir bapak, apa lagi kau, Bang.” katanya kesal.

“Aku nak bekerja seperti biasa  Aku kan butuh uang, Arina.” kilahku.

“Sudahlah. Lupakan! Sekarang bersiaplah. Kita berangkat ke Singkawang,”

“Ke Singkawang nak ngape?” tanyaku heran sambil menunjuk jaket jeans, kaca mata hitam dan sepatu sneaker putih yang dipakainya. “Ini ...?!”

“Kita nikah di sana,” katanya. “Ini semua punya anak Pak Wijaya kupinjam lok. Ayo cepat, kita  berangkat,”

Tanpa pikir panjang aku menuruti keinginan Arina. Setelah pamit dengan Pak Wijaya dan Usu Min kami benar-benar berangkat ke Singkawang dengan sebuah mobil sewa.

Baca Ini: Tamu Terakhir – E. Widiantoro

Singkawang sedang diguyur hujan deras ketika kami datang. Di sebuah rumah kawasan pusat kota aku dan Arina menemui seorang lelaki paruh baya. Kata Arina ia sahabat Pak Wijaya sejak masih muda sama-sama kuliah di Pontianak. Berkemeja batik biru corak bunga-bunga kecil lengan panjang dipadu celana panjang kain hitam. Rambutnya sebagian telah memutih disisir rapi.

“Aku berharap Bapak mau menikahkan kami,” kata Arina tanpa sungkan.

“Maaf aku bukan penghulu. Aku tak bisa menikahkan seseorang apa lagi tanpa berkas  persyaratan yang lengkap,” tolaknya.

“Jadi kami harus gimana, Pak?” tanyaku meminta sarannya. “Kami ingin bisa menikah secepatnya,”

“Kalo mendengar cerita dari Pak Wijaya sebaiknya kalian segera ke Pengadilan Agama mengajukan izin untuk menikah dengan status wali hakim karena bapak kandung sebagai wali nasab telah menjadi wali adhal, wali yang berkeberatan, tak mau menikahkan anak perempuannya dengan seorang lelaki,” katanya memberi saran. Aku mengangguk tanda mengerti. Pun Arina. Kami lantas pamit kembali ke Tanjung Nipah.

Berbekal persyaratan administrasi yang diperlukan kami  datang ke Pengadilan Agama menyampaikan berkas permohonan untuk  menikah dengan status wali hakim karena alasan wali adhal.

Setelah dua pekan  mengikuti semua proses administrasi dan persidangan,  terbitlah surat penetapan dari hakim  Pengadilan Agama yang mengizinkan kami menikah dengan status wali hakim. Dalam hal ini yang menikahkan kami adalah petugas pencatat nikah di Kantor Urusan Agama.

Kami tak bisa langsung menikah. Pagi-pagi Pak Long Said beserta beberapa lelaki anggota keluarganya datang ke Kantor Urusan Agama hendak membatalkan rencana pernikahanku dengan Arina. Alasannya, surat penetapan dari Pengadilan Agama belum memilik kekuatan hukum tetap. Masih ada waktu empat belas hari bagi pihak terkait untuk menolak atau menerima penetapan itu.

Pak Long Said sebagai bapak kandung  dari Arina  menolak penetapan hakim Pengadilan Agama dan mengajukan keberatan. Sikap Pak Long Said begitu, petugas di Kantor Urusan Agama pun setuju.

Pak Long Said datang ke Pengadilan Agama mengurus perihal keberatannya atas penetapan hakim dan langsung diproses.

Tak sampai dua  pekan,  putusan hakim pun terbit. Isinya, menolak keberatan dari Pak Long Said. Alasannya tak mau menerima aku sebagai menantu karena berasal dari keluarga miskin dan tak berpendidikan bukanlah pertimbangan hukum syar’i melainkan karena subyektifitas  pendapat pribadi. Pak Long Said  pun harus membayar biaya perkara sebesar dua ratus tujuh puluh ribu rupiah.

Aku dan Arina berucap syukur, kami tetap bisa menikah. Jelang acara pernikahan, emakku dari  Pontianak datang ke rumah Usu Min bersama perempuan  sebaya Arina, namanya Galuh. Belum lama tiba, emak mengajak  Usu Min dan istrinya, Galuh, aku dan Arina duduk berkumpul di bilik tamu.

