Silenzio di Asisi; Pengalaman Ziarah dan Mimpi untuk Kembali

Oktober 07, 2022
Last Updated


Siapa yang dapat memastikan masa depan? Atau meramal dengan yakin bahwa suatu ketika akan terjadi peristiwa ini dan itu? Satu pun tidak ada yang bisa? Berawal dari Kapitel atau sederhananya boleh dikatakan sebagai Musyawarah Besar Tarekat Bruder MTB Indonesia 2017. Kebetulan saja saya dipilih oleh anggota Sidang Kapitel Bruder MTB Provinsi Indoensia sebagai utusan dari Indonesia untuk mengikuti Kapitel Umum di Belanda.

Rapat akbar para Bruder MTB itu disebut Kapitel Umum. Diselenggarakan di Huijbergen, yang terletak di perbatasan antara Belgia dan Belanda. Kurang lebih dua jam perjalanan dari Bandara Schipol menuju ke Huijbergen. Di Huijbergen ada Rumah Induk atau Mother House sebagai cikal bakal bertumbuh dan berkembangnya kongregasi Bruder Congregasi Fraternitas Huijbergen (CFH) yang di Indonesia dikenal dengan sebutan para Bruder MTB.


Bulan September menjadi bulan berdirinya Kongregasi Bruder MTB. Sebagaimana tradisi kongregasi, maka setiap enam tahun sekali pada September selalu diadakan Kapitel Provinsi dan Kapitel Umum untuk memilih pemimpin dan dewannya serta keputusan-keputusan penting kongregasi. Ah, sebenarnya saya bukan orang penting, hanya saya termasuk salah satu orang yang beruntung, karena boleh ikut dalam proses kapitel ini sampai ke Negeri Kincir Angin, tentu sejara akan mencatatnya dalam memorial Kongregasi Bruder MTB.

 

Mengapa saya mengatakan sebuah keberuntungan? Ya, karena dapat mengikuti sidang Kapitel dengan segala agenda yang penuh dengan diskusi serius tentang masa depan kongregasi dan persoalannya. Lebih beruntung lagi karena saya bersama rombongan utusan dari Indonesia diberi kesempatan untuk ziarah ke Roma dan Asisi. Tentu, pertama-tama dalam tulisan ini sekadar untuk berbagi pengalaman semata, siapa tahu pembaca juga memiliki keberuntungan yang sama seperti yang saya alami. Ya, siapa tahu rezeki setiap orang. Semoga.

 

Untuk itu, dalam tulisan ini saya hanya ingin bercerita tentang perziarahan kami di Kota Roma dan Kota Asisi, karena kedua kota ini memiliki situs sejarah dunia.  Adapun situs-situs sejarah tersebut hanya diketahui melalui pelajaran sejarah dunia, dan pada kesempatan ziarah ini saya dapat melihat secara langsung situs-situs sejarah tersebut. Tentu selain alasan tersebut, saya juga dapat menikmati obyek-obyek wisata rohani. Asyik bukan? Tentu donk karena ini suatu kesempatan yang tidak datang untuk kedua kalinya. Sebenarnya September 2014, saya juga pernah berziarah ke kota yang sama, pada moment yang sama pula, tetapi ziarah kali ini sebagai sebuah perziarahan yang mengingatkan saya pada perjalanan hidup saya sendiri. Ya…..perjalanan hidup perlu di beri makna agar semakin berarti bagi sesama.

 

Subuh di Huijbergen, Siang di Roma

 

Hari Jumat, 28 Oktober 2017, pukul 03.00 waktu Belanda, kami sudah beranjak dari ranjang dan terus bersiap menuju ke bandara Schipol Amsterdam. Bruder Eduard dan Bruder Joos sudah siap menyetir kendaraan untuk mengantar kami ke bandara. Beliau berdua merupakan sopir andalan bagi para bruder di Rumah Bruder di Huijbergen. Pukul 04.00 waktu Belanda, rombongan ziarah yang terdiri atas Bruder Thomas, Bruder Gabriel, Bruder Rafael, Bruder Libertus, Bruder Vianey, Bruder Flavianus, Bruder Dionisius, Bruder John Kedang, dan saya bergegas menuju lokasi parkir kendaraan, kemudian menempatkan diri pada kendaraan masing-masing sesuai dengan yang ditentukan oleh kepala rombongan.

 

Suhu udara sesubuh itu sangat lah menusuk tulang, apalagi rasa mengantuk masih mendera. Dari Huijbergen menuju bandara Schipol menelan waktu kurang lebih dua jam. Pukul 06.03 waktu Belanda, kami sampai di Bandara Schipol. Tanpa menunggu, Bruder Thomas langsung melakukan check in. Kami masuk ke ruang tunggu, syukurlah tidak ada halangan berarti ketika di bagian pemeriksaan saat boarding pass. Hanya saya harus merelakan minuman jus jeruk dalam kemasan botol kotak yang volumenya 250 ml ditinggalkan. Aturan di Bandara Schipol, barang bentuk cairan hanya diperbolehkan dengan maksimal volume 200 ml.

 

Ada petugas di bagian boarding pass yang mengenal wajah Asia langsung bertanya. “kamu orang Indonesia ya? tanyanya. “Bukan, saya dari Borneo. Kalimantan,” jawab saya spontan. Oh, baik,” ujarnya dalam bahasa Indonesia yang kaku sembari memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia dan spontan menyanyikan lagu burung kakak tua sembari senyum-senyum.

 

Kurang lebih setengah jam menunggu di ruang keberangkatan. Pukul 06.45, kami antre masuk ke pesawat KLM dengan tujuan Bandara Leonardo da Vinci, Roma. Sesuai dengan tiket, pukul 07.30 pesawat take off. Kurang lebih dua jam penerbangan atau pukul 09.30, pesawat KLM telah landing di Bandara Leonardo Da Vinci, Roma. Tidak jauh berbeda dari Belanda, cuaca dingin menyergap tubuh. Tentu tidak sedingin negeri Belanda, sebab Italia merupakan daerah subtropis.

 

Satu persatu penumpang keluar dari lambung pesawat. Rombongan kami langsung menuju ke Stasiun Fiumicino Termini untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke Asisi. Setelah sampai di Stasiun Termini, Bruder Thomas sebagai kepala jalan langsung mencari tiket tujuan Asisi. Selesai urusan tiket, kami masing-masing diberi tiket kereta api.

 

“Nanti kita akan berangkat pukul 02.00 waktu Italia menuju Asisi, untuk itu silakan para saudara mencari makan siang masing-masing,” ujar Bruder Thomas.

 

“Ini mau makan apa ya?” gumamku. Teman-teman rombongan pada masing-masing mencari stan makanan di luar terminal. Lagi-lagi Bruder Thomas mengingatkan kami agar satu jam sebelum kereta berangkat, semua sudah berkumpul di loket jurusan Asisi.

 

Agar tidak terlalu repot, saya mencari makan siang di dalam stasiun yang menyediakan steak, hotdog, pizza hut, dsbnya. Sebagai orang asing, persoalan bahasa menjadi kendala utama dalam hal komunikasi ketika hendak berbelanja. Hal ini saya alami selama ziarah. Dengan bahasa Inggris yang miskin, saya mulai mencari makanan yang cukup buat menganjal perut.

 

That. I want Vegatano and coffee,” ujarku sembari menunjuk tulisan yang tertera pada jenis makanan yang saya maksud.

 

Oooohhh, okey,” jawab pramusaji.

 

Orang Italia juga tidak begitu fasih dalam berbahasa Inggris. Seven and fivety cent euro,kata pramusaja Sembari menyodorkan makanan. Saya menyerahkan lembaran uang kertas 10 Euro.

 

“Gracie,ujarku sembari mengambil Euro recehan bersamaan dengan memegang kopi dan vegatano makanan yang asing untuk perut orang kampong.

 

“Yang penting perut diganjal sajalah,” gumamku.

