Karya Misi di Laham; Dirintis Kapusin Diteruskan MSF

Agustus 12, 2022
Last Updated

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]

PADA Juni 1907, para misionaris kembali mudik ke hulu Sungai Mahakam. Hal itu dilakukan karena tak ada orang Dayak di Long Iram. Tuan Gramberg tetap ikut untuk membantu mereka. Mereka sampai di daerah suku Dayak Bahau, sekitar 500 kilometer dari Samarinda. Di situ terdapat sekitar 15 kampung suku Dayak, jarak yang satu dengan yang lain tidak terlalu jauh.

Ada juga kampung Laham yang berjumlah 20 pintu. Orang-orang Laham memiliki sifat yang baik. Para misionaris memutuskan tinggal di kampung Laham sembari menunggu perkembangan selanjutnya. Mereka diam dalam pesanggrahan, tetapi tidak lama kemudian mereka mulai membangun rumah sendiri.

Orang Laham menyebut dirinya Suku Bahau. Nama Bahau berasal dari anak sungai Kayan. Mereka tinggal di pinggir Sungai Bahau. Sejak dulu mereka termasuk suku Kayan yang hidup di dataran tinggi yang bernama Apokayan. Sebagian dari suku itu pindah ke daerah dekat sungai Mahakam. Sebagian lagi pindah ke arah barat-laut dan menempati daerah hulu dari sungai Mendalam yang juga bagian daerah Kapuas Hulu. Sebagian kecil dari suku itu hidup di dekat hilir sungai Kayan.

Menurut Pastor Mikael Coomans MSF yang kemudian hari menjadi Uskup Samarinda, suku Bahau lebih terbuka untuk berinteraksi dengan bermacam-macam budaya luar karena pemerintah maupun perdagangan..

Berbekal pengalaman di Sejiram, Pastor Camillus cukup pandai bergaul dengan orang-orang di Laham. Tetapi, bahasa Melayu tidak digunakan oleh orang-orang Sungai Mahakam. Dalam kehidupan sehari-hari mereka menggunakan bahasa bahasa Bunang, yang sulit dipelajari karena tidak ada aksaranya.

Baca Ini: Tak Ada Orang Dayak, Karya Misi Cabut dari Long Iram

Pada 1 Januari 1908, mereka mulai membangun rumah tempat tinggal di Laham. Pastor Liberatus pandai bertukang sedangkan Bruder Ivo rajin membantunya. Orang-orang Dayak di Laham tidak dapat membantu, kecuali mencari kayu untuk perangkat rumah. Mereka biasanya mengikat segala bagian rumah dengan memakai rotan. Palu dan paku tidak mereka kenal.

Semua papan harus diangkut dari Samarinda. Sangat susah mencari semua itu. Walaupun mengalami banyak kesulitan, akhirnya pada 25 Juni 1908, mereka mulai menghuni rumah sendiri dengan beberapa kamar dan serambi, serta sebuah dapur dan sebuah kapel kecil untuk berdoa. Masa awal di Laham, misionaris yang diutus merasa kesepian dan terisolasi di tengah-tengah hutan Borneo. Komunikasi dengan sesama misionaris di Borneo Barat agak sulit bahkan mereka di bagian timur pulau Borneo ini merasa kurang diperhatikan.

Setelah dua tahun, pada 2 Juni 1909, Prefek Bos mengunjungi para misionaris di Kampung Laham. Ia berunding dengan beberapa tokoh masyarakat tentang pembangunan sekolah di Laham. Hadir juga tokoh masyarakat Long Hubung dan Mamahak Besar. Dalam pertemuan itu disepakati oleh tokoh-tokoh masyarakat, bahwa masyarakat akan menyedikan perangkat bangunan berupa balok-balok kayu belian dan papan.

