Jejak Karya Kapusin di Borneo: Be A Brother For All

Oktober 24, 2022
Last Updated

[Foto: Dokumen Kapusin Provinsi Pontianak]

Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum (OFMCap) yang akrab disebut dengan Ordo Kapusin sudah lebih satu abad berkarya di Kalimantan Barat. Mereka datang ke Singkawang pada 30 November 1905. Tahta Suci di Roma, masa Paus Pius X melalui dekrit pada 11 Februari 1905 menyerahkan pelayanan gereja seluruh Borneo kepada Kapusin Belanda. Mereka menggantikan peran Serikat Jesus yang membuka pelayanan di wilayah Borneo. 

Pada 10 April 1905, Paus Pius X kemudian mengangkat Pastor Pasificus Johanes Bos, yang ketika itu menjabat sebagai Provincial Kapusin Belanda, sebagai Prefektur Apostolik Borneo Belanda. Ada lima misionaris Kapusin dari Belanda yang menemani Prefek Bos berangkat ke Borneo pada 16 Oktober 1905.

Siapa lima misionaris Kapusin yang terpanggil dan terpilih itu? Mereka adalah Pastor Eugenius Adr V. Disseldorp, Pastor Camillus Frans Buil, Pastor Beatus Josef Bayens, Bruder Wilhelmus Johan Verhulst, dan Bruder Theodoricus Wilh Van Lanen. Ada keharuan saat mereka berpisah dengan kolega menjelang keberangkatan ke Borneo.

Pada masa kini, karya pelayanan kapusin tidak hanya di Borneo (Kalimantan). Ordo Kapusin masuk Indonesia melalui para misionaris Kapusin dari Belanda, Swis dan Jerman (untuk Nias dan Sibolga). Sejak awal, para kapusin ini berkarya di bidang keagamaan, kemudian pendidikan hingga kesehatan. Persekolahan Katolik Nyarumkop termasuk warisan berharga para misionaris Kapusin.   

Ketika membuka sekolah, para kapusin ini juga membangun asrama untuk menampung anak-anak yang jauh dari tempat tinggal. Pola ini sangat efektif untuk mendidik dan membina anak-anak. Asrama berpengaruh bagi pembinaan kepribadian anak didik. Dalam asrama diperkenalkan tata tertib dan disiplin tinggi. Hingga kini mereka masih menekuni bidang pelayanan di asrama, seperti di Nyarumkop, Pahauman, Ngabang, Pusat Damai dan Sanggau. 

Karya kapusin tidak hanya di wilayah pantai. Mereka kemudian masuk ke pedalaman. Beberapa di antaranya, di Sejiram, Benua Martinus, Lanjak, hingga ke Ketapang. Dalam perjalanan waktu, beberapa wilayah yang dibuka oleh kapusin diserahkan kepada kongregasi lain. Seperti di Serengkah yang diserahkan kepada Pasionis. Di Sintang diserahkan kepada Maria Monfortan. 

Selain melakukan karya pastoral di paroki, Kapusin juga mendirikan sekolah yang menghasilkan lulusannya memiliki ketrampilan khusus, seperti sekolah pertukangan, di Pontianak dan Singkawang, dan sekolah pertanian di Nyarumkop. 

Kapusin juga membuka sekolah bagi calon imam. Sekolah ini disebut seminari. Prefek Bos membuka seminari di Pontianak pada 1933. Namun, pada 1949, seminar di Pontianak ditutup, kemudian dipindahkan ke Nyarumkop.

Pada waktu itu, anak-anak seminari diwajibkan tinggal di asrama dengan jadwal hidup yang menolong mereka menjadi seorang imam. Perhatian bagi orang-orang sakit juga besar.

Ketika misionaris Belanda sulit memasuki Indonesia karena masalah Irian Jaya, didatangkan misionaris asal Swiss yang juga berkarya dalam bidang pelayanan rohani umat, sekolah, rumah retret dan karya sosial. 

Pada Februari 1994, Provinsi Kapusin Pontianak terbentuk. Sebagian dari anggota provinsi baru ini masih menjalani pendidikan. Hingga kini, Kapusin di Kalimantan masih menangani kerasulan parokial, pendidikan formal, serta karya kategorial yang menjunjung keadilan, kedamaian, dan keutuhan ciptaan (justice, peace and integrity of creation). 

Slogan Be a brother for all diharapkan semakin  menggema melalui cara hidup kapusin yang hari demi hari diarahkan kepada kekudusan dan pelayanan yang dilaksanakan dengan setia.

Saat ini, kapusin berkarya pada beberapa keuskupan, termasuk keuskupan di luar Kalimantan Barat, seperti Palangka Raya (Kalimantan Tengah), Medan (Sumatra Utara), dan Jakarta. Di Indonesia, mayoritas suadara Kapusin Pontianak melayani di wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Selain di Indonesia, Kapusin Pontianak ambil bagian juga dalam misi Ordo dan Gereja yang lebih luas yakni di Tiongkok, Timor L'este, Malaysia, Australia, Selandia Baru, dan Italia. Ini termasuk bagian tak terpisahkan dari kehadiran Ordo Kapusin internasional yang melayani sesama di 110 negara.(*)

Penulis: Samuel

Editor: Budi Atemba

Artikel Lain: Surat Prefek Bos yang Bikin Haru Menjelang Keberangkatan ke Borneo

Selengkapnya