Dokter Tendang Uskup Valenberg, Sandi Regen Bikin Jepang Sulit Periksa Tahanan

Oktober 11, 2022
Last Updated

Dokter Jepang juga sadis. Mgr Tarsicius Valenberg ditendang karena perkara remeh temeh. Regen, sandi itu diucapkan ketika ada tentara Jepang mulai mendekati barak tahanan. Setiap barak memiliki kode rahasia masing-masing.

[Foto: Dokument Bruder MTB]


Suatu hari pernah juga Mgr. Tarsicius Valenberg ditendang oleh seorang dokter Jepang hanya karena perkara sepele. Ketika melihat Mgr. Valenberg ditendang, beberapa misionaris melindungi Mgr. Valenberg dengan menggelilinginya sehingga dokter itu tidak dapat meneruskan tendangannya.

 

Dalam segala penderitaan dan kemiskinan di Kamp Lintang. Para suster masih lebih baik nasibnya dibandingkan para pastor dan bruder. Kalau ada pastor atau bruder yang diminta membantu di barak perempuan, para suster masih dapat menghidangkan kue yang terbuat dari ubi dan tepung serta kopi walaupun dalam segala kemiskinannya.

 

Hampir semua penghuni kamp misionaris di malam hari diisi dengan belajar. Hitung dagang, bahasa Arab, Bahasa Melayu, bahasa Tionghoa, Bahasa Inggris, hingga Tata Buku. Di antara tahanan itu ada beberapa yang sering memberi les; seperti Br. Bernulfus, MTB memberi les bahasa Melayu dan Bahasa Arab serta tulisan steno.

 

Kemudian Br. Canisius dan Br. Valentinus memberi les bahasa Tionghoa dan tulisan Tionghoa. Br. Bruno memberi les tata buku dan hitung dagang, sedangkan untuk bahasa Inggris diberikan oleh Pastor Mill-Hill. Kemudian pada hari minggu mereka membunuh rasa sepi dengan bermain kartu dan catur atau dam.

 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di antara barak-barak tahanan memiliki kata sandi sendiri-sendiri. Apabila dalam keadaan darurat mereka diperiksa oleh serdadu Jepang atas persoalan terkait hal yang dirahasiakan oleh para tahanan. Di barak para misionaris, ada kata sandi yang mereka sepakati bersama kalau menghadapi keadaan bahaya pemeriksaan Jepang yakni kata regen yang berarti hujan dengan arti sandinya ialah bahwa Jepang mendekat, hati-hati. Jika para serdadu Jepang hendak melakukan pemeriksaan barak-barak, maka kata regen terus disampaikan ke penghuni barak berikut agar barang-barang rahasia dapat disembunyikan.

 

Tentara Inggris dalam segala keterbatasannya, Leonard AT Becket, seorang insiyur radio berpengalaman mampu merakit radio sendiri. Suku cadang dari seorang Tionghoa di Kuching yang diperoleh dengan cara menyelundup pada malam hari. Radio ini disebut dengan Kobus tetapi seringkali diberi nama lain sebagai sandi agar tidak diketahui Jepang. Bagi barak lain menyebut Kobus ini Nyonya Tua yang diletakkan di bawah meja. Sampai pada hari para tahanan dibebaskan tidak satupun serdadu Jepang mengetahui bahwa Kobus membawa berita-berita terbaru bagi tahanan.

 

Pada suatu pagi, sekitar 60 orang anggota serdadu Jepang memasuki gerbang, dengan segera kata regen diteruskan ke setiap barak. Ternyata pagi itu para serdadu hendak memeriksa seluruh barak tahanan. Namun demikian tidak satupun hal-hal yang dapat dijadikan alat untuk memberi hukuman pada tahanan.

 

Beberapa kertas catatan dengan tulisan steno dipertanyakan oleh komandan regu serdadu, tetapi toh pertanyaan itu dapat dijawab dengan tenang oleh mereka bahwa itu bukan hal yang berbahaya bagi Jepang. Semua penghuni barak dipanggil satu persatu, tanpa terkecuali Mgr. Tarsicius van Valenberg.

 

Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba

 

Artikel Lain: Tanah Lapang Belakang Katedral Kuching jadi Lokasi Makam Tahanan di Kamp Lintang

Selengkapnya