Ketika rencana membangun sekolah hendak dimulai dan perangkat bangunan sudah terkumpul, tiba-tiba Pastor Liberatus ditarik ke Singkawang. Ia menunggu tugas baru terkait pembukaan misi di Sumatera. Liberatus meninggalkan Laham pada 8 Januari 1910. Pastor Yustianianus datang sehari sebelum Pastor Liberatus meninggalkan Laham. Yustinianus melanjutkan karya misi di Laham.

Sebelum diutus ke Laham, Pastor Yustinianus bertugas di Pemangkat selama dua tahun. Ia boleh dikatakan sebagai peletak dasar untuk stasi Laham. Pada tahun yang sama, Bruder Ivo jatuh sakit. Ia harus kembali ke Singkawang untuk beristirahat dan diganti oleh Bruder Timotius. Ivo meninggalkan Laham pada 15 Agustus 1910.

Artikel Lain: Melirik Pemangkat, Pastor Camillus Naik Perahu Tujuh Jam dari Singkawang

Pada Juli 1911, bangunan sekolah sudah dapat digunakan. Sekolah menerima 30 anak untuk kelas pertama. Sedangkan tenaga pengajar berasal para misionaris. Pada tahun 1912, ada seorang guru dari Manado. Tantangan terbesar dari sekolah saat itu, para orangtua tidak rela membiarkan anak-anaknya setiap hari pergi ke sekolah. Hal ini karena banyak acara adat di kampung. Orang tua khawatir, pergi ke sekolah setiap hari membahayakan ikatan religius anak-anak dengan kampung. Akibatnya banyak anak tidak masuk sekolah. Walaupun ada kendala tersebut, hubungan misonaris dengan masyarakat tetap baik. Bahkan Pastor Yustinianus dijuluki Tuan Jahe yang berarti Sang Tuan dalam bahasa kampung tersebut.

Pada 16 September 1912, datang seorang misionaris yang baru, yakni Pastor Andreas. Bahasa busang baginya tidak terlalu sulit. Ia telah menyusun banyak tulisan tentang suku Bahau dan agamanya. Namun, awal 1914, Pastor Andreas mengalami sakit. Ia dibawa ke Samarinda dan dirujuk ke Banjarmasin. Disinyalir ia mengidap penyakit meningitis yang mengakitkan penglihatannya buta. Pada 19 Juni 1914, Pastor Andreas kembali ke Belanda. Pastor Egbertus Nobel mengganti posisinya di Laham.

Tahun 1919, Pastor Egbertus jatuh sakit dan harus kembali ke Borneo Barat. Ia diganti oleh Pastor Edmundus yang bersamaan dengan kedatangannya ikut juga tiga orang suster Veghel (Suster SFIC) yaitu Sr.Alexia, Sr. Ligoria, dan Sr. Theodorata. Mereka membantu pastor dalam pendidikan anak-anak perempuan. Para suster menempati rumah susteran yang telah dibangun. Pada 1922, sekolah untuk anak perempuan di Laham dimulai.

Untuk memperkuat misi di Borneo bagian timur maka pada 1923 datang Pastor Christianus dan Bruder Sergius. Tiga tahun sekolah bagi anak perempuan berlangsung. Pada 1925, anak anak sekolah perempuan itu dibaptis menganut agama Katolik. Pada tahun 1926, Prefek Bos memberkati gereja pertama di luar stasi Laham, yaitu di Mamahak Besar.

Pada 1926, karya misi di seluruh Borneo bagian timur dan selatan, termasuk Laham, diserahkan kepada Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (Congregatio Missionariorum a Sacra Familia-MSF). Seluruh tenaga misi Kapusin dipusatkan di Borneo bagian barat.

Pada 27 Februari 1926 misionaris MSF gelombang pertama tiba di Borneo bagian timur dan selatan. Gelombang kedua menyusul tahun berikutnya. Bagi misionaris dari Kongregasi MSF awal-awal mengalami kesulitan karena mereka belum berpengalaman.

Penulis: Br. Kris Tampajara MTB                                                                                                       Editor: Budi Atemba

Artikel Lain: Prefek Bos Jalan Kaki 10 Jam dari Buduk ke Singkawang 

Selengkapnya