 

Di Stasium Termini ini juga, kami bersua dengan seorang Pastor Pasionis yang berasal dari Balai Berkuak dan juga Suster Charitas dari Palembang. Satu pesan yang diselipkan pada telinga kami.

 

Saudara, hati-hati ya. Kalau di tempat keramaian, dompet atau tas cangklong benar-benar dijaga karena di sini kadang-kadang ada copet,” tutur pastor dan suster yang sudah kurang lebih dua tahun studi di Roma.

 

Kemudian mereka memberi nasihat lain. “Nanti kalau naik kereta, jangan lupa tiketnya divalidasi di tempat mesin validitas yang tersedia di bagian pintu masuk ke dalam kereta api, katanya mengingatkan.

 

Mari kita siap-siap menuju ke loket kereta api tujuan Asisi,ujar Bruder Thomas sembari mengabsen anggota rombongan. Setelah anggota rombongan lengkap, kami menuju ke loket kereta api. Menurut jadwal, kereta api dari Stasiun Termini akan meluncur pukul 14.30 waktu Italia. Adapun rute yang akan dilalui, dari Termini melewati stasiun Orte, kemudian ke Narni, singgah sebentar di Terni. Dari stasiun Terni kemudian stasiun Guincano, lalu ke Baibano terus lanjut ke stasiun Spoleto setelah itu stasiun Campelo, Trevi, Foligno kemudian melewati Spello dan akhirnya sampai di Asisi.

 

Sepanjang perjalanan, di kiri kanan rel kereta api, mata kita disuguhi dengan pemandangan hamparan lahan pertanian dan kota-kota lama Italia yang terletak di lereng-lereng bukit batu kapur yang dulu seringkali saya didengar dikala pelajaran sejarah Fransiskan. Sesampainya di Asisi, kami bergegas menuju halte menunggu bus yang mengantar ke tempat peneginapan.

 

“Kita nanti naik bus jalur C,” kata Bruder Thomas setelah ia bertanya pada petugas loket. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, tibalah bus yang dimaksud. Kami beranjak dari stasiun menuju Kota Asisi yang terletak di lereng bukit. Setelah sampai di halte, kami turun lalu bergegas menuju penginapan yang jaraknya kurang lebih 10 menit berjalan kaki dari halte. Penginapan ini merupakan sebuah rumah biara milik Para Suster Fransiskan. Biara tempat kami menginap ini juga tidak jauh dari Basilica St. Clara.

 

Cuaca Asisi cukup bersahabat, sebagaimana iklim di Italia umumnya termasuk dalam iklim subtropis. Pada malam harinya setelah bersusah payah menentukan di mana makan malam dan apa yang mau kita makan, maka diputuskan makan malam di sebuah lapak makan yang dikenal dengan sebutan “Restorante yang sesuai dengan isi dompet backpacker. Meskipun isi euro cekak tetapi white wine mesti disajikan sebagai tanda tiba di tanah kelahiran Sang Santo Fransiskus Asisi.

 

Kado Ultah di Rivo Torto


Setelah melewati malam dengan tidur nyeyak, berkat  white wine atau di Asisi dikenal dengan sebutan wino bianco, sedikit membuat peredaran darah lancar sehingga tidur pun pulas. Memang setiap kamar disediakan dua ranjang untuk dua orang. Kamar tidur sangat sederhana dengan ukuran kost-kost mahasiswa. Kamar tersebut dilengkapi dengan kamar mandi didalamnya. “Kamu, jangan merokok di dalam kamar atau dalam rumah ya?” demikian seorang bruder mengingatkan saya setelah membaca sebuah kalimat berbahasa Italia, “Vietato Fumare” yang tertera pada dinding lorong kamar.

 

Pada 29 Oktober 2017, kami memulai peziarahan ke situs-situs bersejarah dalam tradisi ke-Fransiskan-an. Hari ini kita akan ke Rivo Torto dan Portiunzula-Maria Degli Angeli,ujar Bruder Thomas ketika sarapan pagi.

 

Sepotong roti kecil agak keras untuk digigit dan tentu khas Italia, ditemani kopi panas dengan sedikit campur susu murni, nampaknya cukup buat sarapan perut orang-orang Italia, tetapi untuk perut Indonesia masih perlu asupan lainnya. Maka tidak heran ada beberapa saudara mulai kasak-kusuk sambil menghitung berapa euro lagi yang tersisa pada dompet dan saku celana untuk membeli roti tambahan sebagai bekal perjalanan seharian.

 

“Pukul 09.30 (waktu Italia) kita berangkat bersama menuju ke halte bus jurusan Rivo Torto,” lagi Bruder Thomas mengingatkan kami.

 

Setelah jarum jam menunjuk pukul 09.30, kami beranjak dari penginapan menuju halte yang tidak jauh dari penginapan. Kurang lebih 15 menit menunggu, bus menuju ke Rivo Torto tiba. Kami naik dengan berbekal tiket. Rivo Torto merupakan tempat St. Fransiskus Asisi dan para saudara memulai hidup dan tinggal bersama di sebuah pondok ladang milik petani. Sampai pada suatu waktu sang petani pemilik pondok itu mengusir Fransiskus dan sahabat-sahabatnya agar tidak tinggal di situ.

 

Sesampai di Rivo Torto, kami langsung menuju gereja. Di dalam gereja masih berdiri kokoh pondok tempat tinggal St. Fransiskus dan para sahabat awalnya. Pondok ini memiliki tinggi kurang lebih dua meter dengan di dinding yang terbuat dari bata coklat tanpa daun pintu. Kemudian atapnya terbuat dari genteng dengan kayu bulat sebagai rangka penopang atap.

 

Pondok yang berukuran kurang lebih 6x5 meter persegi ini terbagi menjadi dua bagian. Satu bagian untuk tempat untuk bersemedi/doa dan satu bagiannya untuk kumpul sebagai ruang tamu bersama. Para pengunjung diperbolehkan masuk ke dalam pondok ini, berdoa merupakan suatu tempat yang tepat di dalam pondok tersebut sembari berimajinasi pada zaman Fransiskus.

 

Di samping gereja tersebut terdapat satu selokan yang sudah kering. Selokan ini dulunya dikenal sebagai sungai yang bengkok/tikungan dalam bahasa Italia disebut Rivo yang berarti sungai dan Torto berarti bengkokan/tikungan. Setelah ber-selfie ria dan sesi foto-foto, kami menuju ke Portiunzula dan Basilika Maria Degli Angeli dengan jarak kurang lebih 5 km. Lumayan buat olahraga siang itu, syukur terik matahari tidak sepanas kota Khatulistiwa.

 

Perjalanan dari Rivo Torto menelan waktu kurang lebih 1,5 jam, menyusuri trotoar jalan raya yang hanya kami sendiri yang melewatinya. Kurang lebih di pertengahan jalan terdapat tikungan dan persis di tikungan tersebut ada kapel Maria Magdalena. Ketika kami melewati kapel tersebut, pintunya tertutup. Hanya karena penasaran maka kami bisa masuk. Kehadiran kami di sekitar kapel tersebut mengundang anjing penjaga kapel yang di rumah terletak tidak jauh dari kapel tersebut mengonggong. Muncul seorang nenek menghampiri kami dan menyapa dengan bahasa Italia. Tak satupun kami yang mengerti, akhirnya kami menggunakan bahasa isyarat bahwa kami mau melihat dan berdoa dalam kapel tersebut. Akhirnya kami diperbolehkan oleh nenek tua itu dengan meminta kami sabar, karena dia mencari kunci pintu kapel.

 

Pada tahun 2010, kapel ini pernah disinggahi oleh Paus Benediktus XVI ketika kunjungan pastoralnya ke Asisi. Hal ini dapat dilihat pada plakat yang bertuliskan keterangan tersebut pada dinding samping pintu masuk.

 

Setelah berdoa, kami pamit dengan nenek itu dengan mengucapkan, “Gracie.” Artinya terima kasih. Kami melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan terbagi menjadi dua rombongan. Saya masuk rombongan dengan Bruder Thomas, Bruder Liber, Bruder Vianey, dan Bruder Kedang, sedangkan rombongan yang lainnya lebih cepat jalannya.

