Surat Letnan Nagata: Memilih Tawanan yang Dibunuh atau jadi Pemikul Logistik Jepang dalam Pelarian

Oktober 18, 2022
Last Updated

Dokter Marcus Clarke, dokter militer Australia mengetahui berapa surat yang ada di rumah bekas Letnan Nagata, seorang komandan militer pengawas kamp di Kuching. Dokter Clarke ditawan di Kamp Sandakan sebelum akhirnya dipindahkan di Kamp Kuching.


“Setelah saya mendapat beberapa surat Letnan Nagata, saya menjadi sadar bahwa pemeriksaan enam minggu sebelum kami dibebaskan ada pemeriksaan kesehatan para tahanan. Jepang ingin memilih tahanan yang sehat untuk membantu mereka membawa logistik mereka untuk melarikan diri jika tentara Australia mendekati Kota Kuching,” kata Dokter Clarke.

Ternyata waktu itu, Jepang memilih mana yang akan dibunuh dan mana yang akan menjadi tawanan mereka dalam pelarian. Keputusan rencana Jepang ini sangat mengerikan karena seluruh tahanan baik perempuan dan anak, akan dibunuh pada 15 September 1945. Syukurlah bahwa Amerika terlebih dahulu menjatuhkan bom di Nagasaki dan Hiroshima, sehingga rencana itu tidak terjadi.

Demikianlah kisah-kisah antara mati dan hidup di tangan kekuasaan Jepang selama masa internir di kamp-kamp di Kuching. Setelah beberapa minggu di Pulau Labuan, para misionaris dibawa kembali ke Borneo Barat. Pada 3 Desember 1945, kelompok pertama dari dari para internir naik kapal perang Belanda Willem Van Der Zaan menuju ke Pontianak selama dua hari.

Pukul 12 malam pada 5 Desember 1945, mereka tiba di Pelabuhan Pontianak yang disambut Mgr. Tarsicius Van Valenberg dan Pastor Pasifikus Bong, OFMCap. Dalam malam gelap Pontianak yang ditinggalkan selama kurang lebih empat tahun, mereka menuju rumah masing-masing. Pada minggu-minggu pertama, mereka harus menata kembali rumah yang perlu dibersihkan.

Kemudian bertemu dengan handai taulan yang ditinggalkan selama ini. Kisah-kisah antara mereka yang baru pulang dan kisah yang tinggal di Pontianak mengenai orang-orang yang mereka kenal, sanak famili tiba-tiba ada yang sudah tidak ada lagi. Jika itu terjadi berarti mereka sudah menjadi kekejaman Jepang di Mandor. Karena korban kekejaman Jepang di Kalimantan Barat banyak merenggut nyawa tokoh-tokoh intelektual dan tokoh masyarakat di seluruh Kalimantan Barat.

Demikianlah cerita para misionaris yang telah telah mengalami banyak kesulitan sejak awal tiba di Borneo selama empat puluh tahun awal, ditambah lagi dengan empat tahun diinternir dengan segala penderitaan dan siksaan oleh Jepang. Para misionaris seolah-olah seperti sebuah emas yang terus disepuh dan dibakar pada tungku api sehingga menjadi emas murni. Demikianlah iman, harapan dan cinta mereka diuji dalam ketidakberdayaan dalam tangan penguasa yang keji.

Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba


Artikel Lain: SeribuTahanan Dipaksa jadi Kuda Beban Ikuti Serdadu Jepang Memikul Logistik ke Randau

Selengkapnya