Dentang Lonceng Angelus

Agustus 08, 2022
Last Updated


HAMPIR pukul enam sore. Perapian di samping rumah kayu itu seperti tarian di dalam gelap. Pepohonan yang menjulang mempercepat malam. Tak ada sesiapa di kawasan ini. Sebuah rumah kayu, sehamparan kebun, sungai kecil, dan kandang ternak.

Di pojok ruangan, salib kecil dan lilin terlihat samar. Bertahta di meja kayu dengan taplak putih. Kitab Suci dan buku doa. Juga sebotol Air Kudus, dengan setangkai palma yang sudah mengering tertancap di atasnya.

Suara lonceng berdentang halus dari smartphone. Lelaki itu pun menyalakan lilin. Lalu duduk bersimpuh. Membuat tanda salib. Samar berpadu suara desau angin, dia berucap:

"Angelus Domini nuntiavit ariae et concepit de Spiritu Sancto. Ave Maria, gratia plena...."

***

Jauh dari hutan kecil itu, malam merangkak seperti biasa. Beberapa orang muda masih bertahan di sebuah kantor kecil. Tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Ada yang membolak-balik berkas. Ada yang berkutat dengan komputer. Uap kopi mengepul, bercampur dengan sejuknya AC.

Office boy masuk ke ruangan, membawa makanan. Masing-masing dalam mangkuk dengan asap mengepul.

"Abang, Kakak, tadi Bapak ada nelpon saya," ucap office boy.

Perkataannya membuat tiga orang dalam ruangan itu menghentikan kegiatan. Serempak menoleh. Pandangan mereka penuh tanya. Sang office boy pun paham.

"Silakan makan dulu mumpung masih hangat. Nanti saya sampaikan pesan Bapak."

Baca Ini: Tamu Terakhir - Cerpen E. Widiantoro

Di simpang empat Tanjung Raya 2, kerumunan massa belum menampakkan akan bubar. Teriakan bernada tinggi membahana penuh emosi. Beberapa orang membakar ban mobil di tengah jalan. Akses ke arah jembatan tertutup kerumunan orang. Polisi bersenjata laras panjang membuat blokade di seberang sana.

"Kau ada di lokasi, Ebo?" suara lelaki itu melalui sambungan telepon.

"Iya Om, suasana belum kondusif," Ebo menjawab dengan suara agak gemetar.

Beberapa kali dia harus menyingkir, ketika teriakan massa terdengar riuh.

"Kembali ke kantor sekarang. Ada pesanku yang sudah kusampaikan lewat Evan."

Ebo bergerak perlahan. Menjauh dari keramaian. Berjalan sambil matanya mengawasi orang-orang yang membawa kayu, bahkan senjata tajam.

Suara tembakan di kejauhan mempercepat langkahnya. Sayup-sayup terdengar sirene ambulans. Massa bereaksi. Bergerak mendekat ke arah blokade aparat.

Ebo menemukan sepeda motornya terparkir di keremangan pohon peneduh trotoar. Memacunya semakin menjauhi lokasi itu. Dia berpapasan dengan serombongan orang muda tanpa helm, dari arah sebaliknya.

Mereka memacu sepeda motor. Sambil mengibarkan bendera, entah bendera apa. Sebagian kecil terlihat mengacung-acungkan kayu. 

***

Yulia dan Bobi duduk di seberang meja. Mie tiaw rebus masih mengepulkan asap di mangkuk.

"Jadi hilang selera aku," keluh Yulia sembari memeriksa linimasa medsosnya.

"Kau kebanyakan baca kabar hoaks," gerutu Yeri.

Bobi terlihat mengaduk-aduk mie tiaw-nya. Memencet jeruk sambal, dan kembali mengadu-aduk.

"Cepat makan, Bobi. Kau paling lelet. Kerjaan ndak pernah beres. Imbasnya ke aku. Habis kita di-repet Pak Bos," sungut Yeri.

"Mengapa Pak Bos betah sekali di kebun, ya," Yulia bergumam.