 

Karena sudah siang dan waktunya makan siang. Kami sembari berjalan melihat di sekitar stasiun kereta ada sebuah Mc Donald. Kami segera menuju ke arah McD tersebut. Mungkin pengunjung yang lain agak geli melihat polah tingkah kami, yang kebingungan mau memesan menu makanan. Lalu seorang di antara kami mulai membuka fitur menu pada mesin berbentuk kotak sebesar kulkas.

 

“Coba lihat pengunjung lain dulu bagaimana cara memesan makanannya? celetuk salah seorang teman. Lalu kami mulai tekan tombol-tombol aplikasi pada layar sentuh mesin itu, lalu memilih menu. Setelah itu baru keluar sepotong kertas dengan tulisan menu yang kita pesan lengkap dengan minumannya. Struk tersebut kita serahkan kepada pramusaji setelah itu kami duduk sesuai dengan selera maisng-masing sembari menunggu makanan disajikan. Kurang lebih 15 menit makanan dan minuman dalam penampan disajikan di hadapan kami.

 

Yah. Kenyang! Usai melahap menu makanan McD, kami terus berjalan sembari tertawa terkekeh-kekeh tertawa mengingat keluguan dan kepolosan di tengah modernitas. Itulah sebuah realitas bahwa kemajuan zaman mesti diikuti agar tidak ketinggalan.

 

Ah. Sekarang kami tinggalkan keluguan itu. Kembali mengayunkan langkah menuju Basilika Maria Degli Angeli. Kami harus menunggu di halaman Basilica karena pintu Basilica belum dibuka. Sesuai dengan informasi yang kami peroleh pintu akan dibuka pada pukul 15.00. Sembari menunggu pintu dibuka, kami duduk-duduk di kursi taman dan memerhatikan lalu lalang orang yang diperiksa oleh beberapa penjaga keamanan berseragam tentara Italia dengan berpakaian lengkap dan memegang senjata laras panjang.

 

Pintu sudah dibuka,” salah seorang teman sedikit berteriak. Spontan kami bergegas tanpa menuggu lama untuk masuk bersama para peziarah lainnya. Di dalam Basilica terdapat Kapel Portiunzula tempat St. Fransiskus Asisi bersama pengikut pertamanya seringkali membenamkan diri untuk berdoa.

 

Para pengunjung dari berbagai negara tampak sibuk menikmati keindahan ikon-ikon yang melukiskan momen sejarah Fransiskus Asisi. Berlutut, duduk, lalu hening merupakan sikap yang lazim pagi pengunjung di Basilika Maria Degli Angeli (Ratu Para Malaikat). Saya sendiri tidak luput dari sikap itu, sembari menikmati dan mengecap betapa perjalanan sejarah abad pertengahan terpatri dalam Kaptel Portiunzula.

 

Setelah itu saya berkeliling menyusuri lorong menuju ke taman mawar. Ada tanaman mawar dan patung Fransiskus Asisi menjinakkan serigala berdiri tegak di tengah taman. Setelah puas menikmati mawar-mawar di taman, saya mengayunkan langkah mengikuti arah keluar, di sudut lorong saya dicegat oleh patung St. Fransiskus Asisi berukuran dua meter yang sedang memegang sebuah keranjang kecil. Konon yang selalu dikisahkan para peziarah bahwa keranjang kecil tersebut ternyata menjadi tempat aman bagi burung-burung merpati bertelur dan berkembang biak. Sekarang saya lihat secara langsung kebenaran kisah itu, yang pada saat saya lewat ada seekor burung merpati sedang bertelur di keranjang tersebut.

 

Setelah melewati taman mawar, kami terus menyusuri lorong dengan dinding bata merah gelap tanda usianya beratus-ratus tahun. Lalu masuk sebuah ruangan yang menyediakan suvenir dan pernik-pernik seperti kalung tao, rosario, salib, gambar ikon yang semuanya bernuansa rohani, bahkan ada parfum atau pengharum ruangan berwujud bunga mawar yang baunya sangat harum.

 

Pintu keluar lorong tersebut ternyata bermuara pada satu ruangan devosionalia yang menyediakan berbagai benda-benda devosi yang terkait dengan kisah St. Fransiskus Asisi. Ada macam-macam benda yang dipajang di etalase, tentu untuk itu saya harus sekali lagi berhitung kembali dengan Euro yang ada di dompet. Sebagai tanda mata beberapa Euro harus dilepas dari kantong untuk oleh-oleh kerabat dekat. Tentu para pengunjung lainnya tidak mau ketinggalan untuk merogoh kocek membeli beberapa tanda mata sebagai oleh-oleh dibawa pulang.

 

Setelah puas dimanjakan dengan seni karya tangan khas Italia di ruang devosionalia, kami kembali ke tempat penginapan, karena hari sudah mulai menjelang senja. Kali ini untuk kembali ke penginapan kami menunggu bus di depan Basilica. Tinggal tunggu bus jurusan ke tempat penginapan. Demikianlah hari pertama di Asisi.

 

Hari ini menjadi sangat istimewa bagi saya. Selain gereja seluruh dunia merayakan hari Malaikat Agung, bagi saya hari ini merupakan ulang tahun ke-39. Tidak ada hal-hal yang istimewa dalam perayaan hari kelahiran saya kali ini, kecuali dirayakan dengan santap malam di Restorante Italia dengan sebotol white wine bersulang dengan para bruder yang lain dengan ditemani keratan daging sapi Italia. Ini menjadi kado istimewa bagi saya terutama memiliki kesempatan oleh Sang Pencipta untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah dalam khazanah spiritualitas Fransiskan. Terimakasih Tuhan.”

 

Alun-alun Kota dan Ketelanjangan

 


Fransiskus Asisi perlahan-lahan menuju tengah kerumunan warga Kota Asisi yang sedang berkumpul di alun-alun kota yang dikenal dengan sebutan Piazza Del Commune. Sosok pemuda kurus kering tersebut lalu berdiri di hadapan Uskup Guido, perlahan tangan pemuda itu melepaskan helai demi helai pakaian yang dikenakannya.

 

Mulai sekarang aku tidak lagi menyebut Pietro Bernadone sebagai Bapakku. Sekarang aku menyebut Bapakku yang ada di surga. Demikianlah adegan yang melegenda dalam perjalanan sejarah pertobatan Fransiskus yang terjadi pada tahun 1209. Aku tercengung sejenak membayangkan betapa kala itu suasana orang-orang di alun-alun kota tersebut menegangkan melihat sosok pemuda kurus kering dan dekil lalu melepaskan pakaiannya sebagai simbol pertobatan.

 

“Hari ini, kita tidak perlu tergesa-gesa karena semua tempat yang akan dikunjungi berada di dalam kota Asisi,” ujar Bruder Thomas pada kami di penghujung sarapan pagi. Hari ini, kami akan mengunjungi Basilika St. Clara yang tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap, kurang lebih 15 menit berjalan kami menyusuri Jalan Via Borgo Aretino.

 

Di Jalan Borgo Aretino setiap hari Sabtu salah satu sisi bahu jalan diperbolehkan untuk para pedagang kaki lima menjajakan barang dagangannya. Semacam pasar murah. “Pedagang kaki lima menyediakan berbagai jenis barang kelontong seperti keperluan rumah tangga, alat-alat dapur, pakaian anak-anak dan kaum ibu, buah-buahan, keju, kentang, hingga roti,” ujar Suster Rosa, asal India yang berkarya di Rumah Penginapan Tarekatnya di Asisi. Pagi ini, Sabtu 30 September 2017, cukup ramai para pengunjung dan warga setempat yang berinteraksi di pasar kaget ini, terutama pengunjung yang datang menikmati hari akhir pekannya.

 

Memasuki bulan Oktober bagi warga Asisi merupakan suatu rahmat. Karena pada bulan Oktober merupakan peringatan bagi Santo Fransiskus dari Asisi yang dikenal di seluruh dunia sebagai sosok orang suci yang mencintai lingkungan hidup.

