Suster Veghel di Sejiram: Disambut Letusan Senapan, Diteriaki Minta Tembakau

Agustus 23, 2022
Last Updated

Ini naskah kedua dari tiga tulisan kiprah para Suster Veghel atau SFIC di Kalimantan. Setelah memulai karya di Singkawang, para suster dari Belanda itu kemudian bergerak ke Sejiram. Mereka akan memberikan pelayanan kepada masyarakat Dayak di wilayah hulu Sungai Kapuas itu. Bagaimana kisah para suster tersebut?

[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]

KETIKA menerima berita bahwa suster-suster pada sore hari akan tiba, orang orang di Sejiram merasa tegang. Orang Dayak sudah lama berusaha membayangkan tentang perempuan-perempuan aneh itu, yang datang untuk mengajar anak-anak, merawat orang yang sakit, dan mendidik anak yatim-piatu.”

Begitu catatan Pastor Eugenius yang dimuat di Majalah Borneo Almanak. Banyak pertanyaan hinggap pada pikiran warga, perempuan yang dipanggil zuster itu bagaimana cara hidupnya, mengenakan pakaian apa, maksud kedatangannya untuk apa? Terlepas dari semua pertanyaan tersebut, mereka harus membiasakan diri untuk mengucapkan kata “Zuster” dengan hati-hati jika bertemu suster.

“Kami telah mendengar tentang orang Dayak dari cerita Pastor Eugenius, sehingga kami tidak terlalu kaget dengan apa yang akan kami lihat dan alami di Sejiram. Ketika sudah sampai di Sintang, kami dijemput oleh Pastor Eugenius dengan kapal dan meneruskan perjalanan ke Nanga Sejiram,” kata Sr. Fidelia, salah satu suster pertama yang diutus ke Sejiram.

Pada 1 Oktober 1908, tiga suster berangkat dari Singkawang ke Sejiram. Mereka dijemput di Sintang. Ketiga suster itu yakni Sr. Fidelia, Sr. Cajetana dan Sr. Casparine. Pada 13 Oktober 1908 pagi, para suster yang naik kapal api Kapuas tiba di Sintang. Kapal misi yang menjemput sudah siap untuk melanjutkan perjalanan ke Nanga Sejiram. Pagi hari, para suster perlu membayar lima pendayung yang kuat untuk mudik ke Sungai Seberuang.

Baca Ini: Suster Veghel di Singkawang; Mengajar Anak-anak Tionghoa hingga Merawat Orang Kusta


[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]


Pemandangan tepi Sungai Kapuas tidak begitu membosankan. Ketika lewat para suster lewat dengan perahu, mereka melihat sekelompok orang pergi ke ladang. Orang-orang itu menepi karena mereka mengenal kapal misi. Mungkin agar tidak kena gelombang sehingga dapat dengan tenang melihat para suster seperti perempuan-perempuan yang aneh.

“Ketika kami berpapasan perahu dengan mereka, secara serempak mereka berteriak: “minta tembakau Tuan!” Itulah sekilas perkenalan pertama para suster dengan orang-orang itu,” kata Sr. Fidelia.

Sekitar dua jam mudik, pukul duabelas perahu para suster masuk Sei Sebruang. Mereka harus menempuh perjalanan sekitar lima jam lagi. Sepanjang pinggir sungai Seberuang, terlihat orang Dayak pulang dari ladang menjadi pemandang baru bagi para suster. Orang Dayak masih malu. Dari kejauhan, mereka hanya mengucapkan, “tabe tuan.”  Ketika hampir mendekat tujuan, para suster disambut letusan senjata lantak dengan dua tembakan ke atas. Setelah itu, disusul dengan tembakan berikutnya diiringi pekikan.

Ketika sudah merapat di dermaga, para suster berdiri di sampan. Mereka disambut dengan meriah oleh warga dan umat Sejiram. Teriakan dan lambaian tangan tiada henti. Para suster ingin menjadi yang pertama untuk melihat tempat tinggal yang barunya. Semua orang Cina dan Dayak berpakaian pesta. Setiap orang berjabat tangan dengan orang yang baru tiba. Sesudah acara penyambutan selesai, semua pergi ke gereja kecil yang baru dihias. Mereka memanjatkan lagu syukur atas kedatangan dan keselamatan para suster.

Baca Ini: Prefek Bikin Aturan, Jubah Wajib Dipakai Kecuali Waktu Malam


[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]

Kampung Sejiram terletak arah selatan Kota Semitau, yang kala itu menjadi pangkalan pemerintahan di pedalaman Borneo. Pada 2 Oktober 1908, tiga suster tersebut mulai hidup di tengah-tengah orang Dayak. Hal itu terjadi setelah dua tahun kedatangan para suster tersebut di Singkawang. Mereka diberi tugas untuk mendidik anak-anak perempuan di asrama dan sekolah. Sedangkan para pastor, selain melakukan tugas pastoral melalui turne-turne, mereka juga mendidik anak laki-laki di sekolah dan asrama.

Para misionaris itu harus menyakinkan orang tua agar mau mengirim anaknya untuk dididik dan dibina di sekolah dan asrama. Saat awal di Sejiram, para suster mendidik dan membina 10 anak perempuan. Anak-anak itu diajarkan kerajinan tangan dan doa-doa penting.


Setelah mulai dapat beradaptasi dengan kehidupan di asrama dan mengenal pola hidup para suster dan pastor, maka tahun berikutnya anak-anak perempuan dan laki-laki memulai pelajaran di sekolah. Bukan hal yang mudah, para suster dan pastor kesulitan dalam berkomunikasi dengan anak-anak.


Namun kesulitan itu perlahan bisa diatasi. Kedua pihak, baik suster, pastor, dan anak-anak saling belajar dalam hal berbahasa. Pada tahun pertama, murid-murid sudah pandai membaca dan menulis. Sehingga menjadi lebih mudah bagi kelas pada tahun kedua. Jumlah murid yang dididik dan dibina mencapai 20 orang. Jumlah itu perlahan bertambah. Selama 1915, jumlah yang masuk asrama mencapai 39 anak. Sementara klinik yang didirikan para suster sudah merawat sekitar 84 orang sakit.


Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba


Artikel Lain: Kayuh Sepeda dari Singkawang, Prefek Menginap di Rumah Saudagar Pemilik Pabrik Kelapa

Selengkapnya