Buka Stasi Temiang, Pastor Beatus Bertemu Panembahan Landak

Agustus 31, 2022
Last Updated

Kendati Landak termasuk wilayah pesisir Borneo bagian Barat, para misionaris belum memikirkan untuk membuka stasi. Mereka mengabaikan pelayanan bagi orang-orang Dayak di Landak, yang masuk wilayah Onderafdeling Landak tersebut. Kala itu, Landak masih bisa dijangkau oleh misionaris dari Stasi Singkawang atau Nyarumkop.

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]

SEBENARNYA misionaris di Singkawang sudah berinteraksi dengan pekerja dari Landak. Orang Dayak dari Landak mendapat kesan yang baik di mata misionaris. Selain berjumpa dengan pekerja dari Landak, para misionaris juga kerap bertemu dengan orang Dayak dari Landak yang berobat ke rumah sakit Singkawang. Hal ini dimungkinkan karena ruas jalan sudah dibuka oleh pemerintah.

Dari perjumpaan itu, para misionaris tergugah untuk membuka stasi di wilayah Landak. Pada 1927, Bruder-bruder MTB berencana untuk berlibur ke daerah Landak. Mereka meminta ada pastor yang ikut rombongan para bruder itu. Pada 7 Agustus 1927 berangkat empat Bruder MTB dengan didampingi Pastor Beatus menuju ke wilayah Landak. Tujuan para bruder MTB melakukan perjalanan ini pertama-tama untuk liburan. Kedua, karena para misionaris belum pernah secara langsung ke daerah Landak dan tentu juga untuk menjajaki pembukaan stasi baru di daerah Landak tersebut. Perjalanan para Bruder MTB dengan Pastor Beatus tersebut menggunakan sebuah mobil. Mereka berangkat dari Singkawang menuju Bengkayang dan melintasi tikungan Gunung Pendaring yang sangat curam

Setelah sampai di Bengkayang, mereka terus menuju ke daerah Landak. Dalam perjalanan, mereka seringkali menemukan kondisi orang-orang kampong memikul berbagai barang untuk keperluan hidupnya. Pada malam hari, pada hari tersebut, mereka sudah berada di onderafdeling Landak. Mereka bermalam di daerah Tikalong. Daerah ini tampak sangat subur dan juga banyak penduduknya. Selama perjalanan pertama kali ini, mereka mengunjungi kurang lebih 22 kampung dan berinteraksi dengan masyarakat.

Setelah sembilan hari, pada 16 Agustus 1927, mereka kembali ke Singkawang. Kesan selama dalam perjalanan ke Onderafdeling Landak memberi pengalaman positif. Kala itu jalan di daerah Landak sudah dibuka, hanya sungai-sungai masih belum dibangun jembatan. Tentu dengan kondisi jalan dan jembatan demikian sekiranya sudah dibangun, maka tidak menutup kemungkinan dengan segera misi akan membuka stasi juga di daerah Landak, hanya belum tahu letak tempat stasi yang akan dibuka.

Baca Ini: Stasi Bika Nazareth Dibuka, Warga Minta Supaya Ada Pastor

Dari pengalaman perjalanan bersama Para Bruder MTB tersebut, Pastor Beatus melaporkan hasil pengamatannya kepada Vikaris Mgr. Pasificus Bos di Pontianak. Setelah menerima laporan, Mgr. Pasificus Bos, menugaskan Pastor Beatus untuk berunding dengan Panembahan Landak untuk maksud misi. Pada 27 November 1927, Pastor Beatus melakukan perjalanan kembali ke daerah Landak untuk bertemu dengan Panembahan Landak yang berkediaman di Ngabang sebagai Ibu Kota Landak. Pastor Beatus ditemani oleh Marcellinus Rengkat, seorang Dayak yang menjadi perawat di Rumah Sakit Singkawang.

Dalam perjalanan ini, mereka menggunakan mobil. Ketika menemukan jalan yang jelek harus berhati-hati. Terjadi longsor menutup jalan ke arah Darit, mobil itu hanya sampai di Kampung Sayung yang sebagian besar penduduknya orang Tionghoa. Pada hari itu juga mereka tidak dapat meneruskan perjalanan dan bermalam di Kampung Sayung. Pada keesokan hari, mereka meninggalkan Kampung Sayung sebelum matahari bersinar untuk meneruskan perjalanan. Pukul setengah dua belas siang, mereka sampai di Kampung Untang. Mereka istirahat untuk makan siang.

Selama tiga hari dan setiap hari berjalan kurang lebih lima jam, mereka tiba di Kota Ngabang pada 1 Desember 1927. Setiap singgah di kampung-kampung, sebelum berangkat Pastor Beatus dan Pak Rengkat, selalu menbagikan obat bagi orang-orang yang membutuhkan. Mereka juga membagikan manik-manik untuk kaum perempuan dan gadis-gadis.

Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba

Artikel Lain: Stasi Bika Nazareth, Pastor Ignatius Diberi Kehormatan Duduk di Atas Gong Tembaga

Selengkapnya