Celana Pendek, Sarung Lurik Khas Banser NU dan Makam Gus Dur

Oktober 19, 2022
Last Updated


Jombang pada Minggu, 16 Oktober 2022. Sekira pukul 08.27, saya bersama empat teman mengayuh sepeda meninggalkan kamp menelusuri jalan perkampungan. Kami melaju melewati jalan raya Kota Pare menuju Kota Jombang. 

Peta digital menyebutkan, waktu tempuh dari Kota Pare menuju Makam Gus Dur sekira 30 menit. Kami memperkirakan jika menggunakan sepeda, maka Pondok Pesantren Tebuireng, tempat Abdurahman Wahid, Presiden Indonesia keempat sekira satu jam. Tidak ada tujuan khusus dalam ziarah kali ini. Kami hanya ingin mengunjungi makam bapak bangsa, yang berjasa bagi kemajuan demokrasi dan kemanusiaan hingga bapak keberagaman bangsa.

Ketika menjadi presiden, Gus Dur mampu menuntun bangsa secara perlahan mengarung gelombang krisis. Dia mampu melihat penderitaan rakyat Indonesia. Gus Dur banyak melakukan perubahan yang berdampak pada kemajuan bangsa, terutama pluralitas. Gus Dur memberikan keleluasan bagi warga Tionghoa untuk dapat merayakan Imlek sekaligus sebagai hari libur nasional.

Setelah mengayuh sepeda selama satu setengah jam, kami sampai di komplek Pondok Pesantren Tebuireng, tempat Gus Dur dikebumikan.

Sejarah mencatat, Pondok Pesantren Tebuireng didirikan oleh KH Hasyim Asy'ari pada tahun 1899. Pesantren ini didirikan setelah Hasyim pulang dari pengembaraan menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan terkemuka dan di tanah Mekkah, untuk mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya.

Tebuireng merupakan nama dari sebuah dusun kecil yang masuk wilayah Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Letaknya delapan kilometer di sebelah selatan kota Jombang, berada di tepi jalan raya Jombang – Kediri.

Nama Tebuireng berasal dari kebo ireng (kerbau hitam). Versi lain menyebutkan, nama Tebuireng diambil dari nama punggawa Kerajaan Majapahit yang masuk Islam kemudian tinggal di sekitar dusun tersebut.

Pada mula kegiatan dakwah KH Hasyim Asy’ari dipusatkan di sebuah bangunan yang terdiri atas dua buah ruangan kecil dari anyam-anyaman bambu, bekas sebuah warung yang luasnya kurang lebih 6 x 8 meter, yang dibeli dari seorang dalang. Satu ruang digunakan untuk kegiatan pengajian, sementara yang lain sebagai tempat tinggal bersama istrinya, Nyai Khodijah.

Saat ini, Pondok Pesantren Tebuireng telah berkembang dengan baik dan semakin mendapat perhatian dari masyarakat luas. Saat kami sampai di komplek pemakaman, kami memarkir sepeda tidak jauh dari komplek pemakaman. Mata kami langsung dicegat oleh ratusan rombongan peziarah dari berbagai daerah mengular di depan gerbang untuk antre masuk ke komplek pemakaman. Pemakaman ini juga tempat dikebumikan pendiri dan kerabat dan para pengajar Pondok Pesantren Tebuireng.

Sebelum menuju ke pemakaman keluarga besar keluarga Kyai Hadrotusyech Kyai Haji Hasyim Asy'ari (kakek Gus Dur dari pihak ayah), kami melewati bangunan di kiri kanannya berupa ruangan yang diisi dengan stan (toko) yang menjual pernak pernik seperti; sarung, kaos, jubah, sajadah, panganan. Setelah melewati bangunan tersebut terdapat ruang terbuka dan bangunan berupa joglo. Para peziarah dapat bersemedi atau berdoa di bangunan itu.


Pagi itu, di sekitaran pusara Gus Dur telah dipadati oleh para peziarah dari berbagai daerah. Lantunan Salawat dari para peziarah mengalun sahut menyahut tiada hentinya. Ada pengalaman yang unik bagi saya. Ketika hendak masuk ke dalam komplek pemakaman, saya dipanggil dengan lambaian tangan oleh seorang petugas keamanan yang sedang berjaga, persis di mulut pintu masuk pemakaman.


"Mas, dilarang masuk pake celana pendek, tapi kami pinjamkan sarung untuk mas dan nanti dikembalikan lagi setelah dari dalam," ujarnya sembari menyodorkan sarung baru yang masih dibungkus untuk saya pakai sementara.


Saya tidak berpikir bahwa untuk urusan busana komplek makam, maka dengan percaya diri saya masuk dengan bercelana pendek. Sekiranya Gus Dur melihat saya berbusana celana pendek pasti dia akan mengatakan, "gitu aja koq repot." Sebab dia juga pernah di istana negara ngeluyur dengan mengenakan celana pendek.


Setelah masuk ke dalam komplek makam, kami kembali menemui petugas keamanan tadi. Sebagaimana pesannya, sarung yang dipinjamkan harus dikembalikan. Saya menghampiri pos jaga.


"Mas maaf, karena saya sudah pakai sarung ini, saya langsung beli aja ya!"


"Wah tidak bisa, Mas. Tapi kalau Mas mau, beli sarung yang baru sebagai gantinya."  


Tanpa tunggu lama saya langsung menuju ke toko pernak pernik yang ada di situ untuk membeli sarung baru. Setelah mendapatkan sarung yang baru, sarung yang tadi saya pakai, saya kembalikan kepada petugas keamanan.


“Mas, ini ya sarungnya. Terima kasih ya atas kebaikannya,” ujarku.


Saya meninggalkan pos jaga menuju tempat parkir. Dari pengalaman ini, saya bersyukur tanpa disadari bahwa dengan mengenakan celana pendek, mungkin Gus Dur secara tidak langsung mau memberikan kenang-kenangan sarung  untuk saya. Sarung yang berwarna khas dengan lurik corak seragam Banser NU. Menurut petugas jaga, sebelumnya ada kegiatan Banser NU di komplek makam yang masih menyisakan sarung tersebut.


Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Selengkapnya