Antonio Ventimiglia; Seminari Tinggi yang Awalnya Belajar di Rumah Sewa

Oktober 22, 2022
Last Updated


Hingga 1990, Provinsi Gerejawi Pontianak belum memiliki Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi. Ketika itu, Provinsi Gerejawi Pontianak meliputi seluruh keuskupan di Kalimantan. Sekarang, terbagi dua yakni Pontianak dan Samarinda.

Jumlah umat yang kian berkembang mendorong Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Pietro Sambi meminta para uskup di Regio Kalimantan mendirikan seminari tinggi. Ketika sidang Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) pada November 1996 di Wisma Klender, Mgr Pietro mengingatkan kembali terkait rencana konkret pendirian seminari tinggi tersebut.

Pada 24 Januari 1997, rapat para uskup region Kalimantan di Palangka Raya, Kalteng disepakati untuk mendirikan Sekolah Tinggi Teologi (STT), yang akan menampung calon imam setelah menyelesaikan pendidikan jenjang S-1 Filsafat dan Teologia di Jawa dan Sumatra. Uskup Sanggau, Mgr Giulio Mencuccini ditunjuk sebagai ketua panitia.

Beberapa imam ditunjuk sebagai bagian dari panitia, di antaranya, Pastor William Chang sebagai sekretaris, Pastor Willy Wagemakers sebagai bendahara, dengan empat anggotanya, yakni Pastor Bartolomeus, Pastor Priyo Utomo, Pastor Linus Alinus, dan Pastor Petrus Rostandy. Pada 17 Februari 1997, panitia bertemu membahas rencana pendirian STT tersebut di Sanggau.

Pada 23 April 1997 di Jakarta, dalam pertemuan para uskup Regio Kalimantan bersama pemimpin tarekat yang berkarya di Kalimantan memutuskan tahun kuliah akan dimulai 1998, dengan program pendidikan selama dua tahun bagi calon imam yang sudah selesai studi S-1 dan telah menjalani tahun orientasi pastoral (TOP). 

Pada 15 September 1998, Uskup Agung Pontianak, Mgr Hieronimus Bumbum OFMCap mempersembahkan misa pembukaan tahun kuliah di Gereja Paroki Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD), Pontianak. Kemudian, pada 4 Oktober 1998 dilaksanakan misa romulgatio pendirian Seminari Tinggi Teologi Interdiosesan se-Regio Kalimantan.

Tiga frater pertama pada tahun pertama itu. Mereka di rumah sewa di Jalan Dr. Wahidin, Gang Sylva Jaya No. 3. Pada 1999, disewa lagi sebuah rumah karena jumlah calon imam menjadi 10 orang. Kala itu, Pastor JTC Wismapranata, imam diosesan Keuskupan Agung Semarang ditunjuk sebagai rektor seminari.

Pada Agustus 2000, calon imam mulai menempati gedung seminari di Jalan 28 Oktober No. 5, Siantan Hulu, Pontianak. Pastor Stefanus Koko Pujiwahyusulistiono, imam diosesan Keuskupan Agung Semarang ditunjuk menggantikan Pastor JTC Wismapranata sebagai rektor seminari.

Pada 25 Oktober 2000, gedung baru tersebut diberkati dalam sebuah perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Hieronimus Bumbun sebagai selebran utama dan didampingi (konselebran) oleh Mgr. Prajasoeta (Uskup Banjarmasin), Mgr. Agustinus Agus (Uskup Sintang), dan Mgr. Blasius Pudjarahrdja (Uskup Ketapang) serta 13 iman dari berbagai ordo dan kongregasi yang berkarya di Kalimantan. Hadir juga Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama, Stefanus Agus, para utusan dari Keuskupan Samarinda, Banjarmasin, Palangkaraya, Ketapang, Pontianak, Sanggau, Sintang, dan umat lainnya.

Seminari tinggi ini kemudian diberi nama Antonio Ventimiglia. Antonio merupakan pastor misionaris Katolik pertama di Kalimantan. Anggota Ordo Rohaniwan Regulir Penyenggara Ilahi atau dikenal dengan nama “Pater-pater Theantin itu tiba di Banjarmasin pada 2 Februari 1688. Ia diperkirakan wafat di pedalaman Kalimantan dengan dugaan dibunuh atau sebab lainnya pada 1690. Secara khusus seminari tersebut sebagai kontekstualisasi pendidikan calon imam. Tentu saja dalam konteks situasi Kalimantan.

Pada 2002, Pastor Stefanus Koko diganti oleh Pastor Dionisus Meligun, imam diosesan Keuskupan Sanggau, sebagai rektor seminari. Pastor Dion menjabat hingga tahun 2005. Periode 2005-2007, rektor seminari dijabat Pastor Leonardus Miau, imam diosesan Keuskupan Sintang. Kemudian periode 2007-2010, rektor dijabat oleh Pastor Laurensius Sutadi, imam diosesan Keuskupan Ketapang. Sejak 2010 hingga sekarang (2022), Pastor Edmund Nantes, OP yang memimpin seminar tersebut. Nantes didampingi Pastor Robertus Ambrosius Dhai Musa, imam diosesan Keuskupan Sintang.

Penulis: Samuel

Editor: Budi Atemba

Selengkapnya