Gereja dan Gedung Pastoran di Sejiram Hangus Terbakar

Agustus 08, 2022
Last Updated

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]

DESEMBER 1913.

Para misionaris mengalami ketakutan atas gerakan pemberontakan melawan pemerintah yang dilakukan oleh sekelompok orang di Ketungau, perbatasan antara Semitau dan Sintang.

Pada 12 Desember 1913, Pastor Jecundus, OFMCap menerima surat dari Nyonya Karsten, Istri Kontroler Semitau.

Atas nama suamiku, yang sekarang berada di daerah Ketungau. Saya membe­ri­tahukan bahwa ada ketidaktenangan pada batas Semitau dan Sintang. Karena itu, ada kemungkinan besar bahwa Kontrolir Jansen sudah dibunuh bersama dengan seluruh prajuritnya. Letnan Van Wijck juga diserang dari Sintang. Saya mohon agar segala berita yang diterima dari Seberuang-Hulu hendak dikirim juga ke Semitau. Sebab, menurut suamiku daerah Silat pun akan ikut dalam pemberon­takan. Salam dari rumah ke rumah. Nyonya Karsten.

Selang beberapa hari kemudian, Pastor Jecundus menerima surat yang isinya hampir sama, yang menceritakan terjadinya pemberontakan. Hal itu di tulis sendiri oleh Kontroler Semitau dengan tergesa-gesa.

Semitau 14-12-13. Pater yang terhormat. Saya selekas mungkin kembali ke Semitau. Situasi gawat. Jansen bersama prajurit-prajuritnya dibunuh. Mayatnya belum ditemukan. Serdadu-serdadu yang dikirim telah menemukan api. Ada yang mati, ada yang terluka. Kaum Daya dan Melayu dari Silat-Hulu mau ikut, banyak rumah sudah kosong. Saya langsung akan berang­kat dengan 14 prajurit ke Silat-Hulu, menunggu kelompok 20 serdadu yang diminta. Kami bersama-sama dari Silat akan masuk daerah Melawi (Ingar-Hulu dan Pajak-Hulu). Kapten Winter dari Sintang akan ikut saya secepat mungkin. Seandainya saya tak dapat menghindarkan bahwa penduduk Silat ikut gerom­bolan itu, maka saya akan mengirim berita lagi. Kalau demikian: hendaklah berjaga, siang dan malam di Sejiram. Di Semitau akan disiagakan 12 serdadu dan prajurit. Salam dan hormat dari Karsten.

Baca Ini: Lama tak Ada Pastor, Gedung Pastoran di Sejiram Hampir Roboh

Berita itu sangat menakutkan para misionaris. Hingga 15 Desember 1913  belum ada berita lain. Pada Hari Natal, 25 Desember, terdengar di Semitau, bahwa di daerah Ketungau ada seorang yang telah mulai mengumpulkan orang-orang Dayak dengan maksud memberon­tak. Ia menjadikan pengikut-pengikutnya kebal akan peluru. Namun orang yang memimpin pengerahan masa tersebut telah ditangkap dan ceritera selesai. Pada 26 Desember 1913, datang berita bahwa kapten Winter dengan 70 serdadu masuk Silat-Hulu dan daerah Melawi. Mayat Kontrolir Jansen telah ditemukan.

Walaupun dalam keadaan tidak aman, Pastor Flavianus masih melakukan turne pada malam tanggal 3 -4 Januari 1914. Pukul 11.00 pulang dari daerah Lanjak tersesat antara Semitau dan Sejiram sehingga baru kembali tengah malam.

Kendati situasi menegangkan, tak menyurutkan semangat para misionaris mewartakan kabar gembira Injil. Hingga 1913, sudah 565 orang yang menganut iman Katolik. Interaksi dengan masyarakat Dayak di Sejiram telah membuahkan hasil. Namun, ada beberapa oknum masyarakat yang tidak senang dengan kehadiran misionaris tersebut. Apalagi, misionaris membawa perubahan dan pola pikir yang baru bagi masyarakat di Sejiram.

Pada 28 Agustus 1914, gereja dan gedung pastoran terbakar. Seluruh bangunan beserta isinya hangus dengan menyisakan abu. Tabernakel dan sibori (piala) semua terbakar dan menjadi logam semata. Beberapa warga setempat menuduh seorang yang selalu menentang karya misi di Sejiram. Namun para pastor tidak mau begitu saja menuduh tanpa bukti.

Pada 1918, gedung pastoran dibangun kembali. Kemudian pada 1924, gereja kembali dibangun agak besar dengan dana bantuan umat di Tilburg.

Artikel Lain: Berangkat ke Borneo Barat, Pasificus Bos Sampaikan Kata-kata yang Bikin Haru

Penulis: Br. Kris Tampajara MTB

Editor: Budi Atemba

Selengkapnya