Bermula dari Inisiasi Bart Janssen, OFS di Pontianak Berkembang hingga Menjadi Regio Kalimantan

Oktober 25, 2022
Last Updated

[Foto: OFS Regio Kalimantan (Santa Elisabeth dari Hungaria)]

Pernah mendengar Ordo Fransiskan Sekular (OFS)? Atas permintaan awam, terutama orang-orang yang sudah menikah, tetapi ingin hidup seperti biarawan, maka Santo Fransiskus dari Asisi membentuk organisasi ini pada 1222 di Kota Bologna, Italia. Ordo Awam Fransiskan ini berisikan kaum awam yang saleh. Mereka tidak tergabung dalam ordo keagamaan. Ordo Franciscanus Saecularis ini disebut sebagai ordo sekular ketiga. 

Santo Bonaventura menggambarkan Santo Fransiskus Asisi dengan menulis, “Hatinya luluh ketika melihat orang miskin dan lemah tak berdaya. Kepada mereka, yang tidak dapat ia berikan sesuatu, ia menunjukkan sikap belarasanya kepada mereka.”

Sementara, Leonardo Boff dalam Ratapan Bumi, Jeritan Orang Miskin menulis, “Kefransiskanan semesta tidak pernah akan mati. Segala sesuatu membangun simfoni yang merdu. Allah adalah sang konduktor agung.”

Sejarah mencatat, kelompok ini telah menjadi Institut Vita Consacrata. Asosiasi awam fidelis ini mengikuti Konsili Vatikan II yang menggunakan nama Ordo Fransiskan Sekuler.

Pada 17 Maret 1993, Pastor Bart Janssen OFMcap, seorang misionaris Belanda menginisiasi pembentukan OFS di Pontianak. Pastor Bart adalah seorang imam Kapusin yang jadi pengikut Bapa Serafik Santo Fransiskus Asisi. Kala itu, Pastor Bart menjabat sebagai Provinsial Kapusin Pontianak.

Buku Sejarah Perjalanan Ordo Fransiskan Sekular Indonesia 1983-1997 yang disalin oleh Emerinciana Randang OFS Persaudaran Santo Kondradus Pontianak, kehadiran OFS di Pontianak tak terlepas dari kerja sama Pastor Benetius OFMCap, Sekretaris Jenderal OFS International yang berkedudukan di Roma, Italia.

Pada masa awal, ada 75 orang yang terdaftar ingin mengenal riwayat hidup dan semangat Santo Fransiskus dari Asisi. Mereka dibimbing oleh tiga biarawan Kapusin, yakni Pastor Johan, Pastor Surip, dan Bruder Anton Sawin. Dari 75 orang tersebut, hanya tersisa tiga orang.

Pada 17 Maret 1995, Sekretaris Jenderal OFS Internasonal, Pastor Benetius OFMCap berkunjung untuk melihat perkembangan ordo tersebut di Pontianak. Yohanes Tonteng OFS dan Bruder Anton Sawin OFMCap mengundang umat yang bersimpati melalui para pastor paroki. Hasilnya ada 45 orang anggota baru yang terdaftar. Sepuluh di antaranya berasal dari Paroki Salib Suci, Ngabang.  

Terkait pembinaan anggota, mereka bertemu dengan Provinsial Kapusin Pontianak, Pastor Samuel Oton Sidin OFMCap. Hasil pertemuan menetapkan Pastor Secundus OFMCap sebagai pendamping rohani Persaudaraan OFS Santo Kondradus Pontianak. Sementara Ketua Persaudaraan diemban oleh Yohanes Tonteng OFS.

Pada 13 Januari 1997, Bruder Anton Sawin OFMCap dan Yohanes Tonteng OFS mengikuti pelatihan bersama para frater di Nangahuta, Pematang Siantar. Pelatihan selama dua minggu itu diampu langsung oleh Sekjen OFS Internasional, Pastor Benetius OFMCap.

Konflik bernuansa etnis pada 1997 membuat aktivitas persaudaraan mengalami pasang surut, terutama yang berasal dari Paroki Ngabang tidak bisa melanjutkan keikutsertaan dalam persaudaraan.

