Seribu Tahanan Dipaksa jadi Kuda Beban Ikuti Serdadu Jepang Memikul Logistik ke Randau

Oktober 16, 2022
Last Updated

[Foto: Dokument Bruder MTB]

Pada 25 September 1945, hari penyerahan kekuasaan Jepang kepada militer Ausralia di Pontianak. Dalam peristiwa ini, Mgr. Valenberg juga ikut bersama regu perwira Australia. Di Pontianak, Mgr. Valenberg diterima dengan hormat dan kegembiraan besar.


Saat itu juga Mgr. Valenberg bertemu dengan Pastor Pasifikus Bong, OFMCap yang sebelumnya diisukan dibunuh juga oleh Jepang. Namun penjara Mempawah yang menyelamatkannya. Ketika semua orang-orang berpengaruh dan penting di Kalbar dari berbagai suku dibawa ke pembantaian Mandor, Pastor Pasifikus Bong, OFMCap sedang di penjara sehingga luput dan dapat lolos dari jerat maut.

 

Akhirnya waktu dinantikan telah tiba bagi para tawanan untuk benar-benar bebas dari komplek Kamp Bukit Lintang dan kota Kuching pada 30 September 1945. Para tahanan meninggalkan kamp dan Kota Kuching dengan kapal perang Amerika menuju ke Pulau Labuan dekat Brunai Darusalam. Di Pulai Labuan ini para tahanan Jepang dipulihkan kesehatan jiwa dan raganya. Semua mereka diperiksa kesehatannya di rumah sakit tentara yang ada di situ. 

 

Boleh dikatakan di Labuan ini para misionaris benar-benar menikmati hari yang begitu bebas. Mereka boleh berenang sepuasnya dan berjalan-jalan serta makan makanan yang bergizi. Di Labuan ini markas besar Legerkorps Australia. Di sini dilengkapi oleh tenda-tenda besar untuk para tahanan menginap. Ada juga gereja sementara dengan tenda besar dan dilayani oleh imam tentara yang berjumlah 6 orang. Saat di Labuan, datang juga perwakilan NICA (Netherlands Indisch Civil Administration). Dari NICA misionaris mendapat uang saku untuk membeli oleh–oleh yang akan dibawa ke Borneo Barat.

 

Namun sangat mengerikan kisah-kisah para tahanan dalam beberapa surat rahasia Jepang yang diketahui oleh mereka sendiri setelah dibebaskan. Setelah mereka mengetahui hal yang sangat mengerikan itu, mereka baru sadar bahwa sejumlah 250 orang yang ditahan di Kamp Lintang. Semuanya dibawa ke Yesselton dan dibunuh oleh Jepang. Bahkan Mgr. Wachter dengan sembilan imam dibunuh dan mayatnya dibuang dan tidak pernah ditemukan sampai saat ini.

 

Yang sangat mengerikan lagi bahwa di Kamp Sandakan, jumlah tahanan pada awal masuk sebanyak 2.700 orang, dari jumlah tersebut 200 orang dipindahkan di Kuching. Kemudian 1.500 orang meninggal dunia karena disiksa dan penyakit akibat kurang makan. Kemudian 1.000 orang dipaksa menjadi “kuda beban” mengikuti serdadu Jepang memikul logistik ke Randau yang jaraknya 300 kilometer di pengunungan hutan rimba. Dari seribu orang tahanan tersebut, hanya 143 orang yang benar-benar sampai ke Randau, yang lainnya dibunuh di hutan belantara.  Kemudian dari 143 orang yang sampai di Randau hanya 6 orang yang berani melawan dan melarikan diri ketika hendak dibunuh.

 

Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba

 

Artikel Lain: Berbekal Koin Emas, Radio Kobus di Bawah Meja Siarkan Kekalahan Jepang

Selengkapnya