Suster Veghel di Singkawang; Mengajar Anak-anak Tionghoa hingga Merawat Orang Kusta

Agustus 22, 2022
Last Updated

 Tiga tulisan yang akan diulas oleh Kosakata akan bercerita tentang karya misi Para Suster Veghel, yang sekarang disebut sebagai Suster SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei). Karya mereka bermula di Singkawang, yang melayani pendidikan dan merawat orang-orang sakit kusta. Mereka mudik ke Sejiram untuk memberikan pelayanan kepada orang Dayak. Setelah itu, para suster melayani umat Katolik di Pontianak. Serial tulisan ini dirangkum dari Sejarah Misi Suster SFIC (untuk kalangan sendiri), Borneo Almanak yang dialihbahasakan oleh Pastor Yeremias Melis OFMCap, dan Sumbangan Gereja Kalimantanan yang dialihbahasakan oleh Pastor Amantius OFMCap.

[Foto: Borneo Almanak dan Sumbangan Gereja Kalimantan]


SETELAH
setahun di tanah misi, Prefek Pasificus Bos berniat mencari tenaga suster untuk menangani karya pendidikan dan kesehatan. Atas undangan Prefek, Pimpinan Suster Veghel (yang kemudian hari disebut Suster SFIC), Muder Columba mengutus anggotanya sebagai misionaris pertama yang dikirim ke Singkawang. Suster-suster yang diutus itu antara lain: Sr. Muder Emerentiana van Thiel dari Bake (Pimpinan Misi para Suster), Sr. Alexia Hellings dari Schijndel, Sr. Fidelia Grassens dari Gemert, Sr. Rogeria Vissers dari Veghel, Sr. Sylvestra van Grinsven dari Den Dungen.

Suasana haru saat acara perpisahan dan pemberkatan salib misi di Gereja Hortegen-Bosh. Kelima misionaris pertama para suster menuju pelabuhan Rottherdam diantar oleh Muder Columba, Pemimpin Umum Para Suster Veghel. Pada 13 Oktober 1906, Kapal Sindoro perlahan-lahan meninggalkan pelabuhan Rotherdam, diiringi cuaca dingin memasuki musim salju untuk berlayar ke Hindia Belanda. Bagi para suster, tempat misi, Borneo, membuncah ribuan tanya dalam pikiran. Ya, tanah Borneo, Tanah yang jauh di belahan selatan bola dunia.


Mereka tidak pernah berpikir akan menginjakan kaki di tanah yang masih ditutupi hutan lebat, penuh binatang liar, manusia yang masih terbelakang. Berbekal keberanian, rela berkorban, dan tulus iklas mempertaruhkan kesetiaan pada pimpinan dan iman Yesus Kristus, mereka meninggalkan negeri dan keluarganya. Bagi mereka berlaku ungkapan, “Pergi untuk tidak kembali.” Ungkapan ini sangat menakutkan. Mereka mendengar bahwa Borneo memiliki penghuni yang dikenal sebagai manusia pengayau atau pemenggal kepala.


Bersama mereka, berangkat juga misionaris Kapusin angkatan kedua dengan empat imam, yakni: Pastor Liberatus Cluts dari Exel, Pastor Marcellus Winnemuller dari Dodewaard, Pastor Gonzalvus Buil dari Pannerden, Pastor Marius Zom dari Zevenbergen dan dua bruder, yaitu: Bruder Leopoldus van Riel, Bruder Ivo van Volkel.


Pada 13 November 1906, dengan kapal Althing dari Batavia, para suster Veghel (Para Suster SFIC) berlayar menuju Borneo. Rombongan misionaris ini tiba di Singkawang pada 28 November 1906. Untuk sementara waktu, para suster menginap di rumah koster A Kang. Rumah A Kang terdiri atas empat kamar dan sebuah serambi. Selama menunggu rumah susteran selesai dibangun. Mereka mulai berinteraksi dengan masyarakat Tionghoa. Meyakinkan orang-orang Tionghoa dan memperoleh kepercayaan dari mereka.


Baca Ini: Kayuh Sepeda dari Singkawang, Prefek Menginap di Rumah Saudagar Pemilik Pabrik Kelapa


[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]


Atas bantuan para pastor Kapusin, orang Tionghoa telah membawa beberapa anak yang sakit dan cacat untuk dirawat suster. Anak-anak yang sehat untuk sekolah. Melihat kemajuan tersebut, pada 4 Oktober 1907, para suster memulai membuka sekolah dan mendidik 14 murid perempuan. Jumlah anak-anak gadis yang ingin bersekolah terus meningkat setiap tahun hingga mencapai 105 orang. Demikianlah pekerjaan awal yang mesti ditanggani oleh para suster Veghel diawal-awal kedatangan mereka.


