Bung Karno di Blitar: Sewaktu Kecil Soekarno Nakal ya?

Oktober 31, 2022
Last Updated

[Para peziarah di Makam Bung Karno di Blitar. Foto: Hilarinus]

Pada sebongkah batu berwarna hitam pekat di atas pusara makam itu tertulis: "Di sini dimakamkan Bung Karno Proklamator dan Presiden Republik Indonesia Pertama." Kemudian dijeda dengan tulisan tanggal kelahiran dan kematiannya, terpatri kalimat, "Penyambung Lidah Rakyat". 

Di samping kiri dan kanan makam Bung Karno tersebut dimakamkan juga Bapak Soekemi Sosrodihardjo dan Ibu Ida Ayu Ray Soekemi Sosrodihardjo yang merupakan orang tua Ir. Soekarno. Ketika Soekarno meninggal dunia pada 21 Juni 1970, Soeharto selaku Presiden mengambil keputusan agar Bung Karno dimakamkan di Blitar dengan pertimbangan agar dekat dengan makam Ibunya yang sangat dicintai dan disayanginya. Hal ini dikisahkan Soeharto dalam Buku Soeharto, Ucapan dan Tindakan.

Pada makam Bung Karno dan orang tuanya tersebut dibangun Joglo yang memberi kenyamanan bagi para peziarah. Di komplek utama makam tersebut berdiri juga musala dan joglo terbuka yang dapat dimanfaatkan para peziarah untuk rehat dan salat.

Sabtu siang, 22 Oktober 2022, kami tiba di komplek makam setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu jam setengah dari Kota Pare, Kediri ke Kota Blitar. Sesampai di komplek makam, kami langsung menuju ke ruang loket. Seorang petugas loket memberitahu bahwa sebelum masuk komplek utama makam Bung Karno, pengunjung harus mendaftar dan mengambil tiket dengan membayar Rp5.000. "Ini pak tiketnya untuk empat orang kan?" ujar petugas loket. Lantas kami jawab, "Siap pak! 

Tidak ada ujud khusus dalam peziarahan ini kecuali mengikuti keingintahuan akan Kota Blitar dan tempat peristirahatan terakhir Sang Proklamator Bangsa ini. Komplek makam Bung Karno ini juga terdiri atas bangunan megah Perpustakaan Nasional dan Museum Bung Karno. Pada perpustakaan tersebut tersusun dengan rapi berbagai jenis buku yang dapat diakses oleh para pengunjung.

"Silakan masuk saja pak dan isi identitas di komputer," ujar petugas yang bernama Yohanes mempersilakan saya masuk. "Hanya bapak tidak bisa meminjam buku untuk dibawa keluar komplek ini, karena bukan sebagai anggota perpustakaan tapi kalau mau membaca silakan," lanjut Yohanes.

Setelah melihat lihat buku yang tersusun rapi di rak-rak, saya ke ruang museum yang satu bangunan dan berhadapan dengan ruang perpusatakaan. Antara ruang perpustakaan dan ruang museum terdapat lorong yang di tengahnya berdiri Patung Soekarno dalam posisi sedang duduk di kursi dan sedang membaca buku sembari menatap jauh ke depan. Patung ini hendak menunjukkan bahwa Sang Proklamator adalah sosok yang berpikir jauh ke depan dengan berlandaskan pemikiran yang terinspirasi dari buku-buku yang dibacanya.

Ketika masuk pintu utama ruang museum kita langsung disambut dengan foto Bung Karno berdiri gagah sedang mengenggam tongkat komando dengan mengenakan pakaian kebesarannya. Di ruangan museum ini terdapat berbagai macam peninggalan Bung Karno semasa hidupnya.

Ada jas kebesaran yang didesain sendiri dan masih terawat dengan baik di lemari kacamata, peci, jam tangan atau arloji merek Rolex, parfum Shalimar, juga Keris Kyai Sekar Jagad serta aneka peristiwa yang terpotret pada foto-foto Bung Karno semasa perjuangan dan menjadi Presiden Republik Indonesia bertemu dengan para pemimpin dunia. Di sudut ruangan museum sebelum pintu keluar, berdiri tegak lambang negara Republik Indonesia yakni Burung Garuda.

