Tanah Lapang Belakang Katedral Kuching jadi Lokasi Makam Tahanan di Kamp Lintang

Oktober 09, 2022
Last Updated

Para misionaris masih menjalani masa kelam sebagai internir di Kamp Lintang, Kuching. Setiap hari ada yang meninggal dunia. Bahkan, pernah satu hari, ada 15 tahanan yang meninggal. Mereka dimakamkan di tanah lapang pojok kamp. Hanya para misionaris yang diizinkan dimakamkan di belakang Katedral Kuching.


Pada Agustus 1942, muncul Kolonel Tatsuji Suga di Kamp Lintang. Sang Kolonel pernah tinggal di Amerika sehingga dapat mengerti sedikit bahasa Ingggris. Dia memperkenalkan diri sebagai pimpinan paling tinggi di kamp. Kemudian dia mulai mengorganisir para tahanan dalam barak-barak yang menjadi 10 barak untuk tahanan (lihat Gambar Denah Kamp Lintang). Dari sepuluh itu, lima barak khusus untuk para misionaris, yang terletak di pojok komplek Kamp Lintang. Letak Kamp Misionaris (para pastor dan bruder) dekat dengan pos pintu masuk kamp, sehingga mereka dengan mudah melihat apa yang terjadi di pos jaga.


Barak misionaris ini dihuni oleh 101 orang yang terdiri atas; 44 orang Kapusin, 23 Bruder MTB, lima orang serikat SMM, 29 Pastor Mill-Hill, sedangkan suster berjumlah 73 orang suster Veghel, Suster Asten berjumlah 15 orang, sedangkan 30 orang suster Etten, dan 7 orang suster OSCCap atau Slot serta 20 orang suster dari Inggris.


Untuk memenuhi kebutuhan akan gizi, para misionaris ini memelihara ayam dengan jumlah 20 ekor. Dari ayam itu diperoleh telur yang dapat menjadi lauk istimewa. Tentu dibagi secara bergiliran agar semua penghuni barak. Mereka juga memanfaatkan lahan pekarangan sekitar barak dengan menanam ubi, sayur-sayuran, terung, dsbnya. Bahkan ketika tembakau mereka habis dan tidak dapat keluar kamp untuk membelinya, daun terung yang kering diiris-iris untuk dijadikan tembakau. Demikianlah yang dilakukan oleh Bruder Daminanus yang sepanjang hari di bawah pohon, menjadi bengkelnya sekiranya tidak ada pekerjaan oleh Jepang.


Di kamp juga terdapat barak rumah sakit yang dihuni oleh beberapa perawat dan dokter dari Jepang yang bernama Yamamoto. Kadang bagi yang sakit selalu tidak pernah mendapat obat, dan tidak jarang yang sakit hanya pasrah menunggu ajalnya. Bahkan sakit yang ringan pun dapat menyebabkan kematian. Rata-rata para tahanan sakit busung lapar karena kekurangan gizi. Selain busung lapar, mereka juga mengalami demam, flu, sakit kepala, dstnya.


Pernah satu hari tahanan yang meninggal mencapai 15 orang. Jenasah mereka dimakamkan di tanah lapang dekat pojok kamp. Hanya bagi para misionaris diberi izin oleh otoritas Jepang untuk dimakamkan di belakang Gereja Katedral Kuching.


Selama diinternir di Kuching, ada 12 orang pastor, suster dan bruder yang meninggal karena sakit, antara lain; Pastor Edmundus, OFMCap, Pastor Kwandekker, Mill-Hill, Pastor Staal, Pastor Prosper, OFMCap. Kemudian tujuh suster Veghel antara lain, Sr. Cajetana, Sr. Getruda, Sr. Fidelia, Sr. Venantia, Sr. Antonia, Sr. Sophia, dan satu suster Etten (meninggal ketika di Labuan setelah dibebaskan), serta Fransiskus.


Kolonel Suga, demikian dia dikenal oleh orang tahanan, semua keputusan tertinggi ada pada tangannya. Apa yang keluar dari mulutnya merupakan titah yang tidak dapat dibantah. Kadang-kadang, ia memberi izin pada Mgr. Valenberg untuk dapat keluar komplek kamp. Begitu juga izin untuk ibadat atau ekaristi, Mgr. Valenberg diberi izin untuk dapat merayakan misa setiap pagi. Kemudian jika hari Minggu dan hari raya, pastor dapat merayakan misa di barak-barak. Jika pada hari raya seperti Natal dan Paskah, para penghuni kamp dapat dibebastugaskan.


Seringkali juga Mgr. Hofgartner, Uskup Keuskupan Kuching mengirim hosti dan anggur untuk keperluan ekaristi, tentu barang-barang ini dititipkan pada Mayor Suga. Pernah suatu kejadian, rombongan suster menyembunyikan ubi ketela di saku bajunya. Namun, beberapa buah ubi yang tersimpan di saku baju suster itu terjatuh di tanah dan dilihat oleh serdadu Jepang. Suster itu pun diperiksa bersama suster-suster lain oleh serdadu Jepang. Atas kesalahan tersebut maka para suster mendapat hukuman dijemur. Ketika Kolonel Suga tiba, kemudian membebaskan para suster dan kembali ke baraknya, tanpa dapat ditahan-tahan lagi oleh serdadu berpangkat rendah.


Para suster dalam hal berargumen dengan serdadu Jepang tidak dapat disangsikan lagi, bahkan mereka lebih berani daripada kaum laki-laki. Seorang mantan pejabat Belanda di Singkawang (asisten residen), Tuan Verhuel pernah melakukan protes keras terhadap serdadu Jepang yang memaksa tahanan untuk membuat lapangan terbang demi kepentingan perang.


“Sesuai dengan undang-undang internasional, tidak boleh seorang tahanan dipekerjakan untuk kepentingan perang,” kata Tuan Verhuel. Tetapi protes tersebut mendapat ganjaran pukulan popor senapan dari tentara Jepang. Tuan Verhuel kemudian dijemur.


Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba


Artikel Lain: Wajib Ikut Kerja Paksa, Harus Kreatif untuk Bertahan Hidup

Selengkapnya