Awal 2002, OFS di Paroki Ngabang kembali dibentuk. PK Kamisin Bs ditunjuk oleh Provinsial Kapusin Pontianak sebagai koordinator sementara. Mereka didampingi oleh Pastor Paroki Ngabang. Tiga saudara OFS, yakni MP Panjaitan, F. Kauheng, dan Jemat, dikirim mengikuti pelatihan selama dua minggu bersama para pastor, bruder, dan suster di Laverna, Sanggau.  

Pada 7-10 Februari 2000, lima saudara OFS, yakni Yohanes Tonteng, MP Panjaitan, Kauheng, Sutowijayadi, dan EM Suyati mengikuti kapitel nasiolan OFS di Muntilan, Jawa Tengah. Sebelumnya, pada Maret 1998 diadakan panggilan baru, yang berhasil merekrut 35 anggota.

Pada 10–13 Agustus 1999, Dewan OFS Nasional, FX Subroto OFS dan V. Sudiyanti OFS bertemu Uskup Agung Pontianak, MGr Hieronymus Bumbun OFMCap. Mereka mendapat persetujuan untuk secara resmi berdirinya Persaudaraan Kondradus Pontianak dengan pendamping rohani, Pastor Secundus OFMCap dan Pastor Bonifasius OFMCap. Saat itu anggotanya berjumlah 21 orang, yang terdiri atas 7 orang profesi kaul kekal,7 orang profesi sementara, 3 orang novisiat, dan 4 orang postulan.

Setiap pekan pertama dalam bulan, seluruh anggota OFS bertemu di Biara Kapusin Santo Lorenzo bersama pendamping rohani. Selain doa atau ibadat, pertemuan itu untuk tukar informasi dan makan bersama. Kemudian setiap minggu ketiga dalam bulan, mereka bertemu di rumah anggota secara bergiliran. Hal itu untuk mengenalkan OFS kepada keluarga dan masyarakat sekitar.

Banyak juga kegiatan kemanusiaan yang dilakukan anggota OFS ini, di antaranya, kunjungan ke rumah sakit jika ada anggota atau keluarga anggota yang sakit, kunjungan ke panti jompo, kunjungan ke Suster Slot di Singkawang dan Sarikan di Toho.

Selain kegiatan berkelompok, para anggota OFS juga melakukan aktivitas perorangan. Misalnya, melakukan kunjungan ke panti jompo, katekumen, dan kegiatan di paroki masing-masing. Kehadiran setiap kegiatan fluktuatif sekitar 15-16 orang. Ketidakhadiran disebabkan tugas di luar daerah.

Pada masa awal, pembinaan anggota OFS di Pontianak terbantu oleh para pastor kapusin, bruder MTB, dan suster SFIC. Namun tenaga tersebut berkurang karena ditugaskan di paroki, sekolah, rumah sakit, dan beberapa tempat lainnya.

Sejak 1997 hingga sekara, OFS telah mengalami beberapa pergantian pendamping rohani. Mulai dari Pastor Bonifasius OFMCap (meninggal dunia), Pastor Secundus OFMCap (meninggal dunia), Pastor Innocentius Sialim OFM Cap (pindah tugas), Pastor Erwin OFM Cap (pindah tugas), Pastor Yosef Astono Aji OFMCap (pindah tugas) dan sekarang Pastor Ferdinand OFMCap.

Embrio pertama dimulai dari OFS Persaudaraan Konradus Pontianak terus berkembang. Kini, sudah menjadi Regio Kalimantan Santa Elisabeth dari Hungaria. Di dalam OFS Regio Kalimantan, saat ini ada Santo Konradus Pontianak, Santo Ludovikus IX Pontianak, Santo Padre Pio Pontianak, dan Santo Konradus Singkawang yang kini sudah resmi menjadi persaudaraan sendiri dengan nama OFS Persaudaraan Santa Anggela Merici.

Penulis: Samuel OFS

Editor: Budi Atemba

Artikel Lain: Jejak Karya Kapusin di Borneo: Be A Brother For All

Selengkapnya