Masa Harum Semerbak Nyarumkop di Tanah Borneo

Agustus 17, 2022
Last Updated

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan untuk Gereja Kalimantan]

ANAK-anak yang datang ke Nyarumkop berasal dari tempat yang jauh. Dengan pendidikan karakter melalui kedisiplinan dan dikombinasi dengan kerja-kerja praktis di rumah dan di kebun, Sekolah di Nya­rumkop mulai menjadi pusat persekolahan untuk anak-anak dari stasi Borneo bagian barat.

Dipimpin Pastor Gerardus, yang mengurus sekolah sekali­gus pastor paroki sejak 29 April 1932 hingga 13 Maret 1938, Persekolahan Nyarumkop seperti bunga harum semerbak di tanah Borneo. Pendidikan menuntut ketegasan dan pembentukan mentalitas anak-anak (Dayak), pendidikan tidak dapat berdasarkan rasa kasihan semata. Pastor Leo De Jong menulis sosok Pastor Gerardus sebagai seorang pendidik yang tegas.

Pastor De Jong dalam catatan pada Borneo Almanak, pada 1 Agustus 1939, Sekolah Rakyat di Nyarumkop dimulai dengan 99 murid, sedangkan siswa Vervolgschool berjumlah 73 orang. Kemudian pada 1938,  Pastor Egbertus mengganti Pastor Gerardus di Nyarumkop. Ketika Pastor Gerardus cuti pada 1939, ia diganti oleh Pastor Honorius. Pastor Honorius  selama beberapa tahun menjadi seorang pejuang walaupun kadang dibantu oleh Pastor Dismas dalam mengadakan turne.

Sejak tiba pada 1905, para misionaris di tanah Borneo telah membuka lahan, mendirikan bangunan gedung pastoran, sekolah, dan gereja serta kebun, di manapun mereka memulai. Namun mereka harus menerima bahwa sejak 11 Julli 1942 hingga Agustus 1945, mereka harus mengalami massa internir di Kuching oleh tentara Jepang.

Bom Atom meluluhlantakan Kota Hiroshima dan Nagasaki-Jepang pada 6 Agustus 1945 dan 9 Agustus 1945. Berita itu sudah didengar oleh para misionaris yang diinternir di Kuching. Herman Josef dalam buku Hidupku di Antara Suku Daya (bdk. Hidup Diantara Suku Daya; 1992: Herman Josef van Hulten; Hal 44-51) menulis, pada 12 September 1945, mereka dikembalikan ke Kalimantan Barat. Setelah itu, mereka kembali ke tempat tugas sebelumnya.

Baca Ini: Villa Suster Veghel Berubah Menjadi Sekolah bagi Perempuan Dayak

Pada 12 Desember 1945, tenaga misi datang lagi ke Nyarumkop. Pada 10 November, Mgr Van Valenberg mengunjungi Nyarumkop untuk meme­riksa­ situasi stasi dan sekolah. Uskup Valenberg serta memberi peneguhan dan motivasi bagi guru-guru dan rakyat yang selama ini ditinggalkan.

Saat misionaris tiba di Nyarumkop, mereka masih menemukan kesetiaan dua guru dengan 76 murid, tetapi hampir tidak ada alat pengajaran. Banyak bangku sekolah telah diambil. Gedung pastoran dan susteran kosong. Pada 7 Februari 1946, Mgr Van Valenberg mengusulkan kepada residen agar Nyarumkop dijadikan pusat pendidikan Dayak yang dibiayai  oleh pemerintah. Residen menyetujui dan memohon agar Mgr. Valenberg membuat daftar barang-barang yang diperlu untuk mulai lagi dengan sekolah dan asrama.

Daftar disusun dan diusulkan untuk mulai asrama bagi anak-anak perempuan dari suku Dayak. Pada 2 April 1946, usulan yang lengkap telah diserahkan Mgr. Valenberg kepada Residen. Setelah dilakukan pemeriksaan atas usulan tersebut, diberikan izin untuk membuka Kursus Untuk Guru (CVO) pada 22 Juni 1946 dengan jumlah 30 siswa dan 90 orang anak asrama untuk sekolah lanjutan.

