Datangkan Guru dari Manado, Bangun Asrama untuk Menampung Anak Sekolah

Agustus 15, 2022
Last Updated

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]

PREFEK Bos memberi tugas kepada Pastor Beatus untuk mencari lahan yang cocok untuk memulai karya misi di Nyarumkop. Pada 14 Juli 1916 diputuskan untuk membuka stasi di Nyarumkop. Selanjutnya, Prefek Bos memberikan tugas kepada Pastor Marcellus di Nyarumkop yang tiba tanggal 3 September 1916. Pastor Marcellus untuk sementara tinggal di gubuk.

Pada 27 September 1916, Pastor Marcellus mulai melakukan survei lahan yang akan jadi lokasi gedung pastoran sementara dan sekolah darurat. Pada 30 Oktober 1916, Prefek Bos membeli sebidang tanah yang terletak di pinggir jalan raya antara Singkawang menuju Bengkayang. Tanah itu Tauke Sembah. Prefek membelinya melalui kepala kampung bernama Mubu. Mereka menyerahkan lahan seluas kurang lebih satu kilometer persegi.

Pada 27 Desember 1916, Prefek Bos mengutus Bruder Timoteus untuk membantu Pastor Marcellus di Nyarumkop. Bruder Timoteus diminta mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan pada masa-masa awal karya misi di stasi tersebut. Satu tahun kemudian, gedung-gedung di Nyarumkop sudah dibangun. Mereka juga membeli rumah seseorang di kampung Patengahan, yang dibongkar dan dibangun kembali untuk bangunan pastoran.

Nyarumkop sebagai Pusat Pendidikan

Sementara itu, Prefek Bos mendatangkan seorang guru dari Manado, yang bernama Tobias Ngenget dengan isteri dan 4 anaknya. Pada 12 Februari 1917, sekolah Nyarumkop sudah dibuka dengan menerima 15 murid. Pada 16 Februari 1917, sudah ada 33 anak yang sekolah. Mereka berasal dari luar Nyarumkop. Kendati sudah mulai pada 1917, baru 16 April 1918, Prefek Bos secara resmi mengangkat Pastor Marcellus sebagai pastor stasi Nyarumkop.

Menurut Pastor Leo De Jong – dalam buku Borneo Almanak, karya misi awal di Nyarumkop selain membangun gereja, pastoran dan sekolah, mereka juga memikirkan keperluan air bersih. Untuk itu perlu mencari persediaan air dari bukit yang menyedot perhatian dan tenaga dari  Bruder Timoteus. Selain itu, untuk upaya kemandirian finansial, mereka menanam karet dan kopi. Hal ini merupakan dampak dari perang dunia pertama.

Baca Ini: Prefek Bos Datang; Warga Panik, Anak-anak Sembunyi di Balik Pintu

Selain di Nyarumkop, misi juga membuka sekolah di Sibale untuk anak-anak Dayak yang ada di sekitar kampung tersebut. Pastor Beatus dan Pastor Marcellus men­gunjungi beberapa kampung di sekitar Sibale. Mereka kemudian membeli sebidang tanah untuk sekolah di Sibale.

Pada 6 Februari 1918, sekolah di Sibale dibangun. Tiga bulan kemudian, pada 14 April 1918, telah menerima 28 anak yang ingin sekolah. Pada 21 Maret 1921, pertama kalinya, 7 orang perempuan Dayak datang ke sekolah Nyarumkop untuk belajar agama Katolik. Pada Mei 1921, mulai dibangun asrama untuk anak-anak. Hal ini agar sekolah mengikuti standar seperti di Belanda.

Pada 8 Mei 1922, Pastor Egbertus diputuskan untuk memimpin Sekolah Standard yang hendak didirikan di Nyarumkop. Sekolah tersebut akan dibuka pada 26 Juni 1922 dengan 5 orang siswa, sedangkan Sekolah Rakyat dengan jumlah  51 orang anak. Dari jumlah itu, sebanyak 21 orang tinggal di asrama.

Pada 26 Juni 1922, Guru Toelangi diangkat menjadi Kepala Standaardschool. Kemudian, pada 1 Juli 1922, mulai membuka sekolah Standaardschool. Sekolah itu hanya menerima beberapa orang murid karena dana untuk misi sudah habis. Murid yang diterima dari jauh, terdiri atas 6 orang dari Sejiram, 3 orang dari Benua Martinus, dan 1 orang dari Laham. Dengan demikian terpaksa asrama dibuka kembali untuk mereka.

Baca Ini: Sekolah Pelanjau Ditutup, Misi Pendidikan Pindah ke Nyarumkop

Beberapa murid di Sejiram telah mengikuti Sekolah Guru, di bawah pimpinan Guru Winokan, dilihat mampu mengikuti ujian di hadapan schoolopziener di Singkawang. Mereka dinyatakan lulus sebagai guru pembantu. Guru pembantu ini mengganti mantan murid dari Pelanjau yang telah berperan sebagai guru pembantu di Pajintan, Sibale, dan Tiang.

Pada 23 November 1922, datang Hendrik Bendow, seorang Manado, guru dari Nor­maal-school di Tomohon. Ia mengganti guru Toelangi yang diberi kesempatan untuk menyelesaikan studinya di Tomohon. Tenaga guru bertambah, maka dimulai suatu kursus di Nyarumkop untuk siswa kelas 5 yang berlangsung selama tiga tahun. Kursus itu diberikan nama CVO (Cursus Volksschool-Onderwijzer).

Siswa-siswa yang ikut program itu diberi nama kursis. Pada akhir kursus, siswa harus menghadap schoolopziener Singkawang atau seorang utusan Kantor Inspeksi Pendidikan Pontianak dan mengadakan ujian terakhir supaya memperoleh Ijazah Guru. Kemudian yang lulus dapat diangkat sebagai kepala sekolah rakyat selama tiga tahun.

Selain pendidikan dan pengetahuan, para misionaris juga memikirkan perkembangan iman anak-anak agar menjadi manusia yang berkepribadian baik secara pengetahuan dan iman. Maka dibangun gereja dengan ukuran 28 x 7 meter, dengan menara yang tinggi. Pembangunan ini merupakan buah karya dari  Bruder Timoteus. Pada 12 Oktober 1922, gereja tersebut diberkati dan dapat digunakan. Sedangkan Standaardschool diber­ka­ti oleh Prefek Bos pada 20 Agustus 1923.

Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB                     Editor: Budi Atemba

 

Artikel Terkait: Tak Ada Orang Dayak, Karya Misi Cabut dari Long Iram

Selengkapnya