Prefek Bos Kepada Orang Dayak: Saya akan Mengunjungi Kalian!

Agustus 05, 2022
Last Updated

 

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]

PREFEKTUR Pasificus Bos dan kolega yang datang ke Borneo, tepatnya di Singkawang belum terlalu mengenal orang Dayak secara dekat dan mendalam. Orang Eropa pada umumnya tak peduli dengan orang Dayak, terutama para pegawai Pemerintah Hindia Belanda yang bekerja di tanah Borneo. Namun, orang Eropa yang berjenggot panjang dan jubah coklat dengan ber-cap (semacam penutup kepala) di punggung jubahnya, menunjukkan sikap yang berbeda.

Mereka datang dari Belanda dengan tujuan menyebarkan iman Katolik di belantara Borneo. Tugas yang diberikan Sri Paus Pius X, bagi para Kapusin yang bermisi ke Borneo cukup menantang. Hal itu dikarenakan orang Dayak dicitrakan oleh orang luar sebagai suku pengayau atau pemenggal kepala dan tinggal di hutan. Gambaran itu berubah Ketika orang-orang dari Belanda itu mengenal orang Dayak lewat perjumpaan dan kerja-kerja misi berikutnya.

Sejak tiba di Singkawang pada 30 November 1905, Bos dan kolega belum mengetahui apa-apa tentang Dayak. Setelah beberapa bulan di Singkawang, Bos dan kolega mulai mendapat kesan bahwa orang Dayak itu baik.

Baca Juga: Lama tak Ada Pastor, Gedung Pastoran di Sejiram Hampir Roboh

Kesan ini tumbuh ketika empat orang Dayak datang ke pastoran Singkawang untuk membantu pastor membersihkan halaman pastoran dan gereja. Kesan baik semakin tumbuh ketika mereka berjumpa orang-orang Dayak di Nyarumkop pada turne tanggal 4 Maret 1906.

“Kalau kalian dapat berjalan tiga hari lamanya, saya tentu mampu juga. Saya akan mengunjungi kalian!” ujar Prefektur Pasificus Bos, OFMCap saat menanyakan mengenai tempat tinggal mereka.

Atas dasar itulah yang membuat Prefek terdorong untuk mengunjungi Sejiram bekas pangkalan misi sudah ditinggalkan para pendahulunya. Ia berencana untuk melakukan perjalanan ke Sejiram dan Pontianak dengan tujuan membuka tempat misi baru, Bos berencana untuk bertemu dengan pegawai-pegawai Eropa dan serdadu Katolik di Pontianak. Perjalanan ini merupakan tugas awal pastoralnya sebagai orang yang baru lima bulan tinggal di hutan Borneo.

Pada 29 April 1906, Bos mulai melakukan perjalanan pastoral dari Singkawang menuju Pontianak. Ketika tiba di Pontianak, Prefek kecewa karena kelompok Katolik Eropa tidak hidup menurut imannya. Sedangkan orang-orang Tionghoa saat itu belum berminat untuk menganut iman Katolik.

Setelah dari Pontianak, Prefek Bos melakukan perjalanan ke Sejiram. Bos tiba di Sejiram pada 7 Mei 1906.  Bos menemukan sisa-sisa dari stasi yang telah ditinggalkan dengan kondisi gedung gereja yang rusak dan pastoran tak dapat dihuni lagi.

Artikel Selanjutnya: Berangkat ke Borneo Barat, Pasificus Bos Sampaikan Kata-kata yang bikin Haru

Penulis: Br. Kris Tampajara MTB

Editor: Budi Atemba

Selengkapnya