Data perkembangan anak sekolah dapat dillihat dari catatan yang bertanggal 2 September 1946. Jumlah murid sekolah dasar sebanyak 116 anak, Sekolah Lanju­tan berjumlah 105 siswa, yang terdiri atas kelas I ada 41 pria dan 29 perempuan, Kelas II berjumlah 26 pria dan 9 perempuan,  Kelas III berjumlah 6 pria dan 5 perempuan, Kelas IVA berjumlah 34 siswa dan Kelas IVB sebanyak 42 siswa; Kelas V memiliki 29 murid. Dengan demikian jumlah keseluruhan yang menempa diri di Nyarumkop pada 1946 berjumlah 445 Siswa.

Karena jumlah anak perempuan di sekolah dasar cukup banyak, maka muncul usul agar dimulai sekolah untuk perempuan. Sekolah itu dipimpin Sr. Rufini, seorang anak perempuan dari Tomas Ngenget, yang pada awal 1932 bertugas sebagai guru SD dan guru agama. Maka pada 14 Desember 1946, Inspektur Duisterhof mengizinkan misi membuka sekolah lagi di susteran.

Baca Ini: Datangkan Guru dari Manado, Bangun Asrama untuk Menampung Anak Sekolah

Minat anak-anak untuk mengenyam pendidikan di Nyarumkop berkembang pesat. Misi mengalami kesulitan di bidang finansial. Walaupun Residen Van Der Zwaal dan Inspektur Pendidikan Duisterhof secara lisan menyetujui permohonan agar pemerintah memberi subsidi, usaha itu tidak dapat diandalkan karena tidak ada hitam di atas putih dalam surat resmi.

Pada 18 Juli 1947, Mgr Van Valenberg menghubungi Menteri Pendidikan di Batavia untuk membicarakan antara lain kesulitan CVO di Nyarumkop. Dalam kesimpulan sebagai keputusannya resmi sebagai  berikut:

  1. CVO dalam tahun 1947 belum boleh dimulai.
  2. Sekolah lanjutan disatukan dengan sekolah rakyat 3 tahun dan menjadi sekolah dasar 6 tahun.
  3. CVO boleh dimulai dalam tahun 1948.

Pada tahun ajaran baru sekolah mulai Agustus 1947 , sekolah dasar mendapat murid dengan jumlah 308 murid. Pada 15 September 1947, dibuka kembali Kursus Guru Agama. Kursus untuk Guru (CVO) dibuka untuk ajaran baru pada 1 Oktober 1948 dengan jumlah 26 orang.

Pada 25 November 1947, Inspektur Duisterhof (yang sudah kembali di tempatnya) dibantu oleh Residen Van der Zwaal soal susbsidi asrama mendapat perhatiannya. Berdasarkan situasi khusus di Borneo diusulkan agar sekolah dasar kelas empat sampai kelas enam, dipandang sebagai  pilot proyek yang diarahkan ke CVO. 

Pemerintah memberikan subsidi kepada CVO dan kepada 90 murid dari sekolah dasar. Pada 31 Desember 1947, usul itu diterima dan diputuskan agar membayar kembali segala ongkos pembukaan dan ketentuan pembayaran uang asrama sebulan Fl. 25.

Sedangkan untuk menyiapkan anak-anak perempuan agar terampil dalam hal hidup masa depannya, telah dipikirkan juga kemungkinan untuk mulai dengan Sekolah Kepandaian Puteri (SKP). Nyonya Van Rees sejak 15 Desember 1947 telah melihat kemungkinan itu. Ia mengusulkan secara resmi agar diadakan pada 8 Januari 1948. Pada 4 April 1948 telah disetujui oleh pemerintah.

Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB                     Editor: Budi Atemba

 

Artikel Lain: Baca Ini: Sekolah Pelanjau Ditutup, Misi Pendidikan Pindah ke Nyarumkop

Selengkapnya