Bruder Pendidik dari Huijbergen Membantu di Sekolah Nyarumkop

Agustus 18, 2022
Last Updated

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja untuk Kalimantan]

SELAIN sekolah dasar, Nyarumkop mesti memiliki sekolah menengah. Untuk mewujudkan ide tersebut, pada 21 Januari 1948, Para Bruder Maria Tak Bernoda (MTB) diminta untuk membantu pendidikan di Nyarumkop. Pada 2 Juni 1948, Bruder Gonzaga MTB tiba di Nyarumkop untuk mencari informasi terkait pengajaran di Opleiding Voor Volksschool-Onderwijzer (OVVO) dan sekolah dasar. Gonzaga juga bersedia memberikan kursus untuk murid yang mau mengambil ijazah guru, yang lebih tinggi.

Pada 10 Juli 1948, Bruder Gonzaga diangkat menjadi direktur OVVO. Saat itu, pendidikan di Nyarumkop resmi dikelola pimpinan Bruder-bruder MTB. “Sangat memungkinkan bagi kaum muda Dayak untuk mendapat pendidikan yang berkualitas,” tulis Pastor Leo De Jong dalam Borneo Almanak.

Tahun ajaran baru sekolah dimulai terdapat 371 murid untuk SD, dengan 152 orang tinggal di asrama. Sedangkan, OVVO memulai dengan 28 siswa, yang terdiri atas 20 pria dan 8 perempuan. Semua siswa lulus tahun 1950. Pada Agustus 1949 dibuka OVVO angkatan kedua dengan 32 calon siswa. Sementara itu, Agustus 1950 dibuka juga Sekolah Guru Atas (SGA) dengan 30 siswa, sedangkan SD dengan 403 murid.

Pada 11 Desember 1947, J. Saman diangkat menjadi kepala sekolah Rakyat (SR). Terjadi perubahan materi ajar, yakni pada kelas 1,2, dan 3, tidak ada lagi mata pelajaran bahasa Arab. Hal ini diusulkan kepada Tuan Duisterhof di Batavia karena situasi khusus di Nyarumkop.

Pada 31 Desember 1947 usul itu disetujui oleh Batavia dengan catatan. Beslit atau surat keputusan dari Batavia dengan nomor 28933/B mengenai sekolah dan asrama di Nyarumkop sebagai berikut:

  1. Sekolah Rakyat enam-kelas dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa harian hendak dianggap sebagai sekolah-pilot (sekolah percontohan)
  2. Kursus OVVO (Opleiding Voor Volksschool-Onderwijzer) kategori 4 di Nyarumkop harus dianggap sebagai bagian atas dari tipe sekolah seperti disebut pada point 1.

Walaupun tidak semua permohonan terpenuhi, namun dengan beslit atau surat keputusan itu masa depan dari Persekolahan Katolik Nyarumkop telah diselamatkan.

Baca Ini: Masa Harum Semerbak Nyarumkop di Tanah Borneo

Bulan Mei 1947, CMB. (biro pusat hal-hal misi) di Batavia telah memberita­hu pada pengurus misi di Nyarumkop. CMB mendorong dibangun tipe sekolah baru, yang disebut SMP dengan jenjang pendidikan selama tiga tahun. SMP akan menerima anak-anak tamatan sekolah rakyat (SR). Ini dimaksudkan agar murid yang tidak ingin menjadi guru bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, bahkan masuk perguruan tinggi.

Di sekolah perempuan, Suster Veridiana diganti oleh guru Nungkat. Sedangkan Suster Rizzeria diganti oleh guru Teres Lohok. Suster Rizzeria tetap tinggal di asrama perempuan. Pada 1 Juli 1948, I. Kaping, guru OVVO diangkat oleh pemerintah menjadi Inspek­tur Sekolah Pemerintah. Misi sebenarnya berat melepaskan Kaping, tetapi juga tidak mau menghalangi promosinya. 

Pada 10 Juli 1948, Bruder Gonzaga MTB diangkat menjadi Direktur OVVO yang baru. Ia mulai berkarya bulan Agustus dengan 32 murid. Di Sekolah Rakyat, waktu itu ada 371 murid, 152 dari mereka tinggal di asrama. Kemudian diputuskan agar pada 1950 baru akan dimulai dengan SMP. Gonzaga diminta memperluas lagi satu ruangan dalam sekolah perempuan, khusus untuk semua calon guru wanita.

