Stasi Misi Tetap Berdiri di Kota Amoi, Pater Staal jadi Pastor Pertama di Singkawang

Agustus 02, 2022
Last Updated

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]

PADA tahun 1876, daerah pantai barat Borneo (Kalimantan Barat), pelayanan misi diserahkan ke distrik gerejani Sungai Selan, Bangka. Pastor De Vries dibantu Pater WJ Staal SJ dalam memberikan pelayanan iman Katolik kepada umat di tempat tersebut.

Sementara di Singkawang, yang dikenal dengan Kota Amoi, jumlah umat Katolik pada 1874 semula sebanyak 51 orang sudah mencapai 110 orang pada 1880. Hal ini memberikan harapan agar bisa secepat mungkin mendirikan pusat misi di daerah tersebut. Perkembangan umat Katolik yang cukup pesat itu, tidak mengecewakan Gubernur General Van Rees, yang telah memberi izin agar stasi misi segera berdiri di Kalimantan Barat.


Panen cukup banyak, namun penuai sedikit. Inilah karya misi awal di Kalimantan Barat. Kendati begitu, semangat untuk mewartakan kabar gembira Injil menuju kea rah yang lebih baik.


Pada 1882, di Singkawang mulai dibangun sekolah untuk anak-anak Tionghoa. Saat itu, tercatat 324 umat Katolik di Singkawang, yang terdiri atas 58 pegawai sipil, 27 orang tentara, 142 orang dari etnis Tionghoa, sementara sisanya dari berbagai latar belakang.


Meski sudah diberi izin oleh Gubernur Van Rees untuk mendirikan stasi misi, hal itu belum bisa dilaksanakan karena masih kekurangan tenaga. Rencana itu baru terwujud pada 14 Juli 1885 di daerah pantai barat Borneo dengan pembentukan distrik gerejani.


Baca Ini: Pastor de Vries Mulai Bangun Gereja Kayu di Singkawang


Singkawang kemudian resmi menjadi stasi misi tetap. Stasi Singkawang ini terdiri atas seluruh wilayah Borneo Barat ditambah wilayah Belitung. Pater WJ Staal SJ menjadi pastor pertama di Singkawang. Dia menetap seorang diri di Singkawang untuk melayani umat selama lima tahun, yakni periode 1886-1892.


Saat itu, seluruh wilayah Nusantara atau Indonesia masih masuk wilayah Vikariat-Apostolik Batavia.  Pada 1889, Mgr. Claessens, ketika menjabag sebagai Vikaris Apostolik Batavia meminta izin pada Gubernur General agar diperbolehkan bermisi di tengah masyarakat Dayak di pedalaman dengan berpusat di Nanga-Badau. Izin tersebut diberikan pada 29 Juli 1889. Sesuai dengan usul dari Residen Borneo Barat mengenai pusat misi, agar memilih Semitau sebagai pangkal kerja.


Residen Borneo Barat beralasan situasi Batang Lupar yang kurang kondusif bagi orang asing. Untuk menangani misi di Semitau maka diutus Pastor Looymans SJ sebagai kepala misi. Surat resmi penugasan Looymans terbit pada 14 Juli 1890. Looymans dibantu oleh Pastor Staal, SJ. Kedua orang ini tiba di Semitau pada 19 Juli 1890.


Setibanya di Semitau, bersama dengan Kontroleur Semitau, keduanya melakukan kunjungan menyusuri sungai Tawang sampai Nanga badau. Kemudian berjalan kaki ke beberapa Kampung Suku Batang Lupar (Iban). Namun, pada 1891, pangkalan misi kemudian pindah ke Sejiram.


Pater Looymans meninggalkan Semitau karena tidak ada orang Dayak. Orang Dayak ke Semitau hanya saat menjual hasil pertanian dan membeli keperluan hidup. Di Sejiram, Looymans membangun rumah sederhana untuk menetap menjadi pusat misi. Sebelum pindah ke Sejiram, ia terlebih dahulu ke Singkawang selama delapan bulan karena kesehatannya terganggu. Pada November 1891, Pater Looymans kembali ke Sejiram.


Pada 29 Januari 1892, Pastor Staal meninggalkan Singkawang. Staal diganti oleh Pastor Henricus Schrader SJ. Setahun kemudian, pada 1893, Pastor Staal diangkat menjadi Vikaris Apostolik Batavia sampai meninggal pada 1897.


Pada 1892, Pastor Looymans mendapat tambahan tenaga imam untuk membantunya. Tidak berselang waktu yang lama Pastor Mulder ditarik kembali ke Batavia pada tahun 1894. Untuk mengatasi kekurangan tenaga imam tersebut maka pada tahun 1895, Tshang Kang ditunjuk sebagai katekis di Singkawang.


Penunjukkan Tshang Kang sebagai katekis di Singkawang mengantisipasi kekosongan pelayanan imam pada tahun 1896, karena Pastor Henricus Schrader pindah ke Batavia. Perpindahan Pastor Schrader, membuat Stasi Singkawang kosong sejak 1896-1898. Sedangkan Stasi Sejiram ditinggalkan pada tahun 1897.


Setelah jabatan Vikaris Apostolik Batavia kosong karena Mgr. Staal  meninggal dunia tahun 1897, maka pada 1898, Mgr. Luypen Vikaris  diangkat menjadi Vikaris Apostolik Batavia. Dalam menjalani karya pelayanan, Luypen juga membutuhkan tenaga misionaris untuk Maumere di Flores.


Menurut pandangan Luypen, pelayanan di Borneo Barat (Kalbar) tidak cukup berhasil, maka Pastor Looymans dikirim ke Maumere, Flores. Hanya sesekali Pastor Schrader berkunjung ke Singkawang dan Sejiram pada 1900. Setelah itu tidak pernah lagi ke Singkawang dan Sejiram sampai daerah ini diambil alih oleh Ordo Kapusin (OFMCap) pada tahun 1905.



Penulis: Br. Kris Tampajara MTB

Editor: Budi Atemba


Artikel Selanjutnya: Menguak Jejak Misi Katolik di Bumi Borneo

 

 

Selengkapnya