"Yah, siapa betah tinggal di kota yang tiada hari tanpa ribut begini. Bawa-bawa agama lagi."

"Kejadian di Jakarta, eh ributnya sampai ke Pontianak sini."

"Nah, tuh, kau tahu."

Evan muncul kembali di ruangan itu. Ebo menyusul di belakangnya. Masih terengah-engah. Wajahnya sedikit pucat.

"Ngeri, Bro. Massa mulai beringas," suara Ebo bersaing dengan napasnya.

"Saya mau menyampaikan pesan Bapak," Evan mulai bersuara.

"Setelah selesai makan, kita segera ke kebun. Malam ini juga. Mobil sudah saya siapkan. Pesan Bapak, bawa semua berkas. Saya ke bawah dulu untuk siap-siap."

***

Linimasa Facebook menginformasikan tensi di simpang jalan itu kian meninggi. Polisi sudah memuntahkan tembakan peringatan. Tapi massa tak juga surut. Beberapa berani menerobos barikade polisi. Suara tembakan dan raungan sirene ambulans sahut-sahutan.

Video amatir yang merekam peristiwa ini berseliweran di media sosial. Mengalahkan gerak cepat media mainstream. Tanpa sensor. Tanpa narasi apapun. Membiarkan warganet menafsirkannya secara liar.

Lelaki itu duduk di kursi kayu. Tampak bagai siluet dalam temaram. Menatap layar komputer tablet. Menyaksikan tayangan liar yang setiap waktu semakin bertambah.

Hampir pukul sembilan malam. Suara mobil terdengar mendekat. Lelaki itu tak segera menengok. Dia terus memantau perkembangan melalui linimasa media sosial.

Lima orang muda turun dari mobil. Membawa tas masing-masing. Bergerak perlahan menuju rumah kayu. Lelaki itu memantau mereka dari jendela yang terbuka. Penerangan agak temaram. Sumber setrum di sini hanya dari panel surya.

"Kalian sudah mandi tadi?"

"Sudah, Pak," hampir serempak mereka menjawab.

"Masuklah dulu. Taruh tas di meja. Evan, saya sudah siapkan daging untuk kita panggang."

Lelaki itu beranjak menuju suatu area di bawah pohon rindang. Ada beberapa bangku dari kayu bulat di sana. Aroma racun nyamuk bakar meruap.

"Tadi kami sudah makan, Pak. Mie Tiaw rebus," ucap Yulia.

"Ndak apa. Kita panggang-panggang saja, sambil ngobrol. Mana Ebo?"

"Iya, Om?"

"Nyalakan lampu untuk kita di sini."

Klik. Ebo menekan sebuah tombol yang terpasang di batang pohon. Sinar menyilaukan berpendar di tempat yang semula temaram. Lelaki itu tersenyum melihat reaksi mereka.

"Masih gemetaran kau, Ebo?"

"Udah ndak, Om. Tadi sih, saya sawan."

"Ambil gitar di samping rak. Kau mainkan How Great Thou Art. Versi klasik ya."

Evan muncul membaca baskom berisi potongan daging. Yulia beranjak dari duduknya, menyambut baskom itu.

"Bentar aku ambil bumbu di dapur," ucap Evan.

Yeri mengeluarkan korek api, menyalakan arang di tungku. Bobi mengipas-ngipas bara. Tak berapa lama, cahaya bertambah di area itu. Hawa hangat mulai terasa.

"Malam ini jangan bahas kerjaan. Kalian ada di sini, aku merasa tenang. Selama aku tak ada di kantor, apa kalian tetap jalankan Doa Angelus?"

"Tetap, Pak. Di ruang rapat," Yeri menjawab.

"Siapa yang sering tidak ikut?"

"Ndak ada, Pak. Ikut semua."

"Sudah pada hafal doanya?"

"Baru Evan yang hafal, Pak. Kami masih baca teks."

"Susah ngapalinnya, Pak. Bahasa Latin," suara Yulia.