 

Pagi ini juga terlihat beberapa rombongan ziarah yang kukira berasal dari negara di luar Italia. Mereka berkelompok dengan satu pemandu yang menuntun mereka mengunjungi situs-situs sejarah antara lain situs sejarah terkait dengan St. Clara dan St. Fransiskus. Tidak terkecuali kami. Pada hari ini situs sejarah yang akan kami kunjungi ialah Basilica St. Clara, Basilica St. Fransiskus Asisi, Basilika St. Rufinus, dan situs-situs lainnya yang ada di kota Asisi

 

Dalam Basilica St. Clara ini terdapat makam sang santa. Kami selalu diingatkan oleh teman. “Nanti jangan coba-coba kita jepret sembarangan di situs makam St. Clara karena petugas siap menegur. Tetapi saya sedikit mengabaikan pesan tersebut. Saya ambil kamera dan langsung jeprat-jepret pada sosok jasad manusia yang berbaring di peti kaca tersebut yang tidak lain adalah jenazah St. Clara yang terbaring kaku. Peti itu diletakkan di ruang bawah tanah dengan dibatas jeruji besi. Setelah itu kami kembali melakukan perjalanan ke situs rumah Pietro Bernardone dan Dona Pica yang merupakan orang tua Fransiskus Asisi.

 

Hanya menelan waktu 5 menit berjalan dari Basilika St. Clara, kami sudah sampai di rumah orang tua Fransiskus yang sudah direnovasi. Sekarang menjadi gereja Chiesa Nouva (gereja baru). Entere/spiringer yang berarti masuk tertera di setiap pintu masuk bangunan bersejarah. Demikianlah plakat yang tertera pada di pintu bekas rumah orang tua St. Fransiskus.

 

Di halaman bangun ini terdapat patung Pietro Bernardone dan Dona Pica dengan memegang rantai menjuntai. Hal ini menunjukkan bahwa dia yang melepaskan Fransiskus dari penjara di rumahnya. Di dalam salah satu bangunan rumah tersebut, terdapat satu ruangan sempit yang dinyatakan sebagai tempat Fransiskus di penjara oleh orang tuanya karena melakukan pemborosan terhadap harta orang tuanya. Lalu setelah itu ada pintu keluar dengan trap-trap untuk menuju ke satu raungan di bawahnya, yang diyakini sebagai tempat Fransiskus dilahirkan.

 

Setelah dari rumah orang tua Fransiskus, kami menuju ke Chiesa St. Maria Magiore, tetapi saya dan Bruder Vianey kehilangan jejak rombongan. Kami terus menyusuri jalan Arcopri Ori menuju ke Piassa Vescolvado kemudian menyusuri Jalan Apolinaire sampai pada Jalan Do Borgo Santo Pietro. Kami berdua masuk ke dalam biara tua Abbazia St. Pietro. Di halaman biara ini terdapat patung mendiang Sri Puas Yohanes Paulus II dengan kedua tangannya terbentang memberkati arah kota.

 

Karena sudah terlanjur berjalan terpisah dengan rombongan, kami menuju ke Basilika St. Fransiskus Asisi yang menurut rencana besok minggu baru dikunjungi sekaligus mengikuti perayaan ekaristi. Dengan menyusuri Jalan Frate Elia, kami sampai pada komplek Basilika Fransiskus Asisi. Kami melihat pengunjung yang lain sudah mengantre di pintu pemeriksaan petugas keamanan. Tentara dan polisi Italis yang bertubuh gempal tegak tinggi besar dengan senapang laras panjang siap diselempangkan di depan dadanya.

 

“Bourjono. Sorry, open your bag!” (Selamat pagi, maaf buka tas anda) perintah polisi Italia. Spontan saya membuka tas selempang yang isinya terdiri atas paspor dan recehan uang euro, power bank, dan beberapa bekas tiket bus yang hanya disimpan sebagai kenangan saja. “Si. Grazie,” (Ya. Terima kasih) katanya lalu mempersilakan kami masuk.

 

Saat masuk ke Basilica, kami melihat beberapa petugas yang memakai rompi volunteer mengarahkan para pengunjung yang berjubel mau masuk ke dalam Basilica. Sssssst. Silenzio. No foto. No picture,” suara petugas mengingatkan pengunjung setiap ada suara berisik dan blitz dari kamera-kamera pengunjung mengambil objek ikon dan mozaik pada dinding dan jendela Basilika.

 

Saya dan Bruder Vianey langsung menuju ke lorong bawah Basilika tempat tubuh St. Fransiskus Asisi disemayamkan bersama ketiga sahabatnya, Maseo, Rufino, dan Leo. Di ruang bawah Basilica ini para pengunjung termasuk kami berdoa sejenak dan merenung-renung dengan menggali ingatan tentang kisah-kisah Fransiskus dalam buku Tiga Sahabat. Dalam Basilica ini terdapat lukisan ikon mengenai perjalanan hidup Santo Fransiskus Asisi. Basilika ini dikelola oleh Ordo Saudara Dina Conventual (OFMConventual), termasuk juga stan devosionalia yang tidak pernah sepi oleh pengunjung. Setelah dari Basilika St. Fransiskus Asisi, kami meneruskan ziarah ke San Damiano pada pukul 15.00 waktu Italia.

 

Ya. San Damiano. Tempat Para Claris tinggal. Tempat ini sangat terkenal bagi setiap Fransiskan/nes (pengikut spiritualitas Fransiskan). San Damiano bagi St. Clara dan pengikutnya merupakan tempat memulai pertobatan. San Damiano juga merupakan tempat yang sangat bersejarah dalam perjalanan hidup St. Fransiskus Asisi. Di Kapel San Damiano ini, mendengar panggilan Tuhan ketika sedang khusuk berdoa di depan salib, sayup-sayup ia mendengar suara Tuhan yang mengatakan, “Fransiskus perbaikilah rumahKu yang mau roboh ini.”

 

Dari Kapel San Damiano, Fransiskus mengawali hidup pertobatan dengan berusaha memperbaiki gereja San Damiano yang kala itu rusak parah. Kemudian setelah St. Clara bergabung dalam barisan pengikutnya, maka San Damiano diserahkan bagi St. Clara dan para pengikutnya untuk memulai hidup pertobatan dalam kemiskinan, ketaatan, dan kemurnian.

 

Di dalam Kapel San Damiano, satu persatu ruangan bersejarah itu kami kunjungi. Ada ruang makan, ruang doa, ruang menerima tamu dengan masih mempertahankan bentuk aslinya. Pada bangunan atas, kita dapat menemukan tempat St. Clara wafat yang persis berada di sudut ruangan. Setelah itu dari lantai loteng pengunjung dapat menikmati pemandangan ke arah pebukitan di sekitar Asisi. Turun dari loteng para pengunjung langsung disuguhi dengan berbagai jenis kembang warna warni yang ditanam di taman, di tengah taman terdapat sebuah sumur tua. Demikianlah San Damiano sebuah situs sejarah bagi Fransiskus dan para pengikutnya dalam peziarahan dan pertobatan sebagai orang beriman.

 

Silenzio di Basilika St. Fransiskus Asisi

 

Minggu, 1 Oktober 2017, pukul 07.30 waktu Italia atau pukul 12.30 waktu Indonesia bagian barat, kami beribadat di kapel susteran tempat menginap. Kapel suster begitu sederhana dan bersahaja. Altar tanpa dihiasi rangkai bunga. Terpampang di dinding Salib San Damiano sebagaimana menjadi sebuah ciri khas salib bagi para pengikut Fransiskus.

