Hari Kelima Belas

Agustus 17, 2022
Last Updated

[Foto: Ilustrasi/Interne]

DI pesta roh halus. Hari ke 15 Tahun Baru CinaDi Singkawang yang memesonaYa, kota kecil nan elok di pesisir Kalimantan Barat itu bernama Singkawang. Berasal dari bahasa Hakka; San Keu Jong, yang artinya dataran di antara teluk dan gunung. Kota berjuluk seribu kelenteng. Kota dengan penduduk 60 persen beretnis Tionghoa juga dikenal dengan nama Kota Amoi, karena kecantikan gadis-gadis Tionghoa di sini.

Aku menunaikan tugas dari pimpinan, meliput perayaan Cap Go Meh, yang katanya, paling meriah dan unik dibanding tempat-tempat lainnya. Di sini aku bertemu dengan gadis ajab itu, secara ajaib pula.

***

Hari Cap Go Meh di pelataran Klenteng Tri Dharma, persimpangan jalan pusat Kota Singkawang. Klenteng legendaris di tengah ruko-ruko tua yang kokoh dan terawat. Aku berdiri terpana, diantara ribuan orang lainnya. Panas terik matahari bumi khatulistiwa sama sekali tak menganggu kami. Semua memandang pertunjukan yang mengejutkan itu. Pemandangan yang masih tidak masuk akal bagiku, walaupun video even yang sama tahun lalu sudah ku saksikan di You Tube.

Pemandangan magis siang itu. Asap tebal dan bebauan dari gaharu, kemenyan dan kertas mantera yang dibakar menyebar kemana-mana. Sementara bunyi dari puluhan genderang memekakan telinga, mengiringi gerakan orang-orang kebal itu.

Ada lima orang di sana. Mereka adalah para Tatung; sebutan penduduk lokal untuk orang yang kesurupan roh baik. Sebagian yang percaya menyebutnya roh dewa.

Tanpa sendal, sepatu dan pelindung apapun, para Tatung itu menari-nari di atas tandu yang beralaskan parang-parang mengkilat yang tampaknya baru diasah. Ada juga yang beralaskan paku-paku tajam. Busana mereka mengingatkanku pada tokoh-tokoh panglima perang di film-film kerajaan Tiongkok. Senjata di tangan mereka berbeda-beda. Ada yang membawa pedang, golok, tombak hingga mandau.

Secara nyata, benda-benda berbahaya itu ditusuk-tusukan dan disayat-sayatkan ke tubuh mereka sendiri. Namun aksesoris yang terngeri, walaupun tidak semua memakai ini, adalah kawat-kawat tajam yang ditusukan dipipi melewati rongga mulut lalu tembus ke pipi sebelahnya.

Ritual Tatung ini sebenarnya bertujuan untuk mengusir roh-roh jahat. Oleh pemerintah setempat sekalian saja dijadikan festival untuk menarik wisatawan. Seperti Cap Go Meh di kota lain, lampion, barongsai dan liong memang ada, tapi tatunglah pertunjukan utamanya.

Di Tiongkok sana, tradisi ini sudah hilang sama sekali. Lebih-lebih sejak program revolusi budaya di tahun 1950-an oleh sang pemimpin besar Mao Tse Thung. Saat itu rakyat Tiongkok dipaksa meninggalkan budaya lama seperti Konfusianisme dan Taoisme. Dia menganggap budaya dan kepercayaan leluhur adalah bagian dari feodalisme, musuh klasik komunisme. Maka tak heran tiap tahun ribuan turis Tiongkok datang ke Singkawang, untuk melihat tontonan yang sudah punah di negara mereka tersebut. Apalagi sekarang ekonomi negeri naga itu maju pesat, dan orang kaya baru tumbuh setiap tahunnya.

Sementara lima tatung itu beratraksi di halaman kelenteng itu, sepanjang ratusan meter, puluhan tatung lainnya sedang mengantre untuk gantian menghibur penonton. Klenteng Tri Dharma selalu masuk dalam daftar kunjungan para tatung. Selain beratraksi, mereka melakukan penghormatan kepada dewa-dewa di klenteng tertua di Singkawang itu.