Pada 1 Januari 1950, segitiga antara gedung gereja, jalan raya, dan rumah Pak Onga diputuskan sebagai lahan untuk pembangunan SMP. Sedangkan di belakang pastoran akan dibangun gedung seminari menengah. Kedua gedung tersebut akan dibangun oleh sekolah pertukangan.

Para bruder MTB yang ditugaskan di Nyarumkop antara lain: Bruder Gonzaga MTB dan Bruder Bernulfus MTB (kelak menjadi pionir berdirinya SMA Nomor 1 Pontianak). Bruder Bernulfus tiba di Nyarumkop pada tanggal 19 Maret 1950. Ia sementara menetap di pastoran. Kemudian diputuskan agar gedung samping pastoran dibongkar dan ditambah kamar-kamar yang lebih besar. Bernulfus kemudian mengganti Gonzaga sebagai pemimpin OVVO, yang sementara itu diganti dengan nama SGB, bagian atas bernama SGA. Sedangkan Gonzaga menjadi pemimpin SMP Timonong.

Pendidikan spiritual di Nyarumkop dinilai cukup baik. Pada Mei 1950, lima murid yang mengambil ijazah OVVO atau SGB mendaftarkan diri untuk seminari. Kemudian ada lima perempuan yang ingin masuk suster di Pontianak. Tonny Daros (Suster Serafin) masuk Suster Slot (Kapusines) di biara Providentia. Hal ini menunjukkan ada buah-buah yang mulai dapat dipetik dari Persekolahan Nyarumkop untuk pemuda dan pemudi Dayak menentukan masa depannya yang lebih baik.

Baca Ini: Villa Suster Veghel Berubah Menjadi Sekolah bagi Perempuan Dayak

Pada Mei 1951, gedung SMP yang baru dibangun sebagian sudah selesai. Kelas pertama dapat mulai di bawah pimpinan Bruder Gonzaga. Pembangunan seminari juga sudah dimulai. Lapangan seminari harus diratakan. Jadi 800 meter kubik tanah harus dipin­dahkan. Semua itu terjadi di bawah pengawasan J. Saman, murid, dan siswa, juga orang-orang kampung sekitar Nyarumkop. Semua mendapat tugas pada waktu tertentu.

Bulan Agustus 1951, sebagian dari seminari telah didirikan. Tiga bulan lagi sayap pertama akan selesai. Sayap kedua akan dibangun dalam tahun 1952. Program seminari sesuai dengan program negara dan sesudah tiga tahun akan ikut program SMA negara, dengan tambahan bahasa Latin dan bahasa Belanda.

Sekolah untuk perempuan dimulai di kelas VII dengan ajaran menggunting dan menjahit sembari juga diberikan beberapa mata pelajaran yang penting. Tujuan dari pelajaran menggunting dan menjahit tersebut agar dapat dimulai juga dengan suatu Sekolah Kepandaian Puteri (SKP).

Pada 12 Desember 1951, Sr Laurenza dari Pontianak datang ke Nyarumkop untuk menjadi Kepala SKP. Walau belum resmi, hasil didikan para suster tidak mengecewakan. Sepuluh anak perempuan Dayak waktu itu yang disiapkan Singkawang untuk menjadi suster dari Kongregasi Veghel di Pontianak, semua lulusan dari Nyarum­kop.  

Pada 6 Januari 1952, gedung seminari yang telah selesai dibangun diberkati secara resmi dengan Ekaristi Pontifical oleh Mgr Tarcisius van Valenberg. Sedangkan pemberkatan gedung dilakukan oleh Uskup Sintang, Mgr L. van Kessel SMM. Dalam pendidikan di seminari, semua  pelajaran yang tidak diperoleh pada mata pelajaran di SMP diberikan oleh Pastor Canutus dan Noel.