 

“Kita, pukul 09.00 saja berangkat ke Basilika karena ekaristi dimulai pukul 11.00,” ujar kepala rombongan mengingatkan kami. Ternyata ekaristi di Basilika St. Fransiskus pukul 10.30, karena beranggapan pukul 11.00 ekaristi dimulai, maka kami berleha-leha di jalan sehingga kami agak terlambat, karena untuk perjalanan dari penginapan menuju ke Basilika St. Fransiskus menelan waktu  45 menit. Jalan gang di Kota Asisi berundak dan kadang menurun tajam karena kota ini berada di lereng bukit. Setelah sampai di Basilika semua tempat duduk sudah diisi penuh, akhirnya kami mengikuti perayakan ekaristi dari awal sampai akhir dengan posisi berdiri bersama para peziarah yang lain yang mengalami hal yang sama dengan kami. Ekaristi menggunakan bahasa Italia dan dipimpin oleh Pastor Fransiskan Conventual (OFMCov).

 

Usai ekaristi, kami berbaur dengan berjubel pengunjung lain keluar dari Basilika. Ada kejadian yang cukup menyedot perhatian para pengunjung kala itu. Ketika melihat kelompok koor yang baru saja bertugas melayani ekaristi keluar di halaman, kami spontan meminta berpose bersama pada salah satu anggota koor tersebut. Ia kemudian memberitahu teman-temannya. “Wwoouuuwww. Indonesia. Mari, mari kita foto. Ayo teman-teman, kita foto dengan Indonesia,” demikian salah seorang pria anggota koor mengajak teman-temannya. Setelah itu kami spontan menyanyikan lagu “Laudato Si Mi Signore” yang membuat mereka sontak mengernyitkan dahi karena kami tidak begitu hafal syairnya. Begitulah kami membuat heboh di pelataran Basilika Fransiskus Asisi.

 

Setelah sesi foto-foto, kami bergegas menuju ke tempat devosionalia yang berada di bagian bawah Basilica untuk mencari oleh-oleh. Sekali lagi di ruang devosionalia ini, kami harus pandai-pandai mengatur keluarnya Euro dari saku dan dompet masing-masing berpindah ke laci uang Fransiskan Conventual. Ketika urusan suvenir selesai, kami menuju Katedral St. Rufino dan sekaligus dalam perjalanan mencari stan makanan untuk makan siang.

 

Suatu pengalaman mengelikan, bagi saya, dasar tidak mengerti bahasa Italia dan kurang menguasai bahasa Inggris. Saat membeli makanan selalu saja dengan hati-hati untuk menunjukkan gambar makanan yang dipajang di etalase. “This one and Cola,” sebuah ujaran yang saya ucapkan pada pramuniaga. Lalu dijawab oleh pramuniaga “Okey. Seven Euro,” jawabanya spontan lalu mengambil makanan yang di Indonesia kita sebut Hot Dog. Makanan dibungkus dengan kertas, sembari kami menyodorkan euro sesuai dengan harga yang disebut. Pada umumnya makanan Italia bagi lidah Indonesia tidak terlalu cocok, hanya perut harus diisi agar tidak masuk angin.

 

Setelah melahap makan siang dengan minuman cola, kami meneruskan perjalanan menuju ke Roca Maggiore yang memiliki arti Benteng Besar. Roca Magiora dibangun di atas kota Asisi. Ketika kita berada di menara pengintai, tampak sebuah pemandangan hamparan lembah Umbria dan seluruh kota Asisi. Saya dan salah seorang teman masuk ke dalam banteng tersebut. Di dalam bangunan banteng tersebut terdapat ruangan-ruangan yang menjadi tempat memajang beberapa alat-alat perang, pistol, senapan lantak, baju jirah, pedang, helmet, dsbnya. Puas menikmati perlengkapan perang, kami menaiki tangga menara pengintai musuh.

 

Untuk itu kami harus melewati trap-trap dengan lorong yang sempit, sesekali mengintip dari jendela menara yang berbentuk bulat untuk melihat ke arah hamparan lembah Umbria dan kota Asisi. Tentu kala itu, gerak gerik musuh dapat dilihat dari jendela pengintai ini, sehingga pasukan diberi isyarat untuk menyerang lawan. Karena memang pada kala itu perang antarkota menjadi lazim untuk mempertahankan kekuasaan para pemimpin kota. Demikianlah kami menghabiskan waktu ziarah di kota St. Fransiskus yang bertepatan pada bulan di mana kota Asisi memperingati sang santo dari kota tersebut.

 

Aku Kembali lagi Ke Roma

 


Pada Senin, 2 Oktober 2017. Suster, hari ini kami pamit ya,” ujar Bruder Thomas dengan bahasa Inggris pada Suster Kora dan Suster Krisma yang bertugas khusus mengurus tamu penginapan yang dikelola oleh tarekat mereka (Suster Fransiskan Hati Kudus Yesus). Sr. Kora yang berwajah oriental ternyata berasal dari Mindanao Filipina, sedangkan Sr. Krisma berasal dari Timor Leste. Sesekali kami berkomunikasi dengan Sr. Krisma dengan bahasa Indonesia.

 

Usai sarapan pagi, kami mengucapkan terima kasih atas pelayanan para suster selama berada di Asisi. Secara spontan ada teman langsung melantunkan sebuah lagu “Terima kasih Seribu” dan “Terima kasih Tuhan”. Tentu setelah itu tidak lupa sesi foto-foto sebagai kenangan dengan para suster yang begitu bersahaja melayani kami selama beberapa hari di rumah mereka.

 

Bruder Thomas selalu tidak lupa melaksanakan tugasnya sebagai kepala rombongan. “Pukul 10.00 semuanya sudah siap beranjak meninggalkan penginapan menuju ke halte bus di dekat Porta Nouva (Gapura Baru), jangan sampai lupa barang-barang pribadi,” ujarnya. Pada waktu yang ditentukan, semua punggung dibebani tas ransel yang sudah bertambah berat oleh barang-barang suvenir. “Ayo. Kita jalan,” ujar Bruder Thomas. Kami mengekorinya setelah bersalaman-salaman dengan para suster sebagai tanda pamit untuk terakhir kali dengan mereka.

 

Kurang lebih 15 menit menunggu di halte, bus Fermata tiba dan kami langsung naik ke dalam bus. Tentu tidak lupa validasi tiket pada mesin yang tersedia di samping sopir. Ini dilakukan agar tidak didenda oleh petugas. Transportasi di Asisi sebagaimana di Italia selalu tepat waktu sesuai dengan jadwal yang tertera pada setiap halte. Dengan demikian para peziarah sangat dipermudah untuk melakukan rencana perjalanan.

 

Kurang lebih 10 menit perjalanan bus Fermata dari halte tadi kami sampai di Stasiun Kereta Api Asisi. Kepala rombongan langsung membeli tiket tujuan Asisi ke Roma. “Nanti pukul 14.00 waktu Italia kereta baru tiba,” ujar Bruder Thomas sembari membagikan tiket pada kami masing-masing. Intinya kami harus menunggu satu jam tiga puluh menit sesuai dengan jadwal kereta api menuju ke Roma. Sembari menunggu kami membunuh kebosanan dengan foto-foto, yang mungkin suatu perilaku yang aneh bagi orang Asisi.

 

Perjalanan dari Asisi menuju Roma menelan waktu dua jam tiga puluh menit. Kereta api memiliki beberapa gerbong dengan setiap gerbong memiliki tempat duduk yang nyaman, tas, dan barang bawaan disimpan di bagasi yang terdapat di atas tempat duduk. Sepanjang perjalanan kita dapat menikmati suguhan hamparan lahan pertanian yang baru diolah. Beberapa kebun anggur yang terletak dipetak pekarangan rumah. Rumah-rumah penduduk banyak terletak di lereng-lereng bukit kapur berundak-undak rapi. Sesekali kita juga memasuki lorong gelap kurang lebih lima menit. Agar tidak menjenuhkan dalam perjalanan tersebut ada teman-teman yang bermain kartu remi, tetapi ada juga yang membunuh kejenuhan dengan melelapkan diri dengan tidur, sampai rem kereta api berhenti di tujuan.

