PJ Denggol; Katekis yang Diburu Kempetai Jepang (Part-2)

Oktober 30, 2022
Last Updated

[Bertemu Presiden Soeharto di Istana Negara, Jakarta pada tahun 1971 - Foto: Dok. Pribadi]

Pada 1918, Prefek Apostolik Borneo, Pasificus Johannes Bos berkunjung kedua kalinya ke wilayah Ketapang. Kunjungan kedua itu, Bos langsung ke Serengkah.
Para Imam Kapusin yang datang dari Pontianak melihat banyak anak-anak orang Dayak di Serengkah yang tidak mempunyai orangtua utuh. Mereka hanya mempunyai ibu dan tidak mempunyai ayah  sebagai akibat perang Tumbang Titi. 

Pada 1918, para misionaris  mendirikan sekolah di Serengkah. Pada masa itu, sebagian orang Dayak baru mengenal budaya baca tulis. Agama Katolik mulai diperkenalkan kepada penduduk. Ketika berusia 10 tahun, berbekal semangat tinggi untuk mengubah nasib, Denggol mulai bersekolah dengan berjalan kaki pulang pergi dari kampungnya.

Denggol pergi ke sekolah berjalan kaki dari Kampung Beringin menuju Serengkah yang jaraknya sekitar 10 km melalui jalan setapak. Denggol diantar orangtua angkatnya ke sekolah menuju Serengkah melewati hutan rimba. Atas kebaikan hati, Tan A Hak, guru Agama Katolik, Denggol diberi izin menumpang dan dilatih bekerja di rumah orang yang ditinggalinya, membantu pekerjaan seperti menoreh getah. Ia juga bekerja memelihara hewan ternak seperti babi dan ayam. Melihat kerajinan dan kecerdasan Denggol, Tan A Hak mendorongnya untuk bersekolah di Pontianak.

Menurut cerita Suster Agneta, biarawati dari Konggregasi Suster Santo Agustinus (OSA) dalam acara Seratus Tahun Misi di Serengkah, seperti yang diceritakan kepada Maria Loretta Denggol, sebagai berikut: Kata Tan A Hak yang merupakan bapak Suster Agneta bercerita, “Kalau tidak sekolah tidak jadi apa-apa. Jadi harus bersekolah.” Bapak Suster Agneta mengirim Denggol ke Pontianak untuk sekolah. Tan A Hak mengirim pesan kepada pastor di Pontianak, “Asal anak lelaki yang membawa ayam jago, itulah anak yang harus sekolah.”

Bapak Suster Agneta juga berpesan kepadanya, “Anakku ini juga harus disekolahkan. Setelah orangtua Sr. Agneta meninggal. Yohanes Denggol (anak PJ Denggol nomor 4) datang ke Serengkah mengambil Lioba Nailoy untuk dibawa bersekolah di susteran Ketapang. Ketika itu ada Sekolah Kepandaian Putri (SKP), sampai akhirnya menjadi biarawati dengan nama Suster Agneta. Pernah bertugas sebagai tenaga kesehatan di Rumah Sakit Menyumbung, ibu kota Kecamatan Hulu Sungai. Sekarang (tahun 2022), Suster Agneta tinggal di biara OSA Ketapang. 

Pada 1890, misionaris Katolik yang berkedudukan di Semitau  mendirikan sekolah dan gereja di Sejiram. Dengan bantuan gereja Katolik Roma, misionaris membuka sekolah lima tahun di Nyarumkop di wilayah Kesultanan Sambas. Misionaris juga membuka sekolah guru (Cursus Normal) kemudian berubah menjadi sekolah pendidikan guru (Cursus Volksschool Onderwijner). Lulusan sekolah ini dapat  melanjutkan pendidikan ke sekolah seminari tingkat pertama di Pontianak atau Sekolah Guru Katolik (Normaal School) di Tomohon, Sulawesi Utara.

Orang Dayak menyebut para misionaris itu sebagai hantu berjanggut panjang, berkulit putih, dan berbaju hitam. Di sekolah, mereka mengajarkan berbagai pengetahuan dan ketrampilan dasar pada orang Dayak. Di gereja dan kehidupan sehari-hari, misionaris menyebarkan ajaran agama, pemimpin spiritual, dan pemimpin bagi umatnya. Dengan cara ini, orang-orang Dayak secara berangsur-angsur menganut agama Katolik dan meyakini nilai-nilai yang secara inheren ada pada metode sosialisasinya. Selain itu dengan masuk Kristen atau Katolik, orang Dayak tetap merasa dirinya sebagai orang Dayak.

Tahun 1933–1941, pendidikan seminari diadakan di Pontianak. Seminari menjadi tempat persemaian pertama untuk orang Dayak di Kalimantan. Tahun 1949, pendidikan seminari diadakan di Nyarumkop lagi. Tahun 1954, atas persetujuan Mgr Van Valenberg dibangun dengan fasilitas asrama SMP menerima untuk siswa, yang kemudian diberi nama Timonong. Fasilitas asrama ini cukup besar. Selain digunakan untuk siswa SMP, juga untuk siswa SGB yang kemudian menjadi SGA dan SPG. SGB belajar menggunakan dua kelas pertanian dan satu lokal SMP.

Dalam perkembangannya, murid SMP digabung dalam Asrama Timonong, sedangkan siswa SMA Seminari di Asrama Widya. Tahun 1950, SMP Timonong terus berkembang dengan tenaga pengajar para Bruder MTB. SMP menjadi dasar untuk masuk SMA Seminari yang pendidikannya tujuh tahun. Ada dua SMP yang programnya sama yakni, SMP Seminari dan SMP Timonong. Tahun 1984, kedua SMP ini disatukan juga asramanya. SPG pindah dan menempati gedung baru di dalam komplek seminari. SMA seminari mulai berkembang. 

Penulis: Paulus Lukas Denggol

Editor: Budi Atemba

Artikel Lain: PJ Denggol;Katekis yang Diburu Kempetai Jepang (Part -1)

Selengkapnya