Pastor Ignatius Diberi Kehormatan Duduk di Atas Gong Tembaga

Agustus 30, 2022
Last Updated

Pastor Ignatius sudah tiba di Bika. Karya pastoral juga sudah dimulai. Sekolah sudah menerima 11 murid pada masa-masa awal. Bahkan jumlah anak yang bersekolah makin bertambah. Para misionaris ini tak kenal lelah mewartakan kabar gembira di tengah goncangan ekonomi dunia karena dilanda perang dunia pertama.

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]


PASTOR Ignatius mengisahkan, dalam catatannya, ketika awal berkarya di Kampung Bika Nazareth.

"Stasi ini terletak masih lebih jauh di pedalaman daripada Sejiram, lebih 800 km dari Pontianak. Pada saat saya datang, saya menemukan satu rumah besar, yang disiapkan sebagai pastoran, bersama satu gedung sekolah. Gedung-gedung ini semua dibangun oleh Bruder Leopold, OFMCap yang tidak kenal lelah. Boleh dikatakan dia sendiri membangun semua itu."

Sekolah yang beberapa tahun sebelumnya hanya memulai dengan 11 anak, sekarang sudah mendapat 18 anak laki-laki Dayak yang selalu riang gembira jika pergi ke sekolah untuk belajar. Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan yang terjadi di Batang Lupar, anak-anak kurang berminat untuk menempa diri dengan pendidikan. Hal ini juga dicatat oleh Pastor Gregorius, OFMCap di kemudian hari.

“Dari pedalaman datang kemudian berita-berita yang baik dari Rumah Nazareth. Di situ ada satu asrama, dengan sekolah tiga tahun. Setiap tahun, mereka (Bika Nazaret) mampu mengirim 5 sampai 6 anak-anak untuk sekolah ke Nyarumkop. Satu hasil yang baik, stasi ini sudah punyai dua seminaris (Aloysius Ding dan Oevaang Oeray?), satu Dayak Kantuk dan satu Dayak Kayan.”

Setelah mengalami hambatan dan tantangan yang membutuhkan kesabaran, akhirnya berdiri satu kapel yang indah di Bika Nazareth. Kapel itu berada di gedung pastoran. Satu kamar berukuran 6X4 meter disulap menjadi kapel untuk berdoa dan sembahyang. Pada Hari Minggu, kapel kecil ini dipenuhi dengan orang-orang Dayak yang berkemauan baik. Jumlah mereka yang ikut dalam sembahyang pada setiap minggu itu sekitar 40 orang. Mereka datang secara teratur setiap minggu.

Dengan wilayah stasi yang cukup luas ini, mereka memiliki satu guru dan juru masak untuk pastoran. Keduanya merupakan mantan murid di Sejiram. Selain itu, terdapat tujuh umat Katolik yang masih taat pada aturan kekatolikan, yakni pantang dan puasa dalam masa Prapaskah.

Baca Ini: Stasi Bika Nazareth Dibuka, Warga Minta Supaya Ada Pastor

Saat menjajaki Kapuas Hulu untuk membuka stasi pada 1922, para pastor pernah membaptis anak-anak. Namun, lama tidak dikunjungi, anak-anak yang telah dewasa itu tidak tahu lagi cara bersembahyang. Hal ini bisa dimaklumi karena anak-anak yang dibaptis tidak dikunjungi. Selain itu, tidak ada rumah ibadah bisa menjadi faktor tersebut. Untuk itu, ada rencana membangun gereja kecil jika dana tersedia dan Allah merestui.

Pastor Ignatius berharap penuh iman:

"Semoga Allah beri rahmatnya, agar tahun depan (1926) saya dapat membangun satu gereja kecil, tentu jelas tidak sebagus seperti di Sejiram, tetapi satu rumah doa yang suci." 

Selain melayani bidang rohani, Pastor Ignatius juga disibukkan dengan peran sebagai dokter. Beberapa kali sehari, ia harus membagikan obat dan mengunjungi warga masyarakat yang sakit. Ada kebiasaan masyarakat, kalau Pastor Ignatius datang, rumah dikunjungi selalu penuh oleh warga lainnya. Bahkan Pastor Ignatius diberi kehormatan untuk duduk di atas gong yang terbuat dari tembaga.

Kalau yang sakit sudah diberi obat, Pastor Ignatius pergi ke rumah orang yang lain, yang juga sakit. Ketika keluar dari rumah, tuan berjanggut itu dikerumuni oleh anak-anak yang tidak berbaju dengan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Anak-anak terkesan tidak takut dengan tuan berjenggot. Setiap Pastor Ignatius pergi mengunjungi orang sakti, anak-anak itu juga ikut.

Pada 1 April-26 Mei 1925, Bruder Martenus datang ke Bika Nazareth. Selain beristirahat, dia juga membantu Bruder Leopold dan Pastor Ignatius di stasi tersebut. Selain membantu urusan rumah tangga, Bruder Maternus juga telah menanam 300 karet. Apa yang dilakukan Bruder Maternus itu sangat mengherankan orang-orang Dayak.

Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba

Baca Ini: Benua Banyu jadi Benua Martinus; Penghargaan bagi Martinus van Tiel atas Derma untuk Stasi

Selengkapnya