 

Sampailah kami di stasiun Termini, Roma. Stasiun ini merupakan stasiun pusat yang begitu sibuk. Di sini kurang lebih seperti tempat sebuah pusat pertemuan budaya segala bangsa. Kita dapat menjumpai orang-orang yang berasal dari berbagai negara. Umumnya di Termini terdapat wajah-wajah Afrika dan Asia lalu lalang di pelataran stasiun dan parkiran. Kebanyakan mereka yang menjadi calo-calo di Stasiun Termini berwajah Afrika, Asia menawarkan jasanya pada para wisatawan yang datang ke Roma. Tidak menunggu lama, karena tempat menginap tidak terlalu jauh dari stasiun, kami berjalan menyusuri trotoar kota Roma yang terbuat dari batu-batu kali yang kuat. Sesekali rombongan terkekeh-kekeh mentertawakan kekonyolan diri sendiri. Kurang lebih setengah jam perjalanan kami sampai di tempat penginapan. Namun sebelum ke tempat penginapan kami mampir di rumah para suster Putri Rienha Rosari (PRR).

 

Suster Penjaga Uskup Militer

 

Rumah Para Susteran PRR, satu gedung dengan Wisma Uskup Militer, sebab mereka khusus bertugas sebagai pelayan rumah di Wisma Uskup Militer yang dalam bahasa Italianya “Ordinariato Militare Per L’Italia”. Tempat tinggal para suster ini mengambil satu ruangan ruangan besar dalam bagunan Wisma Uskup Militer. Wisma ini berlantai empat dan terletak di pusat kota Roma.  Letaknya terhimpit antara gedung-gedung tua di jalan Salita Del Grillo 37-00184 ROMA.

 

“Waktu kalian mau mengunjungi kami di sini, kami sudah melaporkan kepada bagian resepsionis militer, jadi kedatangan para bruder tadi sudah diketahui oleh mereka,” tutur seorang Suster sembari mempersilakan kami duduk setelah kami masuk ruang tamu di lantai empat. Sofa empuk yang mungkin saja pernah diduduki Uskup Militer, saat ini kami duduki untuk melepas penat selama perjalanan dari Asisi.

 

“Mari kita minum teh dan kopi dulu,” Suster Pimpinan Rumah menawarkan pada kami sebagai tanda keramahan orang Indonesia. “Setelah nge-teh dan ngopi, kita akan lihat kota Roma dari balkon atas ya?” lanjutnya membuat kami penasaran akan pemandangan kota Roma.

 

“Kenapa suster-suster bisa kerja di tempat elit seperti ini?” tanya salah seorang dari rombongan kami.

 

“Dulu ada seorang pastor SVD yang studi di Roma. Kemudian dia memiliki teman seorang pastor Italia. Suatu ketika Uskup Militer ini mencari tarekat suster untuk membantu mengurus rumah tangga Wisma Keuskupan. Lalu teman dari Pastor SVD tersebut bertanya dengan padanya. Apakah anda punya kenalan dari tarekat suster yang bersedia berkarya di bagian rumah tangga di Wisma Uskup Militer. Karena pastor SVD ini kenal dengan Sr Gratiana, PRR yang juga pernah studi di Roma. Maka pastor tersebut meminta pada pimpinan PRR di Larantuka, apakah suster PRR punya tenaga untuk membantu rumah tangga di Wisma Uskup Militer di Roma. Demikian singkatnya mengapa kami bisa kerja di sini,” seorang suster berkisah pada kami.

 

Dasar orang kepo, maka satu pertanyaan lagi dilontarkan seorang teman pada suster-suster. “Suster, apakah setiap kunjungan pastoral, para suster juga ikut?”

 

“Ya, kadang kami ikut tetapi kadang tidak, tetapi tergantung permintaan Uskup sendiri. Yah, pernah ketika ziarah ke Lourdes, Uskup meminta kami ikut dan sekaligus ziarah, tetapi kalau acara-cara resmi di Kota Roma jarang kami ikut,” tutur seorang suster yang sudah sembilan tahun tinggal di Roma.

 

“Mengenai komunikasi bagaimana suster?” lanjut temanku ingin tahu.

 

“Kalau kita di sini memang harus bahasa Italia. Bagi suster Indonesia yang baru datang bertugas di sini, mereka harus kursus bahasa Italia selama satu tahun. Yah semuanya bisa dipelajari kalau ada kemauan,” ungkap seorang suster.

 

“Daripada banyak tanya-tanya, lebih baik kita minum dulu,” timpal seorang teman. Kami pindah tempat duduk ke ruang refter. Menurut penuturan suster-suster, kadang bapak Uskup juga ikut makan bersama mereka, terlebih kalau ada di tempat. “Oh, lupa nanti habis minum dan snack, kita akan naik ke atas balkon biasa tempat kami santai-santai atau sekadar buat acara kecil jika ada ulang tahun,” ujar seorang suster menimpali.

 

Setelah menyerumput teh dan kopi, kami bergegas menaiki tangga menuju balkon Wisma Uskup Militer. Dari atas balkon tersebut, kita dapat menikmati pemandangan kota Roma. Termasuk reruntuhan kota Romawi kuno. Selesai menyeruput kopi dan teh, kami diajak menapaki tangga berbentuk spiral untuk sampai di balkon paling atas dari gedung tersebut. Di sini kami dapat memandang hamparan gedung tua dan bekas-bekas reruntuhan kota lama Roma.

 

Puas memanjakan mata dengan menikmati pemandangan kota, pada senja hari dari Balkon Wisma Uskup Militer ini,  kami diantar oleh seorang suster menuju ke tempat penginapan yang jaraknya kurang lebih 15 menit berjalan kaki dari Wisma Uskup Militer.

 

Para saudara tolong kumpulkan paspor kalian untuk dicatat oleh suster,” kata Bruder Thomas pada kami saat registrasi di ruang resepsionis penginapan. Setelah proses registrasi, kami masing-masing mendapat satu peta kota Roma dan kunci kamar. Kami bergegas menuju ke kamar untuk rehat sejenak.

 

Pada umumnya penginapan di Roma hanya menyediakan sarapan pagi saja, sedangkan makan siang dan malam di harapkan para penginap mencari di luar penginapan. Kalau mau minum kopi atau teh dan minuman kaleng, di penginapan disediakan mesin penjual yang secara otomatis akan menyediakannya kalau kita tebus dengan keping-keping euro pada saku kita.

 

Kota Tua Pusat Budaya


Tanggal 3 Oktober 2017, hari pertama di Roma. Kami melakukan perjalanan mengunjungi kota tua Coloseum dan Basilika Lateran. Komplek kota tua yang akan kami kunjungi tidak terlalu jauh dari penginapan. Kurang lebih membutuhkan waktu 15 menit berjalanan kaki. Kota Romawi demikian penjelasan seorang teman pada saya. Bekas-bekas puing bangunan dengan dibiarkan teronggok. Di antara puing–puing bangunan tersebut berdiri sebuah  tugu dengan ketinggian kurang lebih 50 meter dengan berdiameter dua meter yang terbuat dari marmer. Konon kabarnya tugu ini dibawa dari Mesir.

 

Hanya puing-puing dan onggokan tembok bata yang menunjukkan bahwa teknologi arsitektur bangunan kala itu cukup kokoh. Tidak jauh dari lokasi tersebut ada Monumen Nasional Italia, kami bergegas menuju ke monumen nasional tersebut yang lebih dikenal dengan Monument Vittorio Emanuelle. Di pelataran monumen terdapat tugku api abadi yang dijaga dua puluh empat jam oleh petugas militer di sisi kanan dan kiri tungku. Penjaga tungku api abadi ini beregu dengan senjata lengkap.

 

Naik lagi dari samping kiri atau kanan pelataran pertama kita akan menginjakan kaki di pelataran yang agak luas dengan beberapa patung pahlawan Italia berdiri berjejer di pinggir pelataran. Tentu ada satu patung besar seorang berseragam militer dengan menunggangi kuda dan sosok itu ternyata Vittorio Emmanuelle, pendiri pahlawan sekaligus pendiri negara Italia. Selain itu, pada bagian pelataran ini terdapat museum dengan ruang-ruang tempat di mana benda-benda bersejarah diletakkan untuk dipamerkan pada pengunjung.

