Berbekal Koin Emas, Radio Kobus di Bawah Meja Siarkan Kekalahan Jepang

Oktober 13, 2022
Last Updated

[Kantor Residen di Pontianak - Foto: Borneo Almanak]

Ketika masih di Pontianak, Mgr. Valenberg memberikan beberapa koin emas (golden tientje) kepada beberapa pastor untuk dibawa, sebagai jaga-jaga jikalau dalam keadaan tidak ada uang dapat digunakan. Dua dari mata uang emas yang disimpan oleh Br. Bruno OFMCap itu kedapatan oleh serdadu Jepang ketika diperiksa.

Dengan segala kecerdasan dan bercampur dengan kecerdikannya, ketika Bruder Bruno dipanggil dan ditanya oleh serdadu Jepang, dengan berani dia mengatakan bahwa koin itu adalah medali rohani sebagaimana yang dipakai oleh kaum religius. Mendengar penjelasan itu, sang serdadu percaya saja, dan loloslah Bruder Bruno dari maut. Tentu hal ini menunjukkan bahwa serdadu Jepang tidak pernah melihat koin emas.

Begitu juga ketika di barak para tahanan yang dihuni para militer Inggris. Komandan Inggris menerima para serdadu Jepang dengan menyuguhkan kopi dan teh di atas meja. Sementara di bawah meja itu terdapat Radio Kobus yang sedang diam, dan tidak diperiksa oleh serdadu Jepang sampai Radio itu mengabarkan bahwa Jepang kalah pada Agustus 1945.

Dari Radio Kobus diterima berita bahwa pada Hari Maria Diberi Kabar Gembira dari Malaikat Gabriel yang jatuh pada hari Minggu, 25 Maret 1945, sementara misa berlangsung, terdengar sirine berbunyi nyaring. Dengan bunyi sirine ini tanda bahaya, sehingga di mana-mana serdadu Jepang berlari dan bersembunyi masuk dalam parit. Ternyata pesawat terbang Amerika melakukan serangan udara di langit Kota Kuching.

Dalam hati para tahanan bergumam, “Inilah saatnya menerima kabar gembira akan hari pembebasan.” Pada hari itu kapal terbang Amerika bertulisan Vliegende Forten terlihat terbang rendah di atas langit Kuching. Kapal terbang itu membuang pamflet dari pintu lambung pesawatnya. Pamflet ini berisi tulisan, “Waktu sudah dekat akan kemenangan, akan dibebaskan dari kekuasaan Jepang, nasihat diberikan untuk bulan depan, bersabarlah sebentar, kami akan datang, kami sudah dekat.”

Sejak saat itu hampir setiap hari, kapal Amerika dan kapal Australia terus meraung-raung di atas Kota Kuching. Namun para tahanan harus bersabar sampai lima bulan ke depan. Selama lima bulan menunggu kabar pembebasan, ada 134 kali sirine bahaya dibunyikan oleh Jepang di kamp. Kadang-kadang pesawat terbang pemburu Australia terbang rendah dan melambai-lambaikan tangan pada para tahanan. Mungkin pilot dan ko-pilot ingin mengejek serdadu Jepang yang tak henti menembaki pesawat itu ke segala penjuru.

Pada 15 Agustus 1945, Pesta St Maria Diangkat ke Surga, Pastor O’Brien Mill Hill, yang kembali dari barak orang Australia, membawa kabar dari Kolonel Australia yang diperolehnya dari berita Kobus bahwa Jepang meminta gencatan senjata. Tentu ini suatu kabar baik dan gembira.

Kolonel mengingatkan kepada para tahanan agar tidak menyebarkan berita tersebut sampai Kolonel Suga mengumumkan hal itu. Tiga hari kemudian Suga menceritakan bahwa bom atom Amerika telah meluluhlantakan Nagasaki dan Hiroshima, tentu ini menelan banyak korban. Pengeboman ini sangat membuat sang Kolonel Suga gelisah karena keluarganya tinggal di Hiroshima.

Pada 11 September 1945, seorang perwira mengenakan pakaian lengkap militer dengan senapan otomatis masuk ke kamp dan memberitahukan bahwa pada 12 September 1945, para tahanan dinyatakan bebas tepat pada hari pesta kelahiran St. Perawan Maria. 

Pada hari ini, para tahanan berkumpul di lapangan tengah kamp. Tidak begitu lama seorang keluar dari mobil putih Jenderal Wotten komandan Leger Corp di Pulau Labuan. Seorang Vicce-Admiral dari eskader Armada Amerika mengatakan, “Hari ini bagi saya, sama halnya dengan kemenangan pertempuran di laut.” Mendengar kata dari para pembesar itu, semua tahanan bergembira dan berteriak, “Kami Bebas!”

Saatnya situasi berbalik, serdadu-serdadu Jepang tersebut diinternir oleh tentara Ausralia. Sekarang para tahanan boleh keluar kamp dengan bebas ke kota Kuching untuk nonton bioskop dll sebagainya. Sementara itu pada sore hari ditanggal tersebut, diselenggarakan Misa Syukur di Katedral Kuching.

Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba


Artikel Lain: Dokter Tendang Uskup Valenberg, Sandi Regen Jepang Sulit Mendekat Tahanan

Selengkapnya