Survei Pastor Eugenius Putuskan Lanjak Cocok jadi Stasi Baru

Agustus 25, 2022
Last Updated

Ketika tiga orang Kapusin mulai berkarya di Sejiram, Kontrolir Semitau memohon agar dimulai juga stasi bagi orang kampung Batang Lupar. Namun penyakit cacar menghalangi pengabulan permohonan Kontroler Semitau tersebut. Selain itu, Prefek Bos juga merasa ada staf pemerintah yang kurang mendukung misi Katolik. Meski demikian, Bos menyetujui permohonan tersebut dengan menugaskan Pastor Eugenius yang berkarya di Sejiram untuk melakukan survei di daerah tersebut.

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]


PADA 1908, Pastor Eugenius berkunjung sekaligus survei ke Pulau Majang bersama Kontrolir Semitau. Mereka juga singgah di Lanjak dan Batang Lupar dengan jarak satu hingga satu setengah jam jalan kaki dari sungai Lanjak. Mereka juga mengunjungi Nanga Badau. Dari kunjungan tersebut, Pastor Eugenius mengambil kesimpulan bahwa Lanjak cocok untuk menjadi stasi baru dibandingkan Nanga Badau yang terlalu dekat dengan perbatasan wilayah kekuasaan Inggris.

Prefek Bos membuka stasi di Lanjak dengan mengutus Pastor Gonzalvus yang baru saja bekerja di Sejiram. Pada 15 Juli 1908, Pastor Ignatius dan Pastor Donulus tiba di Sejiram untuk mempersiapkan stasi baru tersebut.

Atas usul dari Prefek Bos, maka Pastor Gonzal­vus dan Pastor Ignatius pada 30 Juli 1908 melakukan perjalanan awal ke Lanjak. Mereka melakukan orientasi daerah tersebut untuk menentukan lokasi pembangunan rumah dan gedung sekolah yang cocok.

Baca Ini: Suster Veghel di Pontianak; Merawat Maimuna, Anak Sultan Pontianak yang Akrab Dipanggil Juliana

Pada 4 Agustus 1908, kedua pastor tersebut berkunjung ke kampung Judan yang hanya memiliki empat rumah dan  kampung Ngadit yang memiliki 18 rumah. Mereka diterima dengan baik sekali. Dalam kunjungan itu, mereka ditemani kepala distrik dan polisi bersenjata. Hal ini karena wilayah tersebut dikenal dengan daerah pengayau. Kepala distrik mengajak orang tua di Kampung Judan dan Ngadit untuk mengirim anak-anak ke sekolah.

Pada 16 Desember 1908, Pastor Gonzalvus dan Donulus membangun pondok sementara di Lanjak, yang menjadi hari paling bersejarah bagi pewartaan Injil oleh misi di daerah tersebut. Pondok itu dibangun pada bekas lahan rumah penjaga milik pemerintah Belanda. Bekas kayu yang tersisa dijadikan tiang pondok.

Pondok itu dibangun dengan lantai panggung setinggi satu meter dari tanah. Lantai pondok dari rotan dan dinding dari kulit kayu serta atap dari daun. Setelah pondok tersebut, Pastor Ignatius menyusul untuk bergabung dengan keduanya.

Pondok sederhana tersebut terlalu sempit untuk tiga orang. Mereka kemudian ingin membangun rumah yang permanen. Namun para pastor ini kesulitan mencari tenaga tukang. Orang Batang Lupar yang bersedia mematok tarif upah terlalu tinggi. Hal ini mungkin karena pengaruh dari orang yang tidak senang akan misi bahwa pastor Belanda dibiaya oleh Pemerintah Belanda dan menjadi kaya raya.

Baca Ini: Suster Veghel di Sejiram: Disambut Letusan Senapan, Diteriaki Minta Tembakau

Mereka kemudian mencari tenaga kerja dari Sejiram. Maka, pada 26 April 1909, pembangunan rumah untuk ketiga pastor yang lebih baik bisa dimulai. Namun, dua minggu kemudian, tenaga-tenaga yang terbaik pulang ke daerahnya. Ditambah lagi Pastor Gonzalvus seringkali mengalami demam oleh penyakit malaria.

Meskipun banyak tantangan dan rintangan, rumah dan dapur selesai akhir 1909. Setelah pastoran selesai, mereka mulai membangun gedung sekolah. Hal yang sama juga dialami dengan pembangunan sekolah tersebut. Berbulan-bulan, mereka mencari material untuk membangun sekolah. Awal 1910, gedung sekolah baru selesai dibangun.

Pastor  Gonzalvus maupun Pastor Ignatius mencatat, bangunan sekolah bagian bawah memiliki satu ruangan yang dapat memuat 50 murid. Pada bangunan sekolah itu terdapat tulisan menggunakan bahasa lokal, bahasa Batang Lupar, yang tertera: Anang Ngerara Anak Mit Datai Ngosong Aku, yang artinya, Jangan Menghalangi Anak-anak Datang Kepada-Ku.

Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba

Artikel Lain: Suster Veghel di Singkawang; Mengajar Anak-anak Tionghoa hingga Merawat Orang Kusta

Selengkapnya