 

Setelah dari monumen nasional, kami menuju ke Coloseum dengan berjalan kaki sembari menikmati bekas-bekas kota zaman romawi kuno yang terdapat di dua sisi jalan. Tentu di trotoar menuju ke Coloseum beberapa titik, kita dapat sekadar singgah untuk menikmati para seniman beratraksi secara gratis. Ada seorang berwajah Asia sedang beraksi dengan alat-alat melukisnya ada juga wajah orang India beraksi dengan atraksi dengan lakon sulapnya. Tentu ini semua untuk menarik perhatian para pengunjung dengan harapan kotak terbuka di depannya diisi recehan euro.

 

Sesampai di komplek Coloseum, kami berbaur dengan ribuan pengunjung dari berbagai negara yang memadati halaman dengan sibuk berfoto ria dengan berbagai gaya pada latar belakang Coloseum. Pada masa silam, bangunan Coloseum ini boleh dikatakan gedung bioskop, atau stadion di mana diselenggarakan even pertarungan antara manusia dnegan manusia atau manusia dengan singa sebagai sebuah hiburan yang menarik.

 

Kami tidak masuk ke dalam Coloseum, karena berjubelnya wisatawan yang datang dan mengantre dipintu masuk ke dalam bangunan Coloseum. Selanjutnya kami langsung menuju ke Basilika Lateran yang dikenal dengan Katedral Roma dan tempat Paus bertahta sebelum dipindahkan ke Basilika St. Petrus, Vatican. Di Basilika ini juga terdapat makam St. Yohanes Rasul yang menemani Yesus sampai di Bukit Golgota.

 

Usai menikmati keindahan arsitektur dan lukisan-lukisan di plafon Basilica Lateran, kami menuju ke Basilika St. Paulus, dengan menaiki bus kota kurang lebih 20 menit. Di dalam komplek taman Basilika St. Paulus ini terdapat patung Paulus yang sedang menghunus pedang, kemudian dalam Basilika terdapat kapel di mana terletak makam St. Paulus. Pada dinding atas sekeliling Basilika juga terdapat lukisan ikonik seluruh Paus yang bertahta mulai dari St. Petrus sampai dengan Paus Johanes Paulus II. Tentu bagi salah seorang teman yang kebetulan seorang guru di SMA St. Paulus Pontianak, langsung mengambil momen foto-foto di dalam Basilika tersebut. Semoga semangat St. Paulus menular pada semangat pendidikan dan pengajaran untuk mewartakan Kristus sebagai juru selamat dunia.

 

Kolam Trevi, Uang Logam, dan Saya yang Ditinggalkan


Hari ini, 4 Oktober 2017, hari kedua kami di Roma. Sekaligus hari bagi seluruh pengikut Fransiskan di dunia merayakan peringatan akan kematian sang santo. Rencana perjalanan hari ini, kami akan menuju ke Basilika St. Petrus, Vatikan. Dari penginapan kami berjalan kaki selama kurang lebih waktu 10 menit menyusuri jalan pintas dan lorong gang menuju ke Stasiun Cavour kereta bawah tanah dengan tujuan menuju Stasiun Ottoviano yang dekat dengan lokasi Basilika St. Petrus. 

 

Sesampai di Stasiun Cavour, hiruk pikuk para penumpang kereta bawah tanah, seluruh kalangan berbaur dalam gerbong kereta api yang setiap 5 menit sudah tiba kereta menyambangi stasiun. Untuk dapat masuk pada ruang tunggu, satu persatu penumpang masuk dengan sistem validasi tiket elektronik dengan menempelkan barcode pada mesin. Saat barcode tiket menempel di layer, portal terbuka secara otomatis mempersilakan penumpang masuk. Beda lagi dengan mesin validasi pada kereta api untuk keluar Roma. Mesin validasinya tersendiri di bagian salah satu sudut lobbi. Sistem validasi melalui barcode atau dicap di kartu pada mesin validasi merupakan sebuah sistem yang terintegrasi pada seluruh moda transportasi di Italia. Jika kita tidak melakukan validasi, kita akan didenda oleh petugas yang akan melakukan pengecekan di saat kereta mulai berjalan.

 

Sampai di Stasiun Ottaviano, satu-satunya stasiun yang dekat dengan komplek Vatican, kami berjalan menyusuri trotoar ke arah Lapangan St. Petrus. Untuk masuk komplek lapangan St. Petrus, satu persatu kami antre dengan pengamanan ketat beberapa tentara bersenjata lengkap. Ada juga yang berdiri di samping mobil canon water dengan moncong senjata tembak di depan mulut masuk komplek Negara Vatikan.

 

Untuk negara-negara Eropa akhir-akhir ini aksi-aksi teroris cukup mengkawatirkan keamanan bagi wisatawan. Namun demikian para wisatawan dengan tenang berseleweran hilir mudik di area Vatican dari berbagai jenis etnis, budaya dan negara dengan warna kulit yang beraneka ragam. Mungkin benar juga orang mengatakan bahwa Roma merupakan kota dunia, karena warga negara di seluruh dunia hampirnya terwakili di Kota Roma.  

 

Tas pinggang, ransel, dompet, handphone silakan dilepas,” kata temanku memerintah. Lalu semua barang itu dimasukkan ke alat pemindai sebagaimana masuk ke bandara dan tempat-tempat penting lainnya. Setelah lolos dari pemeriksaan, kami mencari tempat senyaman mungkin untuk mengikuti acara audiensi umum dengan Paus Fransiskus. Karena kami agak terlambat datang ke Lapangan St. Petrus, maka harus puas dengan menyempil di antara kerumunan pengunjung yang sudah duluan datang.

 

Sebenarnya kami telah mengantongi satu kartu khusus untuk dapat mencari tempat yang lebih dekat dengan pelataran di mana kita dapat melihat Paus secara dekat, karena terlambat tiba, maka kartu itu hanya sebagai kenang-kenangan saja. Padahal kartu itu sudah diambil jauh hari oleh seorang Suster Puteri Ratu Reinha Rosari (PRR) untuk kami.

 

Hari ini merupakan hari Raya Pesta Bapa Santo Fransiskus Asisi. Tentu suatu hari istimewa bagi Paus Fransiskus yang mengambil nama pelindung ponticifalnya. Beberapa pengunjung dan kelompok menyanyikan lagu Happy Birthday dengan riang gembira sebagai tanda syukur ketika Paus memberi berkat dan bersalaman dengan para peserta audience yang duduk di bagian khusus dekat pelataran. Bagi peserta audience seperti kami, harus puas dengan melihat sosok Paus dari kejauhan, walaupun ada beberapa anggota rombongan kami yang berusaha mendekat untuk sekadar mengambil foto atau video.

 

Panas terik siang itu cukup menyengat kulit namun tidak mengurangi semangat para pengunjung untuk berpose ria di komplek lapangan St. Petrus. Sebelum melanjutkan untuk mengunjungi situs-situs bersejarah di Kota Roma, saya dan salah seorang kawan, kebetulan kami berjumpa di lapangan St. Petrus. Dengan senang hati, ia menemani kami untuk menunjukkan tempat makan yang sedikit cocok dengan lidah Asia.

 

“Ayo der saya antar ke restoran Asia, yang dikelola oleh Keluarga China,” kata teman tersebut mengajak kami menyusuri gang-gang sempit menuju restouran tersebut.

 

Sesampai di restouran tersebut, kami meminta teman tersebut memesan makanan pada pramusaji. Bro, tolong pesankan makanan untuk kami,” ujarku. 

 

Teman tersebut menghampiri pelayan dengan bahasa Italia yang fasih, sembari melihat ke buku menu. “Ya. Ya, ya. Nasi putih, babi kecap dan capcay,” kurang lebih seperti ini terjemahan bahasa Indonesia komunikasi teman tadi dengan sang pelayan. Setelah memesan makanan teman tadi mohon pamit kembali ke rumahnya karena ada janji dengan temannya.