Setelah dari makam, perpustakaan, dan museum  kami melanjutkan kunjungan ke Istana Gebang. Istana Gebang merupakan komplek rumah orang tua Soekarno dan tempat Si Bung Besar menikmati masa kecilnya. Rumah orang tua Bung Karno ini memiliki luas kurang lebih 15.000 meter persegi. Rumah yang bergaya bangunan kolonial ini dibeli oleh Bapak Soekemi Sosrodihardjo dari seorang pegawai Kereta Api di Blitar, yakni Tuan CH. Portier yang berkebangsaan Belanda pada tahun 1917 dan disinyalir bahwa rumah ini dibangun pada tahun 1884.

Istana Gebang ini beralamat di Jl. Sultan Agung No. 57-59 dan 61, Kampong Gebang, Kelurahan Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Blitar, Jawa Timur. Disebut sebagai Istana Gebang karena kawasan tersebut bernama Gebang dan mengikuti nama-nama tempat yang pernah disinggahi dan atau mengandung nilai sejarah  berkaitan dengan Ir. Soekarno sebagaimana istana lainnya (Brosur Sejarah Singkat Istana Gebang).

Pada komplek istana yang kini telah menjadi museum tidak seperti istana negara sebagaimana yang ada di Jakarta, Bogor, dan Bali. Komplek Istana Gebang terdiri atas 10 bangunan, yakni rumah induk, bangunan belakang, dua rumah keluarga, satu paviliun, Balai Kesenian, dapur rumah pembantu, bekas kandang kuda, dan lumbung.

Pada bangunan utama terdapat ruang tamu dan kamar Bung Karno masa muda serta ruang keluarga. Kemudian ada kamar tidur untuk tamu laki-laki dan tamu perempuan, serta kamar orang tua Bung Karno dan kamar ini, ketika sudah menjadi Presiden kamar ini sering menjadi kamar untuk Bung Karno jika pulang ke Blitar.

Pada ruangan-ruangan rumah ini, terdapat beberapa foto terpajang terkait dengan peristiwa sejarah dan anggota keluarga Bung Karno. Begitu juga barang-barang yang sering digunakan oleh Bung Karno. Di sudut ruang keluarga terdapat mesin ketik merek Royal di atas meja kerja milik Bapak Wardaya (ipar Bung Karno) dan mesin ketik ini seringkali dipakai juga oleh Soerkarno untuk mengetik saat berada di Blitar.

"Di sini Pak, ada sepeda yang pernah dipakai Bung Karno," kata penjaga istana menunjukkan onggokan sepeda di ruang gudang alat. Selain itu di dalam garasi terparkir mobil mercedez benz keluaran 1961 berwarna hitam yang pernah dipakai oleh Bung Karno.

Penjaga Komplek Istana Gebang kemudian menunjukkan satu bilik kecil di dekat dapur. "Ini kamar mandi di mana Soekarno kecil sering mandi di sini." Lalu saya berceloteh, "Pak, saya menduga, sewaktu kecil, Soekarno pasti nakal ya?" Sang penjaga istana cuma senyum-senyum.

Setelah puas menapak tilas tempat bersejarah terkait dengan kehidupan dan kematian Sang Bung Besar, kami kembali dengan tidak menyisakan penasaran lagi.

Sejarah telah memberi pelajaran berarti bagi generasi selanjutnya. Sejarah itu berangkat dari hal-hal sederhana setiap manusia dan dinamika hidupnya. Nilai-nilai kehidupan, cinta, pengorbanan, perjuangan, dan kesungguhan dalam menjalani panggilan hidup sebagaimana yang diberikan Sang Pencipta tergambar pada sosok Soekarno. Pemimpin itu berangkat dari kesederhanaan kemudian belajar untuk menyiapkan diri menjadi pejuang demi mengapai cinta dengan pengorbanan.

Demikianlah secuil kisah ziarah ke tempat masa kecil Bung Karno dan masa akhir hidupnya disemayamkan dalam keabadian.

Oleh: Br. Kris Tampajara, MTB

Artikel Lain: Celana Pendek, Sarung Lurik, dan Makam Gus Dur

Selengkapnya