Jalan Salib Kayu Diresmikan, Uskup Agus: Simbol Semangat Damai yang Terwariskan

Oktober 31, 2022
Last Updated

[Foto: Komsos Keuskupan Agung Pontianak]

Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus meresmikan Jalan Salib Kayu di Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan, Kabupaten Mempawah pada Minggu, 30 Oktober 2022. Peresmian itu sebagai bentuk buah dari perenungan yang dalam terkait peranan Bunda Maria kepada Yesus Kristus.

Uskup Agus kerap membuat jalan salib dengan ornamen yang tak biasa. Pada beberapa stasi, jalan salib dibangun dengan kayu berukuran besar. Pada batang-batang kayu tersebut terukir patung-patung yang merupakan setiap peristiwa dalam proses jalan salib, yang menggambarkan kisah sengsara Yesus Kristus.

Di Gua Maria Anjongan, jalan salib berada di samping gua tempat umat berdoa. Kayu-kayu yang menandakan setiap proses jalan salib itu berada di rerimbunan hutan di wilayah tersebut. Pada kompleks jalan salib sudah ditata dengan rapi sehingga memudahkan para peziarah dalam mengikuti setiap tahap peristiwa jalan salib.

Pada bulan Oktober yang didedikasikan sebagai bulan Rosario, Uskup Agustinus mengungkapkan, peranan doa Rosario sangat penting. Rosario menjadi sebuah aktivitas doa suci yang didaraskan umat Allah bersama Bunda Maria dengan memohon pertolongan kepada Yesus, Putra-Nya.

Uskup Agustinus menggarisbawahi, alasan utama didirikan stasi jalan salib di Gua Maria Anjongan adalah peranan Bunda Maria yang tak terlepas dari sosok Tuhan Yesus Kristus. Bunda Maria setia mendampingi peristiwa ke peristiwa hingga bangkitnya Tuhan Yesus dari makam.

[Foto: Komsos KAP]

“Hal yang paling utama dari penghayatan pembangunan Stasi Jalan Salib di Kompleks Gua Maria ini karena peranan Bunda Maria yang setia mendampingi putranya hingga wafat dan sampai peristiwa kebangkitannya-pun Bunda Maria terlibat di dalamnya,” kata Uskup Agustinus.

Misa penutupan Bulan Maria pada 30 Oktober 2022 di Gua Maria dimulai pukul 10.00. Umat yang hadir dalam misa tersebut diperkirakan mencapai enam ribu orang. Dari area parkir hingga ke Gua Maria dipadati peziarah. Banyaknya peziarah dimanfaatkan juga bagi sebagian orang untuk membuka stan makanan dan menjual peralatan rohani.

Menurut Uskup Agustinus, ingatan hangat tentang impresi peristiwa yang pernah terjadi sejak awal berdirinya Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan adalah ‘memo’ dan simbol perdamaian penting yang mesti menjadi ukiran damai yang bisa ‘terwariskan’ sampai saat ini.

Ukiran prasasti sejarah yang diletakkan di depan Gua Maria tentang peristiwa 1967 sengaja dibuat oleh Uskup Agustinus sebagai ‘warisan semangat damai’ yang tidak boleh terlupakan oleh umat Katolik Keuskupan Agung Pontianak.

Pada 29 April 1973, Pastor Hieronymus Bumbun OFMCap pada saat itu sebagai Vikjen Keuskupan Agung Pontianak, meresmikan dan memberkati Gua Maria Anjongan yang kemudian diberi nama Gua Maria Ratu Pencinta Damai. Pemenungan yang sama itu Uskup Agustinus tuangkan dalam penghayatan pentingnya mendirikan stasi jalan salib.

“Saat Yesus disalibkan, Yesus berkata kepada Ibu-Nya, Ibu inilah anak-anak-Mu (murid-muridnya), dari sana tersirat bahwa Bunda Maria mewakili warisan suci tentang keilahian Allah dalam dunia untuk membantu anak-anaknya yang berdevosi kepada Bunda mohon pertolongan doanya,” kata Uskup Agustinus dalam homilinya.

Penulis: Samuel

Artikel Lain: Gereja Mendalam, Apresiasi Atas Dedikasi JC Oervaang Oeray

Selengkapnya