 

Kurang lebih 20 menit menunggu, sambil menyeruput minuman yang kami pesan, beberapa pengunjung restoran berwajah oriental dengan kulit kuning yang kukira berasal dari daratan China atau Jepang dan Korea masuk mencari meja kosong. Setelah menunggu, akhirnya pelayan membawa pesanan kami, dua piring nasi dan dua mangkok babi kecap yang untuk ukuran rumah makan di Indonesia cukup untuk lima orang. Tidak lama kemudian salad dan kimci mendarat di meja kami. Kami agak kaget, karena capcay yang kami maksud itu seperti capcay di Pontianak. Yah, karena kendala bahasa maka kami sulit komplain, cukup puas dengan salad dan kimci. Saya kira kimci ini, barangkali yang mereka sebut dengan capcay. Apa boleh buat yang penting kenyang.

 

Usai mengisi kampung tengah, kami berjalan menuju ke toko suvenir yang sesuai dengan kocek kami yang berlagak turis ini. “Toko Combardini,” demikian teman tadi meminta kami mengingat nama toko yang lumayan murah untuk mencari oleh-oleh bagi handai taulan. Setelah menemukan toko yang dimaksud, kami mencari beberapa osario, Kalung Tau, Salib, gantungan kunci, dstnya, yang penting Euro pada dompet masih tersisa untuk kembali ke Belanda nantinya. Sebab kami masih akan kembali dan tinggal selama seminggu di Belanda setelah dari ziarah ini.

 

Setelah merasa cukup berbelanja buah tangan, kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki menuju ke arah Castel Angelo, kemudian menyusuri jembatan antik yang melintasi sungai Rein. Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Fontana Navona. Fontana Navona ini merupakan tempat pacuan kuda pada zaman Romawi kuno. Tempat ini memiliki luas sebesar kurang lebih lapangan bola dan di tengahnya terdapat dua kolam besar dengan air mancur dan patung manusia telanjang tersandar pada satu batu yang memancurkan air ke dalam kolam. Air mancurnya terdapat lima buah yang mewakili lima benua di dunia. Di tepi lapangan ini juga, berdiri kokoh menjulang sebuah gereja St. Maria Magdalena. Konon Mozart Wolfgang pernah konser memainkan alat musiknya di tempat itu.

 

Suatu pemandangan yang umum di alun-alun Fontana ini, banyak seniman berekspresi sesuai dengan talentanya. Ada pemain musik yang beraksi, ada pelukis, ada pantomin, ada patung-patung hidup. Seolah pengunjung dimanjakan dengan nilai-nilai seni. Beranjak dari Fontana, kami menuju ke Pantheon yang merupakan tempat pemujaan masyarakat pada Dewa Zeus. Namun sekarang tempat ini menjadi sebuah gereja yang dipersembahkan pada Bunda Maria. Di sisi-sisi dinding bangunan bagian dalam Pantheon terdapat beberapa makam, salah satunya makam Vittorio Emanuelle dan Umberto I.

 

Untuk dapat masuk ke dalam bangunan, kami harus rela antre mengular karena banyak para pengunjung yang ingin melihat bangunan yang unik ini. Keunikan tersebut terdapat pada atap yang berbentuk kubah dan di tengah kubah tersebut berlobang dengan memiliki diameter satu meter, sehingga jika kita berdiri persis di bawah kubah tersebut kita dapat melihat langit dari lobang tersebut, namun anehnya lobang tersebut tidak membuat air hujan jatuh ke bagian dalam bangunan.

 

Setelah keluar dari Pantheon kami menuju ke Fontana Trevi. Di sini para wisatawan menyemuti lokasi dengan menikmati kolam air mancur sembari membasuh kaki dengan airnya. Semua sibuk masing-masing dengan kepentingannya. Pada latar belakang kolam itu terdapat tiga patung besar yang menempel di tembok pada bangunan kuno. Menurut pameo, setiap pengunjung yang melemparkan uang logam ke dalam kolam tersebut, suatu ketika di masa yang akan datang akan kembali lagi ke Kota Roma. Entah benar atau tidak, pameo tersebut, namun saya mencoba melempar uang logam 1 euro ke dalam kolam, dengan tidak terlalu berharap satu saat nanti akan kembali ke Roma lagi, tetapi seandainya kembali ke Roma lagi saya kira itu hanya kebetulan saja.

 

Setelah menikmati air mancur dan kesumpekan pengunjung yang menyemut di sekitar kolam itu, saya masuk ke dalam gereja yang berhadapan persis di depan kolam Trevi ini. Dasar telinga kurang jelas menangkap kesepakatan untuk kembali ke penginapan. Maka setelah keluar dari gereja, saya menunggu anggota rombongan untuk sama-sama meneruskan perjalanan kembali ke penginapan. Ternyata saya saja yang tertinggal di lokasi tersebut. Rombongan sudah berjalan menuju ke Stasiun Termini. Hal ini saya ketahui setelah menerima SMS dari nomor handphone salah seorang anggota rombongan. Oalah, saya ternyata menunggu angin. Lalu saya balas SMS tersebut. “Okey kalau begitu saya mencari jalan pulang ke penginapan sendirian saja, dari pada saya harus ke Termini,” pesan singkat yang kukirim.

 

Akhirnya saya terpaksa meraba-raba arah menuju ke penginapan. Saya duduk sambil melihat lembaran peta kota Roma yang diberikan resepsionis penginapan. Dalam batin saya bergumam, seandainya tersesat pun saya tidak akan hilang, karena kota Roma tidak terlalu luas yang penting saya berjalan kaki saja. Untuk itu langkah pertama untuk bisa kembali ke penginapan, saya berusaha mengidentifikasi tempat di mana saya berada, lalu mencocokannya di peta.

 

Setelah merasa yakin cocok, saya memutuskan untuk berjalan sembari memastikan arah pada peta apakah benar arah menuju ke penginapan. Setelah melewati gang-gang akhirnya saya menemukan jalan raya besar yang dalam ingatan saya bahwa arah penginapan ada di pinggir jalan raya besar di mana kendaraan hilir mudik. Aku berjalan dengan satu tanda yang menyakinkan bahwa arah saya benar, yakni sebuah gedung Universitas Angelicum, penginapan kami persis di belakang universitas tersebut.

 

Dari pengalaman tertinggal sendiri di Fontana Trevi ini, saya lalu ingat pameo melempar uang logam di kolam tadi, bukan sebagai terkabulnya harapan kembali ke Roma. Ternyata justru dapat dengan mudah menemukan kembali arah jalan ke penginapan.

 

Ini sekadar cerita dari saya selama dalam peziarahan ke Kota Asisi dan Roma. Kedua kota ini memiliki hubungan erat dalam khazanah umat Kristiani, terlebih dalam sejarah Fransiskan (Pengikut Fransiskus Asisi). Ziarah ke Kota Asisi dan Kota Roma bagi saya seperti mempelajari kembali studi tentang spiritualitas kristiani dan tentu mengingatkan kembali sebuah panggilan hidup. Jalan panggilan menuju kekudusan hidup, berjarak terlalu dekat dengan jalan panggilan menuju kedosaan. Hanya pertobatanlah yang dapat memberi bekal untuk perjalanan menuju kekudusan. “Jatuh lalu kembali bangun,” demikian WS. Rendra menggambarkan sebuah jalan menuju kesucian.

 

Ziarah merupakan salah satu cara untuk mengingatkan kita pada hal-hal yang adikodrati sekaligus juga kodrati. Dengan bersentuhan dengan yang adikodrati, kita akan semakin memahami arti kodrati dalam hidup kita. Dalam arti kita mampu memanusiakan diri kita dengan berkata; “Memberi arti pada keseharian kita sebagai sebuah panggilan hidup menuju sukacita sejati.”

 

Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Foto-foto: Koleksi Pribadi Br. Kris Tampajara, MTB

Selengkapnya