Jepang Bakar Fasilitas Vital, Pontianak Bagaikan Kuburan dengan Lidah Api

Oktober 02, 2022
Last Updated

Jepang benar-benar menguasai Kalimantan Barat. Residen Spoor minta warga Pontianak untuk ambil kebutuhan pokok di gudang logistik. Jepang mulai membakar fasilitas vital. Gudang logistik dibakar. Jembatan dirusak dengan granat. Pusat listrik ANIEM (Assiciated Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij) dibakar. Pontianak bagaikan kuburan dengan lidah api pada malam harinya.

[Foto: Dokument Bruder MTB]

Sebelum Natal 1941, Bruder Edmundus, MTB, Bruder Fidelis, MTB, Bruder Damianus, MTB, Bruder Innocentius, MTB bersama Pastor Jordanus, OFMCap dan 20 Suster Veghel beserta anak-anak asrama mudik ke Sejiram untuk mengungsi.

Sedangkan Bruder Leo MTB, Bruder Alexander dan Bruder Immanuel MTB bersama suster-suster Slot di Singkawang membuat satu tempat yang aman di luar kota (mungkin di Sijangkung). Mereka berpikir untuk menghindar dari serdadu Jepang yang dikenal sangat kejam dan kasar. (bdk. Br. Bernulfus, MTB; Dokument Bruder MTB).


Pada malam hari, 26 Januari 1942, Residen Spoor di Pontianak memberi kabar pada para misionaris dan warga Belanda di Pontianak. Pasukan tentara Jepang telah mendarat di Jawai. Keesokan harinya sudah menguasai Kota Pemangkat. Dua hari kemudian, Jepang sudah menguasai Sambas dan Singkawang.


Melihat gerakan pasukan Jepang yang kian merangsek pertahanan Belanda di kota pesisir itu, maka pada 28 Januari 1942, Residen Spoor mengumumkan pada warga masyarakat di Pontianak, boleh mengambil beras, gula, minyak goreng, minyak tanah di gudang logistik pemerintah. Jepang mulai menyerang Pontianak.


Beberapa fasilitas vital mulai dihancurkan dengan beringas oleh serdadu Jepang. Pabrik karet, pabrik minyak goreng, dan gudang pelabuhan dibakar. Jembatan-jembatan dirusak dengan granat, termasuk pusat listrik ANIEM (Assiciated Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij). Sehingga malam hari Pontianak bagaikan kuburan dengan lidah api dari pabrik dan fasilitas vital yang dibakar.


Bersamaan dengan tibanya pasukan di Pontianak. Sejak saat itu berlaku tahanan rumah bagi seluruh orang Belanda tanpa terkecuali para misionaris termasuk Mgr. Tarsicius Van Valenberg. Para misionaris dan perempuan serta anak-anak Belanda ditahan di rumah bruderan MTB sedangkan tentara Belanda dan KNIL ditahan di ruang sekolah.


Bruder Bernulfus, MTB mencatat, sesuatu yang sangat keji dan biadab dipertontonkan kepada khayak umum, dilakukan oleh serdadu Jepang. “Seorang istri sersan tentara Belanda yang tidak mau memberitahu keberadaan suaminya, dengan telanjang perempuan ini dipaku di dinding rumah.”


Tiga serdadu Belanda yang melarikan diri tertangkap serdadu Jepang harus menerima perlakuan yang sangat keji. Ketiga serdadu Belanda ini dirantai kemudian dijemur di Larive Park selama tiga hari. Setelah itu mereka digiring ke halaman depan rumah kediaman Uskup (Vikariat) di tepi sungai Kapuas.


Kepala ketiga orang tersebut dipenggal dengan samurai. Jasadnya dibuang di Sungai Kapuas. Kekejian itu dipertontonkan pada khalayak ramai yang dipaksa tentara Jepang untuk menghadiri pemenggalan kepala serdadu Belanda tersebut.


Dalam keadaan seperti ini, Mgr. Tarsicius van Valenberg sebagai gembala dan pemimpin misi tidak berdaya menghadapi kekejaman Jepang. Beberapa kali Mgr. Valenberg mengirim surat pada komandan pasukan Jepang agar para misionaris dapat diberi keleluasaan. Namun, permintaan itu tidak digubris.


Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba


Artikel Lain: Sekolah Misi di Jalan Bali Dibom Jepang, 27 Siswa Dinyatakan Tewas

Selengkapnya