Orang-orang kerasukan itu berasal dari berbagai kalangan, termasuk bocah dan perempuan. Banyak yang roh-roh unik yang aku lihat. Ada yang kerasukan roh Cu Pat Kai dan Sun Go Khong, tokoh dalam legenda “Perjalanan ke Barat”. Adapula yang kemasukan roh-roh lokal. Sedangkan ratusan tatung lainnya diarak di jalan-jalan kota. Masyarakat tumpah ruah berjejer di pinggir jalan menyaksikan pawai setahun sekali itu. Inilah pesta hantu yang sesungguhnya. Bukan seperti Halloween di Amerika Serikat.

Baca Ini: Sepucuk Surat untuk Mama di Hari Natal

Sadar akan tugasku sebagai wartawan, kuarahkan lensa kameraku ke sosok-sosok ajaib itu. Jepretan demi jepretan kulakukan berulang kali untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Sampailah bidikan itu kepada obyek terindahku. Seorang tatung wanita, masih remaja ku kira.

Dalam kondisi trance si amoi duduk di atas tandu beralas paku yang sedang diarak. Kondisi liarnya tidak menghilangkan goresan-goresan ayu di wajahnya. Sepintas dia mirip Sandra Dewi, artis favoritku yang berwajah oriental. Mengenakan gaun putri kasiar, bertubuh langsing, dengan rambut panjang terikat rapi, dialah tatung teranggun hari itu. Malahan bagiku dialah orang tercantik di antara ribuan penonton di lokasi itu.

Sampailah saat giliran dia yang beratraksi di halaman kelenteng. Aku menunggu momen ini, karena jarak kami hanya tinggal lima meter saja. Aku akan sangat leluasa mengambil setiap gerakan dan ekspresi wajahnya. Namun selain kecantikannya, tidak ada hal lain yang bisa dieksplor dari gadis ini.

Tidak seperti tatung lainnya yang memamerkan kesaktiannya secara ekstrem, dia hanya menari-nari kecil dengan membawa pedang  yang sesekali digoreskan di tangannya. Secara teori fotografi jurnalistik, fotonya kalah nilai dibanding tatung lainnya. Tak akan dimuat di majalahku. Aku hanya mengambil gambarnya untuk koleksi pribadi saja.

Aku terkejut. Matanya seperti menatap tajam ke arahku. Sepertinya hanya kepadaku. Tiba-tiba saja bulu kudukku merinding. Masih sambil dengan sorot mata itu, sambil menari-nari dia mendekat ke arahku. Aku tetap tidak beranjak, karena kerumunan orang di samping-sampingku tidak merespon hal yang sama. Walaupun tidak pernah tersiar ada tatung menyerang penonton, nyaliku ciut juga. Cantik-cantik begitu, dia itu lagi kerasukan dengan sebilah pedang tajam di tangan kanannya.

Jarak kami hanya tinggal satu meter. “Matilah aku.” Secepat kilat kumasukan kemera ke dalam tas ranselku. Saat itu ku putuskan untuk lari saja. Tapi seketika pandangan matanya yang tadinya seram berubah menjadi sendu. Tubuhnya melunglai, hingga pedangnya terlepas dari genggaman.

Dia akan ambruk. Reflekku mengalahkan rasa takutku. Saat dia hendak jatuh, ku tangkap pundaknya hingga aku sedikit terjongkok. “Tolong. Panas aku tak tahan,” gumam gadis itu di telingaku. Matanya yang indah itu tertutup lalu tak sadarkan diri.

“Huuuuuu...” cibir sebagian penonton di sana atas pingsannya tatung perempuan itu. “Bang tolong bawa ke sana ya,” ujar seorang panitia kepadaku sambil menunjuk tenda besar di belakang kelenteng. Sementara orang itu membantu membukakan jalan diantara kerumunan massa, aku membopong gadis ini ke sana. Kubaringkan dia di tempat tidur yang sudah disiapkan oleh panitia.

Kuambil sebuah majalah dari dalam tas ranselku, lalu ku kipas-kipaskan ke wajahnya. Rasa kagum bercampur ngeri melihat aksi gadis ini tadi lenyap sudah. Berganti rasa kasihan melihat tubuhnya yang lemas dan wajahnya yang merah padam. Tidak lama kemudian beberapa pria datang.