Pastor Honorius tidak terpilih lagi sebagai Superior Regularis. Ia kemudian diangkat sebagai direktur pertama seminari Nyarumkop. Pada 21 Novevmber 1952, selesai dibangun empat ruang kelas untuk SMP dan SGB. Pekerjaan yang berikut membangun asrama lengkap untuk SMP atau SGB.

Pada 1952, empat bruder MTB tinggal di Pastoran Nyarumkop. Kongregasi MTB bersedia membantu Nyarumkop, tetapi harus memikirkan sekolah-sekolah di Pontianak dan Singkawang. Antara lain mengurus satu-satunya SMA di Kalimantan Barat (sekarang SMA Negeri 1 Pontianak).

Baca Ini: Prefek Bos Datang; Warga Panik, Anak-anak Sembunyi di Balik Pintu

Akhir 1952, dibuat rencana untuk pembangunan bruderan di Nyarumkop. Pada 16 Februari 1953, sebagian gedung bruderan selesai dibangun. Pada 16 Oktober 1953, rumah bruderan MTB di Nyarumkop yang masih dalam upaya penyelesaian sudah mulai ditempati oleh para bruder. Rumah tersebut, benar-benar selesai dibangun pada tahun 1954. Namun, pada 1981, rumah Bruder MTB di Nyarumkop ditutup dan dikembalikan ke Keuskupan Agung Pontianak.

Para Bruder MTB memang berprofesi sebagai tenaga pendidik dan pengajar. Mereka disiapkan dari awal untuk menjadi guru dan pembina asrama. Namun untuk di Nyarumkop tidak mudah bagi mereka untuk mengajar dalam bahasa Indonesia. Mereka tidak didik untuk belajar bahasa Indonesia. Tetapi umumnya, mereka menjadi pengajar yang baik sekali.

Catatan Pater Martinus pada Borneo Almanak:

"Pendidikan di Nyarumkop telah berkembang dalam sepuluh tahun sebagai pusat perseko­lahan yang berpengaruh di seluruh Kalimantan Barat setelah kemerdekaan Indoensia. Mgr Van Valenberg mencari jalan sehingga seluruh pusat pendidikan itu dapat diserah­kan ke dalam tangan tenaga-tenaga yang berkualitas menga­jar. Tentu­lah beliau mendekati Kongregasi MTB. Saat nyata agak cocok sebab rumah bruderan di Nyarumkop sudah mulai dihuni dalam Januari 1954."

Karena itu Mgr. Valemberg mengusulkan kepada Bruder Clemens, MTB sebagai Pemimpin Umum MTB, agar persekolahan dengan asrama-asrama, tahap demi tahap dapat diambil-alih, entah seluruh kompleks, entah sebagiannya. Usul itu dipertimbangkan dan dirundingkan oleh kedua pihak. Pada 22 April 1954, Pemimpin Umum MTB memberikan jawaban sebagai berikut:

“Kongregasi Bruder MTB dalam masa dekat tidak mampu mengirim bruder-bruder untuk ditempatkan di sekolah-sekolah dan asrama-asrama Nyarumkop, karena tenaga pengajar berijazah tinggi masih kurang, apalagi karena mereka harus menga­jar dalam bahasa Indonesia. Juga penyerahan sebagian Nyarumkop pada saat ini tak dapat kami kabulkan, hanya secara insidentil para bruder MTB dapat memberikan bantuan tenaga.”

Jawaban tersebut mengecewakan Mgr. Van Valenberg dan kolega. Valenberg berharap beberapa tenaga Kapusin dapat dilepaskan dari Nyarumkop untuk karya di tempat lain. Hal itu makin terasa perlu karena visa untuk masuk Indonesia agak susah diperoleh, termasuk yang dialami bruder-bruder MTB, sehingga sulit mendapat misionaris baru.

Dalam periode 10 tahun sesudah perang, Nyarumkop telah mencapai tahap pendidikan yang baik, bahkan melebihkannya. Sebab Nyarumkop telah merupakan palungan pendidikan bagi anak-anak menjadi kader di bidang spiritual, kultural, dan sosial khusus bagi orang-orang Dayak di Borneo Barat.   

Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB           Editor: Budi Atemba

Artikel Lain: Sekolah Pelanjau Ditutup, Misi Pendidikan Pindah ke Nyarumkop

Selengkapnya