Di Singkawang, warganya sebagian besar beretnis Tionghoa dan bekas pekerja tambang di Monterado. Mereka bertutur menggunakan bahasa Tionghoa. Para suster belum pandai bahasa Tionghoa, sedikit mengerti bahasa Melayu, maka bahasa Belanda menjadi bahasa pengantar di sekolah untuk mengajar anak-anak.


Sementara, anak-anak hanya bisa berbahasa Tionghoa. Komunikasi dalam kelas menjadi tantangan bagi para suster dan anak didiknya. Mata pelajaran yang diberikan oleh suster membutuhkan media pendukung untuk menjelaskan kepada anak-anak.


Suster Emerentiana menceritakan, ketika mengajar suster membawa bermacam-macam benda dibawa masuk untuk diperlihatkan kepada anak-anak.  Kemudian suster menyebut benda tersebut dalam bahasa Belanda. Untuk menjelaskan kata kerja lebih sulit lagi. “Kami harus berlutut, berdiri, berjalan untuk menjelaskan artinya pada anak-anak. Sedikit demi sedikit ada kemajuan,” cerita Suster Emerentiana.


Beberapa tahun kemudian, sudah ada anak-anak yang pandai membaca, menulis, dan menghitung dengan baik. Setelah tiga tahun berjalan, mereka membangun gedung yang memadai. Pada 28 Maret 1909, dilakukan pemberkatan satu gedung sekolah yang baik dan besar. Sekolah ini di bawah perlindungan St. Agnes Perawan dan Martir.


Baca Ini: Prefek BikinAturan, Jubah Wajib Dipakai Kecuali Waktu Malam


[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]


Empat tahun kemudian, sekira tahun 1911, penyakit kolera menyerang wilayah itu. Ini menjadi tantangan terbesar bagi para suster. Penyakit itu mungkin sama seperti pandemic Covid-19, yang mulai ada pada 2019. Pada 25 Juli 1911, ada enam anak meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Penyakit kolera ini yang juga telah merenggut nyawa Pastor Honoratus pada 1 September 1918, ketika bertugas sebagai pastor di Stasi Pelanjau.

Pada 1907, seorang dokter militer telah membuka sebuah klinik kesehatan rakyat di pasar. Klinik ini dibuka setiap pukul 08.00. Setiap orang atau pasien yang datang diberi obat gratis. Luka-luka dibalut. Suster-suster mendapat tugas membersihkan rumah klinik, memberi makan, dan merawat orang sakit beberapa kali sehari.


Pelayanan suster tersebut membuat seorang dokter sangat senang. Warga sangat heran sekaligus kagum melihat belas kasih begitu besar terhadap orang sakit. Dari 30 orang yang dirawat, 18 orang dinyatakan sembuh dan 12 lagi meninggal dunia. Ketika ada dokter baru, orang-orang Tionghoa tidak bersedia memberi sewa rumah untuk klinik. Akhirnya rumah klinik ditutup.


Dengan situasi tersebut, Suster-suster mulai menggunakan gudang kayu di halaman rumahnya sebagai rumah sakit. Pada 1910, dibangun satu rumah sakit kecil di bawah perlindungan Santo Vinsentius a Paulo (sekarang RSU St. Vincentius, Singkawang). Rumah sakit ini terlalu kecil karena dipenuhi pasien.


Pada 1914, diajukan permohonan subsidi dari pemerintah untuk membangun satu rumah sakit kelas 1. Pemerintah kurang merespon usulan itu. Namun, tetap bersedia memberi izin untuk membangun rumah sakit kelas 2, yang membantu orang-orang sederhana berobat.


Saat Pesta St. Vincentius a Paulo, pada 19 Juli 1917, menjadi awal bagi seorang suster melayani dan merawat orang-orang sakit kusta di kaki Gunung Syakok. Kala itu, orang-orang kusta dianggap terbuang dan diisolasi dari kehidupan masyarakat. Para suster rutin mengunjungi mereka tiga kali dalam seminggu. Sampai saat ini rumah sakit kusta masih menjadi tempat perawatan orang-orang kusta.


Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba

 

Artikel Lain: Observasi Pastor Beatus tak Surutkan Asa Prefek Bos Buka Stasi Pontianak

Selengkapnya