“Sudah bang tinggalkan saja. Kami temannya,” ujar seorang pria yang kilihat tadi bermain genderang. “Dia hanya kecapekan. Baru kali ini dia turun ke jalan.”

Aku pun memang ingin segera pergi. Satu jam lagi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama para pejabat daerah akan segera hadir di panggung kehormatan tak jauh dari kelenteng. Aku harus segera mencari tempat terbaik untuk mendengar sambutan dan mengambil fotonya.

Tiba-tiba; “Jangan pergi dulu. Kamu harus tanggung jawab. Tunggu di sini, kamu yang buat anak saya pingsan,” seru seorang pria paruh baya sambil melotot kepadaku.

Mendapat tuduhan begitu, tentu saja darahku naik. Aku pikir kalaupun harus beradu jotos satu lawan satu aku akan menang melawan pria renta itu. Tapi sebagai wartawan, aku masih memiliki akal sehat. Siapa yang mau bermasalah dengan hukum, apalagi aku cuma pendatang. Lagi pula si bapak membawa pedang gadis itu yang tadi terlepas. Kalaupun balas menghardik bisa-bisa si bapak menebaskan pedang itu.

“Maaf, Saya hanya menolong saja pak,” kataku sopan, sambil menahan emosi. “Sekarang saya mau pergi, sedang ada acara yang tidak bisa ditinggal.” “Tidak bisa. Kamu harus tanggung jawab,” balasnya dengan kasar. Mendengar ribut-ribut panitia yang bersama kami kami tadi datang. Dibantu si pemain genderang, dia tampak berusaha menenangkan bapak itu, menjelaskan duduk persoalannya.

Sekarang si bapak sudah agak tenang. Dia lalu menuju ke arah gadis itu. “Mei, Papa kan sudah bilang tidak usah ikut. Kamu kenapa tidak mau dengar. Sekarang begini kan jadinya,” ujarnya kepada gadis yang belum siuman itu. Matanya memerah dan suaranya bergetar. Ada rasa iba dalam hatiku, tapi aku harus segera bergegas.

Ketimbang menunggu bapak pemarah itu meminta maaf, aku pilih untuk menyambangi dia dan berpamitan. Namun tiba-tiba gadis tadi terbangun, melotot tajam lalu mengarahkan telunjuknya ke mukaku. “Kamu...!!!” katanya setengah berteriak. Dia lalu pingsan lagi. Semua mata di tenda itu memandang ke arahku. Aku tertunduk lesu.

***

Jam tujuh malam bulan purnama terang benderang. Suasana Kota Singkawang masih sangat ramai, ketika aku dijemput di hotel oleh Acun dengan sepeda motor bututnya.

Tadi siang, akhirnya aku bisa lepas dari ayah si gadis itu. Untungnya dia sedikit maklum setelah aku jelaskan bahwa aku seorang jurnalis yang akan segera meliput kedatangan menteri. Hanya saja harus meninggalkan jaminan. Dia tidak mau uang atau pun handphone. Dia hanya mengambil KTP-ku saja. Aku tidak berusaha bernegosiasi karena dikerjar waktu. Malam hari aku berjanji akan ke rumahnya. Si pemain genderang yang bernama Acun berjanji akan membantuku menjelaskan semuanya.

Rumah gadis itu cukup jauh dari hotel, sehingga aku bisa menikmati suasana sudut-sudut kota dari atas kuda besi ini. Beberapa klenteng yang kami lewati masih menggelar ritual tatung, meski tak seramai tadi siang. Warung-warung kopi dadakan di pelataran ruko dan pedagang kaki lima lainnya membuat kota ini hidup, meski tak segemerlap Jakarta, kota asalku.

“Pak Wijaya sudah tidak marah lagi. Dia katanya mau minta maaf sama abang,” tandas Acun sambil tetap fokus mengemudikan sepeda motornya. Acun banyak mengoceh selama perjalanan. Dari dia, aku tahu kalau nama gadis itu adalah Bong Meiling. Dia berusia 18 tahun dan baru tamat SMA. Ayahnya bernama Bong Wijaya. Bong adalah marga yang umum dipakai suku Hakka, serupa dengan Ong untuk orang Hokkian atau Ng pada orang Teochiu.

