Sekolah Pelanjau Ditutup, Misi Pendidikan Pindah ke Nyarumkop

Agustus 13, 2022
Last Updated

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja untuk Kalimantan]

PADA 1908, Pemangkat sudah menjadi stasi misi. Sejak itu sudah menetap tenaga misionaris untuk melakukan pelayanan bagi orang-orang Tionghoa. Pastor Marcellus sebagai misionaris angkatan kedua yang tiba di Borneo pada 1906 langsung ditugaskan Prefek Bos untuk menyiapkan dan merintis pangkalan misi di Pemangkat pada 1907.  Pastor Marcellus juga diminta mencari tempat untuk karya misi pada orang Dayak.

Tak mudah bagi misionaris mencari tempat baru untuk menyebarkan Injil kepada orang Dayak. Sebelum Pastor Marcellus tiba, sudah ada karya misi di Sejiram, sebagai tempat penyebaran Injil bagi orang Dayak. Pada 1908, Pastor Marcellus yang sudah menetap di Pemangkat. Setahun kemudian, pada 1909, ia mulai melakukan penjajakan dan turne di sekitar Pemangkat untuk mencari tempat yang cocok untuk melakukan karya misi bagi orang Dayak tersebut.

Pastor Marcellus melihat peluang membuka stasi bagi orang Dayak di pesisir pantai barat Borneo, yang terletak di Kampung Pelanjau. Pada 1911, Pastor Marcellus bersama Bruder Alexius ke Pelanjau untuk membangun satu gedung sekolah. Di gedung itu disediakan satu kamar untuk pastor yang berturne.

Pada waktu itu tercatat 12 anak yang masuk sekolah di Pelanjau. Namun, ketika libur mereka tidak kembali lagi ke sekolah. Pastor Marcellus dan rekan misionaris tidak patah arang. Mereka tetap turne ke kampung Dayak untuk mempromosikan sekolah di Pelanjau. Walaupun orang tua khawatir mengirim anak-anak ke sekolah karena takut Sultan Sambas. Dalam waktu tidak lama, sekolah di Pelanjau memiliki 100 anak.

Baca Ini: Karya Misi di Laham; Dirintis Kapusin Diteruskan MSF

Sesudah berkarya tujuh tahun di Pelanjau, tiba-tiba terjadi kematian pada dua anak sekolah di Pelanjau. Berawal dari peristiwa itu, pada 1916 murid yang belajar di sekolah tersebut tersisa 25 orang. Kematian terjadi kaena ada wabah penyakit cacar.

Penyakit ini juga menelan nyawa Pastor Honoratus, OFMCap yang bertugas di Pelanjau. Sebelum di Pelanjau, Pastor Honoratus bekerja di Lanjak (Kapuas Hulu). Ia menjadi misionaris pertama yang meninggal di bumi Borneo.

Akhirnya, sekolah di Pelanjau menjadi kosong. Pastor Fulgentius menjadi misionaris terakhir yang menetap di Stasi Pelanjau. Pada Agustus 1920 sampai 1921, sekolah di Pelanjau hanya memiliki tiga orang murid. Pada akhir 1921, Stasi Pelanjau benar-benar ditutup. Hal ini yang menjadi cikal bakal akhir karya misi di bidang pendidikan di tempat itu.

Karya Pendidikan kemudian dipusatkan di Kampung Nyarumkop. Kampung yang menjadi lokasi untuk mendidik banyak anak-anak muda Dayak. Pada kemudian hari, lulusan dari sekolah di Nyarumkop menjadi pionir di berbagai bidang kehidupan masyarakat.        

Artikel Terkait: Tak Ada Orang Dayak, Karya Misi Cabut dari Long Iram

Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB        Editor: Budi Atemba

Selengkapnya