"Kalau lagu Korea, lebih mudah ya?"

Mereka tertawa. Ebo menghentikan petikan gitarnya. Aroma daging panggang memecah malam.

Baca Ini: Cinta dalam Bercarik Kertas, Catatan Khairul Fuad

Pukul 23.00. Orang-orang sudah berada di ruang tengah rumah kayu. Duduk bersimpuh beralas kain tebal yang empuk. Menghadap altar kayu bertaplak kain putih. Lilin telah menyala. Lidah api meliuk-liuk memantulkan bias lewat cermin kecil di atas rak.

Lelaki berambut gondrong yang mereka sapa Pak Bos, duduk paling belakang. Yeri dan Yulia di bagian depan kanan. Bobi, Evan, dan Ebo di sisi kiri. Mereka bersimpuh berjejer berdua-dua.

Lelaki itu mengangkat suara dalam notasi datar yang sedikit menaik di bagian ujung: "Ya Allah, bersegeralah menolong aku..."

"Tuhan, perhatikanlah hambaMu..." anak-anak muda menimpali dengan nada datar dan sedikit menurun di bagian akhir.

"Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus..."

"Seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin."

Rangkaian Ibadat Completorium itu berselang-seling dengan rapalan doa dan senandung mazmur. Sahut-sahutan antarmereka, sesuai barisan bersimpuh. Juga bacaan singkat dari Kitab Suci.

Di luar, cahaya bulan begitu pucat. Sinar lemah menerobos dedaunan. Suara kendaraan berat sayup dari arah jalan Trans Kalimantan. Sesekali berpadu suara rem angin ketika melewati jalan menurun.

"Berkatilah kami Ya Tuhan, bila kami berjaga. Lindungilah bila kami tidur..."

***

Pukul 05.55. Ruang tengah rumah kayu itu hening. Samar suara instrumen piano klasik memainkan How Great Thou Art dari speaker kecil. Nada dalam ketukan pasti, merayapi pagi.

Orang-orang duduk bersimpuh menghadap altar kayu bertaplak kain putih. Lilin sudah menyala. Cahaya pagi masih agak redup. Bias matahari menyerupai tali-temali, menjuntai dari sela-sela kanopi pohon matoa. Sebagian menembus jendela, mendarat di lantai kayu.

Lelaki berambut gondrong duduk paling belakang. Lima anak muda berjejer dua-dua. Gemericik air mancur di samping kolam pelan menyusupi ruang pendengaran.

Pukul 06.00. Teng, teng, teng! Lonceng Angelus berdentang dari smartphone. Lelaki itu membuka suara dalam nada tenor: "In nomine Patris et Filii et Spiritús Sancti, Amen. Angelus Domini nuntiavit Mariae..."

"Et concepit de Spiritu Sancto..." anak-anak muda menimpali terbata-bata.

"Ave Maria, gratia plena, Dominus tecum, benedicta tu in mulieribus, et benedictus fructus ventris tui, Iesus..."

"Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc, et in hora mortis nostrae."

Di jalan setapak mengarah ke rumah kayu itu, Bu Mayang bersama putri kecilnya, Sarah, melangkah perlahan. Kediaman mereka berada di dekat persimpangan jalan Trans Kalimantan.

Jika lelaki itu ada di kebun, Bu Mayang bekerja menyiapkan makanan. Hari-hari biasa, Bu Mayang dan suaminya mengurus ternak dan tanaman. Pagi ini, Bu Mayang dan Sarah membawa baskom dan keranjang berisi sayuran dan buah.

Melintasi pohon-pohon karet dengan tetesan lateks tertadah di tempurung kelapa. Menapak titian kayu di sungai kecil. Menyeruak kerimbunan markisa dengan buah matang bergelantungan.

"Mak?" langkah Sarah terhenti. Dia menajamkan pendengaran. "Mereka lagi apa?"

"Oh, lagi Doa Angelus."

"Bahasanya aneh, Mak."

"Ya, bahasa Latin. Nanti kamu belajar sama Pak Gondrong ya."