Meiling adalah anak semata wayang dan ibunya meninggal karena sakit keras, saat dia masih kanak-kanak. “Itulah bang, kenapa Pak Wijaya sangat sayang sama Meiling. Dia tinggal punya Meiling saja.” Sebenarnya aku juga ingin mengetahui kisah bagaimana Meiling bisa terjun ke dunia pertatungan. Namun ku urungkan niat untuk bertanya pada Acun. Lebih baik kutanyakan langsung ke orangnya.

Rumah Pak Wijaya kecil saja. Diapit oleh rumah-rumah lain di sebuah gang sempit di pinggiran Singkawang. Wijaya Dia menyambutku di depan pintu. Lega rasanya melihat dia tersenyum. “Silahkan masuk dek Panji Bimantara,” katanya. “Sudah 24 tahun, tapi kayak anak remaja ya,” imbuhnya mencoba basa-basi. Sepertinya dia tahu nama lengkap dan usiaku dari KTPku yang dia sita.

“Meiling ini orangnya sudah datang,” teriak Pak Wijaya sambil mengadah ke dapur yang memang tampak dari pintu depan. Tak terdengar suara balasan. Bersama Pak Wijaya, aku lalu masuk dan duduk di sebuah kursi dari kayu dengan ukiran bermotif oriental. Tak lama kemudian datang gadis itu, membawa air dan camilan.

Penampilannya sekarang tidak mencolok. Tanpa dandanan, mengenakan kaos oblong berwarna putih dan celana jeans, dia masih tampak cantik. Dia menjongkok. Diletakannya barang-barang yang dibawanya dengan nampan tersebut, persis di meja depan aku duduk.

Baca Ini: Ada Puisi di Sarang Kata

Aku menatapnya, dia balik menatap. Jantungku berdetak kencang. Selama beberapa detik, kami saling pandang tanpa bicara. Dia lalu menundukan kepalanya, mukanya memerah. Sudah lama rasanya aku tak mengalami perasaan seperti ini. Jatuh cinta kah aku? Cepat-cepat ku buang pikiran itu.

“Maaf Bang, saya tadi siang benar-benar tidak sadar. Jadi menyusahkan Abang,” kata Meiling, tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu. “Tidak apa-apa saya maklum. Namanya juga orang kemasukan,” balasku.

Lama kami mengobrol di ruang tamu itu. Aku menanyakan cerita bagaimana dirinya bisa menjadi seorang tatung. Lumayan buat bahan berita feature, pikirku. Sementara mewawancarai putri semata wayangnya, Pak Wijaya pamit masuk ke dalam untuk menonton televisi.

Meiling menjadi tatung setahun setengah tahun yang lalu. Saat itu dia masih duduk di bangku SMA. Pada suatu malam dia mengalami mimpi bertemu dengan seorang putri raja. Orang dalam mimpinya itu meminta Meiling menggantikan dirinya di kerajaan itu. Setelah mimpi itu, dia sering kerasukan. “Sejak itu saya seperti orang gila. Hampir kemasukan setiap malam,” ucapnya.

Dia melanjutkan, ayahnya lalu membawanya kepada pendeta Taoisme yang cukup terkenal. Oleh sang pendeta, Meiling disarankan untuk tidak melawan roh yang dimasukinya. Kabar baiknya, yang sering mampir ke tubuhnya itu roh baik. Kabar buruknya?

“Saya dibilang sudah ditakdirkan untuk menjadi tatung yang mengobati orang sakit. Harus menuruti semua keinginan roh itu,” lirih Meiling.

Kulihat matanya yang indah itu berkaca-kaca. Sepertinya dia tidak menginginkan sepanjang hidup penuh ketidaknormalan itu. “Bagaimana kalau benar-benar tidak mau?” tanyaku. “Kata pendeta harus ada upacara besar-besaran. Banyak sesajian yang harus disiapkan. Saya dan Papa belum punya uang. Sudah cari utangan tapi belum dapat,” jawab dia.

