Suster Veghel di Pontianak: Merawat Maimuna, Anak Sultan Pontianak yang Akrab Dipanggil Juliana

Agustus 24, 2022
Last Updated

Bagian terakhir dari tiga tulisan tentang karya misi Suster Veghel atau Suster SFIC di Kalimantan Barat. Bermula di Singkawang, kemudian mudik ke hulu Kapuas di Sejiram, lalu mengembangkan karya pendidikan dan kesehatan di Pontianak. Selain itu, mereka juga mulai mendidikan anak perempuan di Laham, Borneo bagian timur. Bagaimana perjuangan para suster dari Belanda itu dalam menggarami dan menerangi stasi Pontianak pada masa awal?

[Foto: Dokumen SFIC]


PADA 14 November 1910, para Suster Veghel menempati rumah di Jalan Steurweg. Sekarang jalan itu dinamakan Jalan Patimura. Di rumah itu, ada beberapa ruangan yang bisa digunakan untuk sekolah taman kanak-kanak. Suster pertama yang bertugas di Pontianak, yakni Sr. Alexia Hellings, Sr. Venantia Verhoeven, Sr. Idephonse Verhoeven yang diangkat menjadi pemimpin komunitas pertama.

Pada 3 Agustus 1913, gedung sekolah diberkati, tetapi baru ditempati pada Oktober 1913. Bidang pendidikan dan kesehatan merupakan bidang yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat zaman itu. Tentu ini menjadi tantangan besar bagi misi dalam melakukan karya pelayanan untuk masyarakat. Pontianak adalah kota pusat pemerintah di ibu kota pantai barat Borneo tersebut. Mereka mulai mendidik 18 anak perempuaan. Hal ini tidak mudah karena anak-anak belum biasa disiplin dan tertib.

Pada minggu pertama mengajar, Suster harus berjuang untuk dapat berkomunikasi dengan para murid. Seringkali komunikasi melalui bahasa tubuh. Pada awal mengajar di kelas, bahasa pengantar mula-mula bahasa Tionghoa dan Melayu. Secara perlahan, pelajaran sekolah menggunakan bahasa Belanda.

Periode 1914-1918, masa perang melanda dunia, sangat berdampak bagi kehidupan di Borneo. Akhir 1916, tercatat, 58 anak perempuan yang mengenyam pendidikan di gedung sekolah megah, yang dibangun pada 1913. Kemudian 115 anak ditampung di asrama dengan berbagai kegiatan. Sementara ada 109 orang yang dirawat di bidang kesehatan.

Baca Ini: Suster Veghel di Sejiram: Disambut Letusan Senapan, Diteriaki Minta Tembakau

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]


Ada satu anak perempuan Sultan Pontianak yang dirawat para suster sejak bayi. Anak itu dipanggil dengan nama Juliana oleh para suster. Nama aslinya ialah Maimuna. Maimuna lahir pada 3 Maret 1914. Ia sering dikunjungi oleh sultan, sehingga hubungan sultan dengan para suster dan pastor sangat baik.


Pada 1932, para suster membuka Sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijk) pertama di Pontianak. Gedung MULO terletak di Jalan Pleninweg. Sekarang menjadi Jalan AR Hakim, depan Stadion Keboen Sajoek, atau lebih dikenal dengan Lapangan PSP Pontianak.

Suster Veghel juga berkarya di bidang kesehatan. Banyak orang sakit, baik dewasa maupun anak-anak yang dibawa ke rumah suster. Bahkan, anak-anak yang tidak diterima orang tua juga ada yang dirawat. Para suster merawat dengan penuh belas kasih. Hal itu menjadi tonggak awal karya kesehatan misionaris Katolik melalui tangan-tangan kasih para suster Veghel.

Pada 1921, Prefek Bos berembuk dengan pemerintah untuk menjajaki pembangunan rumah sakit oleh misionaris. Para Suster Veghel ambil bagian dalam penanganan rumah sakit, yang kemudian dikenal dengan RSU St. Antonius. Rumah sakit ini mulai dibangun pada April 1928. Sembilan bulan kemudian, pada 31 Desember 1928, RSU St. Antonius diresmikan. Ini menjadi rumah sakit swasta bersubsidi yang dikelola oleh misi Katolik.

Baca Ini: Suster Veghel di Singkawang; Mengajar Anak-anak Tionghoa hingga Merawat Orang Kusta

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]


Selain di Borneo Barat (Singkawang, Sejiram, dan Pontianak), Suster Veghel juga berkarya di Laham, bagian timur Borneo, pada 1919. Berkarya di Laham menjadi keputusan yang berani bagi para suster untuk memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan. Prioritas pewartaan menyasar kaum perempuan.  

Ketika Pastor Egbertus jatuh sakit. Pada 1919, ia harus kembali ke Borneo Barat. Pastor Edmundus menggantikanya. Saat Pastor Edmundus berangkat ke Laham, ikut tiga suster yang diutus oleh pimpinan. Adapun tiga suster Veghel (Suster SFIC) tersebut: Sr. Alexia, Sr. Ligoria, dan Sr. Theodorata. Ketiga suster itu membantu pastor dalam pendidikan anak-anak perempuan.

Mereka menempati rumah susteran yang telah dibangun. Pada 1922, mereka mulai membuka sekolah. Setelah perang dunia kedua, seluruh karya suster Veghel di Borneo bagian timur diserahkan ke Vikariat Apostolik Samarinda. Misi Suster Veghel di Lahan berakhir pada Agustus 1932. Semua tenaga suster difokuskan ke Borneo bagian barat, walaupun sesungguhnya mereka tetap diminta Pastor J Groen, MSF untuk membuka sekolah di Banjarmasin.

Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba


Artikel Lain: Prefek Bikin Aturan, Jubah Wajib Dipakai Kecuali Waktu Malam


Selengkapnya