Tiga Ribu Misionaris Belanda jadi Tawanan Jepang di Kamp Lintang, Kuching

Oktober 04, 2022
Last Updated

Juli 1942 menjadi waktu yang paling kelam bagi misionaris Belanda. Para pastor, bruder, dan suster yang mengungsi di Sejiram diangkut Jepang ke Pontianak. Mereka kemudian dibawa menggunakan kapal kecil menuju Kamp Lintang, Kuching. Untuk tiba di Kamp Lintang, mereka harus berjalan kaki sejauh lima kilometer. Jumlah tawanan pada waktu itu mencapai 3.112 orang.   

[Foto: Dokument Bruder MTB]

Pada awal Juli 1942, orang-orang Belanda di daerah Putusibau, Sintang, dan Melawi serta para misionaris di Sejiram, Benua Martinus, dan Bika Nazaret, para bruder, pastor, suster serta anak-anak yang sebelum Natal mengungsi di Sejiram kembali diangkut oleh Jepang ke Pontianak dan menjadi tawanan.


Untuk mempermudah komunikasi dengan serdadu Jepang dan komandannya, entah dipaksa oleh serdadu Jepang atau desakan dari Mgr. Tarsicius van Valenberg, Bruder Canisius, MTB mulai menyusun pelajaran bahasa Jepang bagi para tahanan yang ditahan di rumah bruderan. Berdasarkan komunikasi Bruder Canisius, MTB dengan serdadu Jepang, diperoleh informasi bahwa para tawanan akan dipindahkan ke suatu tempat. Mereka belum tahu akan dibawa ke Kamp Lintang, Kuching.


Pada 14 Juli 1942, tiba-tiba komandan serdadu Jepang memerintahkan agar seluruh tawanan bersiap-siap dalam waktu dua jam untuk menggemas barang-barang pribadi yang seperlunya untuk dibawa. Waktu itu para Bruder masih diperbolehkan membawa mesin jahit, kain satu gulungan tebal, beras dan tidak lupa kasur. Pada hari itu, dalam panas terik bumi Khatulistiwa, para tawanan digiring secara berbaris dengan mebawa barang-barangnya ke Pelabuhan. Dalam rombongan itu ikut juga Mgr. Tarsicius Van Valenberg. Jumlah mereka yang masuk kapal motor air tersebut kurang lebih 200 orang.


Mereka berlayar dengan kapal kecil. Akhirnya mereka tahu bahwa akan dibawa ke Kamp Lintang, Kuching. Hal ini diperoleh informasi dari nahkoda kapal. Pada hari ketiga setelah terombang ambing dan tak menentu, para tawanan ini sampai di Pelabuhan Kota Kuching. Di Pelabuhan, seorang opsir Jepang sudah menunggu. Opsir itu memberi selamat datang pada para tawanan dengan nada menghina dan sinis. Setelah sampai mereka turun dari kapal dan mengangkat barang milik masing-masing menuju kamp yang masih memerlukan jalan kaki dengan jarak 5 kilometer.


Setelah sampai di kamp, mereka berjumpa dengan kolega sesama misionaris dan orang Belanda dari Singkawang, Pemangkat, Sambas, Nyarumkop dan Bengkayang, termasuk juga para pastor Mill-Hill di Kuching. Jumlah seluruh tawanan di Kamp Lintang, Kuching ini mencapai 3.112 orang. (Bdk. Dokument Sejarah Bruder MTB: Br. Bernulfus, MTB).


Dengan rincian sebagai berikut; Opsir Australia sejumlah 200 orang, 2 pastor Fransiskan/OFM, Opsir Inggris sejumlah 150 orang, 40 orang Opsir Belanda, 150 orang tentara KNIL, dan 300 orang prajurit Indonesia, serta 1.500 orang prajurit Inggris. 40 orang tentara Gurka/India, 300 orang warga sipil Inggris dan Belanda.  Sedangkan para misionaris terdiri dari 100 orang pastor dan suster dari berbagai tarekat/ordo, dan para kaum perempuan dan anak sejumlah 300 orang, termasuk para suster. (Bdk. Hidupku diantara Suku Dayak: Herman Josef Hulten, OFMCap: 1992).


Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba


Artikel Lain: Jepang Bakar Fasilitas Vital, Pontianak Bagaikan Kuburan dengan Lidah Api

 

Selengkapnya