“Padahal saya mau hidup seperti teman-teman lain.” Pak Wijaya hanya bekerja sebagai sopir truk. Sedangkan Meiling sehari-hari menjadi pelayan toko. Timbul perasaan simpati dari dalam hatiku. Aku merasa kasihan dan seperti ingin menemani kesedihan Meiling.

“Apakah Meiling mau menjadi guide saya. Kebetulan saya cukup lama di Singkawang. Saya membutuhkan orang untuk mengantarkan saya ke tempat-tempat yang mau saya liput.”

Tawaran tersebut keluar begitu saja dari mulutku. Aku tak tahu apakah ini hanya karena simpatiku saja, atau mungkin aku hanya cari-cari alasan saja utuk lebih dekat dengannya. Padahal aku sudah meminta bantuan teman lamaku, seorang wartawan lokal, untuk mengantarkan aku ke obyek-obyek menarik di Singkawang.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. “Boleh bang. Kebetulan saya baru saja diminta istirahat sama bos saya. Nanti saya minta izin sama Papa,” katanya setengah berharap.

Senyumannya yang manis semakin menambah semangatku. Ditambah lagi ternyata Pak Wijaya ternyata mengizinkan. Mungkin untuk menebus rasa bersalahnya padaku, atawa barangkali memang wajahku yang seperti orang baik-baik.

***

Selama beberapa hari ku habiskan waktu bersama Meiling. Berbekal motor yang ku sewa, kami menjelajahi berbagai obyek wisata di Singkawang. Kami semakin akrab. Tak jarang di atas kuda besi itu kami saling bercanda. Di balik keanehannya, Meiling ternyaa adalah tipe cewek yang humoris. Aku paling senang saat dia tertawa renyah, sangat manis.

Meskipun kota kecil, Singkawang memiliki tujuan wisata yang lengkap. Untuk wisata budaya, Singkawang memiliki tiga etnis utama; Dayak, Melayu dan Tionghoa dengan segala macam kekhasannya. Kami mengunjungi kampung-kampung ketiga suku itu. Wisata alam? Singkawang punya pantai, pulau-pulau kecil, danau dan perbukitan.

Kami berdua juga pergi ke Pasar Hongkong, pusat kuliner di sana. Pasar kuliner yang semarak ini hanya buka pada malam hari dan tutup menjelang subuh. Kami menikmati kwetiau yang rasanya sangat khas dengan air tahu sebagai minumannya. Air tahu di tempatku disebut dengan susu kedelai atau soya. Namun di sini rasanya lebih kuat dan segar.

Namun momen yang tak terlupakan bersama Meiling adalah suatu senja di Pulau Simping. Pulau di selatan Singkawang ini adalah pulau terkecil di dunia dan telah diakui oleh PBB. Seraya menunggu sunset, kami duduk berdampingan di batu besar di pinggir pulau seukuran lapangan basket itu. Kami saling bercerita tentang masa lalu.

Meiling pernah punya pacar, namun putus lantaran sang pacar malu dengan statusnya sebagai tatung. “Kalau Meiling pacaran lagi mau nggak?” tanyaku. “Memang ada yang mau Bang. Saya kan orang aneh,” sebutnya sambil memain-mainkan kakinya di laut. “Kalau sama abang?” tanyaku.

Dia diam, tak menjawab. “Mau…” lirihnya. Ku lihat mukanya memerah. “Ihhhh malu nih ye. Kamu cantik kalau lagi malu,” ucapku mencoba menggombal.

“Bang Panji jahat ah,” kata Meiling dengan wajah cemberut. Muka lucunya itu semakin membuatku gemas. Aku cubit pipinya dengan kedua tanganku. Dia tak melawan. Tapi saat aku lengah itu dia mendorong tubuhku ke laut. Aku basah kuyup. Tak mau kalah, aku tarik tubuhnya yang memang cuma sedalam satu meter itu. Jadilah sore itu kami basah-basahan.

Puas menghabiskan waktu bersama, baru kami kebingungan. “Bang kita tidak bawa baju ganti. Bagaimana ini? Nanti pulang dimarahin papa,” tukasnya cemas. Aku lalu mencari ide.