“Faisal, menikahlah dengan Galuh. Emak ingin kalian menjadi pasangan suami-istri yang tinggal bersama emak di Pontianak. Setelah menikah kalian bisa mengurus tujuh rumah bakso punya emak; dua di Siantan, dua di Sungai Jawi, satu di Jeruju, Parit Tokaya dan Kota Baru. Biarlah emak istirahat sambil mengumpulkan bekal untuk kelak hidup di alam akhirat,” kata emak menatap aku dan Galuh bergantian.

“Aku hendak menikahi Arina, Mak. Bukan Galuh,” kataku sekilas memandang Galuh yang duduk dekat emak.

“Arina anak Long Said?” tanya emak menatap Arina. “Kau anak Long Said?”

“Ya, Mak.” Arina mengangguk pelan.

“Kapan kalian menikah?” suara emak lagi.

“Besok,” ujarku. Emak diam. Batuk-batuk. Telapak tangan kanannya memegang dada kiri.

“Batalkan!” kata emak tegas.

“Mak...!” kataku tercekat. Arina menatap emak dan menangis. Sebentar kemudian ia keluar dari rumah Usu Min. Aku berdiri hendak mengejar Arina.

“Faisal, duduk!” perintah emak. Aku menurut. “Kau tak boleh menikah dengan Arina.”

“Ngape, Mak? Ngapee...?! Aku mencintai Arina, Mak. Aku tak mau berpisah dengan dia.” kataku menahan emosi yang seketika  meluap.

Emak menangis. Lama-lama tangisnya makin keras. Kedua bahunya yang tertutup jilbab biru terguncang-guncang. O, kenapa emak gitu’?

Tangis emak mereda. Diusapnya wajah dengan kertas tissu dari tangan Galuh yang mengambilnya di atas meja tamu.

“Astagfirullah...! Ya, Allah! Semua ini karena salah emak yang selalu diam menyimpan dendam, kebencian dan sakit hati.” ujar emak, suaranya bergetar.

“Ngape ngomong gitu’, Mak? Maksud Emak apa?” desakku penasaran,  seketika disergap firasat buruk. Jangan-jangan aku dan Arina ...! Ah, jika benar begitu, sama saja dengan alur drama televisi Indonesia. Akhir ceritanya mudah ditebak!

“Pak Long Said tu sebenarnya  bapakmu, Nak,” ujar emak. Nah, naahh ya, Rabb firasatku ternyata benar! Emak hendak bilang aku dan Arina sebenarnya bersaudara.

“Gimane bisa gitu’, Mak?” tanyaku meminta penjelasan emak. “Bukankah dari kecil aku di sini bersama Usu Min? Ngape aku ndak tinggal dengan Long Said bapakku sorang?”

Emak membuka lipatan kertas putih dari dalam tas kecil yang dibawanya, foto kopi kartu keluarga yang kumiliki juga hanya  mencantumkan nama emak sebagai kepala keluarga. Emak membuka cerita;

“Dua puluh tujuh tahun lalu emak dan Long Said menjalin hubungan dan menikah, Faisal. Belum lama jadi suami emak,  diam-diam Long Said menikahi perempuan lain yang menjadi emaknya Arina. Emak tak mau dimadu.  Emak yang baru hamil satu bulan marah, sakit hati dan benci dengan Long Said lantas memilih pergi ke Pontianak. Setelah kau berumur dua tahun emak datang ke sini  menitipkan kau same Usu Min yang baru datang setelah bertahun-tahun jadi pelaut. Dia tak pernah tahu apa-apa soal emak dan Long Said. Mungkin Long Said lupa atau sengaja lupa dan tak mau mengakui jika kau anaknya,”

“Jadi Mak,  aku dan Arina ...?!” tanyaku hendak mendengar langsung dari mulut emak jika aku dan Arina benar-benar bersaudara. Emak diam. Wajahnya muram.

E. Widiantoro – dari Buku Dentang Lonceng Angelus

Artikel Lain: Tamu Terakhir dalam Gawai Sastra Minggu Sore

Selengkapnya