Bu Mayang dan putrinya melangkah diam-diam. Mengitari sisi rumah kayu, menuju dapur. Dari ruang tengah, tinggal terdengar suara instrumen. Sayup.

"Hai Dek Sarah, Hai Bu Mayang," tiba-tiba Yulia menyapa di dapur.

"Eh, ada Kak Yulia. Ibu buatkan sarapan dulu, ya," sahut Bu Mayang.

Lelaki berambut gondrong sudah berada di halaman. Menyusun beberapa berkas di meja kayu di bawah pohon. Tempat mereka panggang-panggang tadi malam.

Yulia muncul membawa baki berisi teh hangat dalam cangkir keramik. Sarah menyusul dengan sepiring ketela rebus.

Lelaki itu duduk di kursi kayu di bawah pohon matoa. Lima anak muda duduk mengelilingi. Map-map sedang dia periksa dan tandatangani.

"Sebelum ini, aku pernah punya kantor di sekitar simpang itu. Ada aksi massa siangnya, sampai sore. Kantorku kena imbasnya. Dibakar. Seorang office boy sampai opname kena senjata tajam. Ya, si Evan."

Anak-anak muda menoleh ke arah Evan. Lelaki gondrong itu meneguk teh. Mengunyah ketela rebus.

"Aku nyaris bangkrut. Kantorku dulu bukan sasaran utama. Kebetulan saja letaknya berada di sekitar aksi massa.”

Mereka mendengarkan sambil mengarahkan pandangan ke berkas-berkas di meja kayu. Edo mengelap keringat di kening. Evan mengelus-elus lengannya. Ada jejak jahitan yang sudah pulih di sana.

“Waktu itu saya baru saja mulai Doa Angelus sore jam enam. Orang-orang lain dah ndak ada, kan udah pulang kantor. Demo sudah sejak siang, ndak nyangka mereka ngerusak,” Evan bersuara.

“Lonceng Angelus berdentang tiga kali sehari. Jam enam pagi, jam 12 siang, dan jam enam sore. Kalian bayangkan saja, sepanjang itu pula traumatis yang dialami Evan,” lelaki gondrong itu berkata sambil membolak-balik berkas. Memberi tanda di suatu kolom, menandatangani kolom lain.

Yulia menghela napas. Yeri dan Bobi duduk mematung. Sesekali mereka saling pandang. Lelaki gondrong itu mengangkat wajah. Menatap anak buahnya satu per satu.

“Kau sudah punya pacar, Yulia?”

Yulia tersentak. Teman-temannya tersenyum. Yulia semakin salah tingkah.

“Atau ada di antara teman-temanmu ini…”

“Belum Pak. Saya masih pengen jomblo.”

“Dulu saya punya staf kayak kamu ini juga. Cantik, enerjik, pintar. Ada cowok naksir dia. Tapi ya, kayak preman gitu. Jelas, dia tolak. Saya sampai turun tangan, mengusir dia dari kantor karena sering mengganggu. Evan, kau masih ingat orang itu?”

“Ya, Pak. Pernah ada di koran. Kabarnya dia masuk penjara.”

“Ndak tau kasus apa. Narkoba mungkin. Nah, cowok itu, belakangan baru aku tahu, termasuk yang malam itu mengarahkan massa menyerang kantor. Dia dendam.”

“Hayo, Yulia…” goda Yeri.

“Heh, enak saja!” Yulia sewot.

“Evan trauma ndak, liat Yulia?” canda Ebo.

Evan tersenyum. Pak Bos melirik arlojinya.

“Baru jam delapan. Kalian keliling dulu. Petik buah. Atau mancing di kolam. Saya mau selesaikan berkas ini. Sebelum jam 12 semua kumpul di ruang tengah.”[]

 Penulis: Hanz E. Pramana – Buku Dentang Lonceng Angelus

Artikel Lain: Tamu Terakhir dalam Gawai Sastra Minggu Sore

Selengkapnya