“Bilang saja kita tadi sewa sampan, lalu sampanya terbalik kena ombak,” lontarku. “Nggak apa-apa bang?” imbuhnya masih cemas. “Sudah, nanti biar abang yang laporan.”

Selama perjalanan pulang, aku juga takut kalau-kalau Pak Wijaya mengamuk lagi. Kali ini bukan karena ngeri dengan teriakannya, tapi lebih kepada takut bila dia melarang Meiling dekat denganku. Dengan pakai basah kuyup, kami sampai di rumah Meiling. Pak Wijaya tampak heran melihat kami yang basah total, padahal tak satu tetes pun hujan turun hari itu.

“Waduh cepat masuk. Meiling ganti baju cepat. Ambilkan juga baju dan celana Papa di lemari untuk Panji,” serunya. Setelah berganti baju, aku lalu menemui Pak Wijaya di ruang tamu. Setelah aku timbang-timbang, sebaiknya aku jujur saja kalau kami basah karena bercandaan.

Namun, Pak Wijaya tak menanyakan soal kenapa kami sampai bisa basah kuyup. “Dek Panji, setelah beberapa hari ini saya lihat Meiling tidak lagi sedih. Biasanya kalau malam dia itu suka bengong dan nagis sendiri. Dia juga tidak pernah kemasukan lagi,” ungkapnya. “Iya pak syukurlah kalau begitu,” kata aku.

Dia lalu meneruskan; “Sepertinya dia seperti gembira akhir-akhir ini. Mau tidak kamu menikahi dia?” Pertanyaan itu seperti menohok aku. Aku seperti baru saja mendapat uppercut dari Chris John, ditambah bantingan Ade Rai.

Memang aku jatuh cinta pada Meiling. Tapi untuk menikah rasanya terlalu cepat, apalagi kalau dihitung-hitung baru dua minggu kami berkenalan. Dari hati kecilku sebenarnya melontarkan kata iya, tapi otakku mengompori dengan berkata; “Memangnya nikah itu gampang!!!”

“Maaf pak saya belum bisa memutuskan sekarang,” sebutku mencoba. Aku bilang kepada Pak Wijaya bahwa aku harus memikirkan hal itu masak-masak. Aku minta waktu satu bulan untuk menjawabnya. Sepertinya Pak Wijaya mengerti dengan sikapku. Dan perbincangan serius itu diakhiri dengan jawabanku dari pertanyaan Pak Wijaya. “Ngomong-ngomong tadi kalian kok basah kuyup ya? Kehujanan di mana?”

***

Aku terbaring di kasur empukku. Mataku menerawang ke langit-langit, pikiranku melayang. Sebulan lebih aku di Jakarta sejak berpamitan dengan Pak Wijaya dan Meiling. Dari Meiling aku tahu; seorang pendeta Taoisme berkata bahwa roh yang merasukinya selama ini tidak ingin lagi tinggal di tubuhnya. Tapi entah kenapa, aku merasa kalau roh itu menghendaki aku yang menggantikannya untuk menjaga Meiling.

Berbagai pertimbangan membayangi pikiranku. Bagaimana dengan pekerjaanku? Aku merasa jurnalistik adalah duniaku dan perusahaanku telah memberikan aku segalanya. Apakah aku harus resign saja? Kalaupun ku iyakan permintaan itu dan Meiling ku boyong ke Jakarta, apakah Pak Wijaya mau, mengingat Meiling adalah anak satu-satunya.

Tiba-tiba ponselku berdering kencang. Ku lihat nama Pak Suhendra, pemimpin redaksiku di situ. Panggilan yang membuatku melompat sejadi-jadinya di atas kasur. “Panji, majalah kita mau buka kantor biro di Singkawang. Rencananya kamu yang akan dipromosikan sebagai kepala biro di sana. Besok jam 10 pagi kamu ketemu saya di kantor, kita bahas lebih lanjut,” jelas atasanku.

“Siap Boss!!!” ucapku dengan tegas.

Penulis: Arist Gardabumi – Buku Dentang Lonceng Angelus

Artikel Lain: Arina – Cerpen E. Widiantoro

Selengkapnya