Wajib Ikut Kerja Paksa, Harus Kreatif untuk Bertahan Hidup

Oktober 06, 2022
Last Updated

Kamp Lintang dilengkapi dengan satu pintu masuk. Pos jaga yang ketat dan menara pengintai dengan ketinggian 6 meter. Ada enam menara yang dibangun dekat setiap barak. Barak itu dijaga oleh 100 serdadu Jepang yang ganas.


Seringkali hanya karena persoalan sepele mereka punya alasan menyiksa para tahanan, dengan menjemur dan kerja paksa tambahan, bahkan dipukul dengan popor senapan. Pernah seorang tahanan tidak melakukan hormat dengan cara membungkuk ketika para serdadu Jepang lewat, padahal jaraknya masih jauh. Sang tahanan langsung mendapat ganjaran dari Jepang, si mata sipit yang berbadan kecil, dengan beberapa pukulan dan dijemur.

 

Kamp Lintang, demikian tempat ini dikenal, sebuah tempat para tahanan Jepang ditahan dan seringkali disiksa dengan hukuman dan tidak diberi makanan. Empat hari pertama para tahanan masih agak bebas dan menyesuaikan diri dengan suasana baru. Bagaimana tidak? Sebelumnya mereka semua hidup dengan bebas dan cukup makan minum, dan fasilitas yang layak, kini mereka terkurung dalam barak yang sempit dan lebih layak disebut pondok, minim fasilitas seperti MCK, air bersih, dapur, tempat tidur harus berbagi dengan yang lainnya tanpa skat/pembatas.

 

Semua keperluan untuk mendukung aktivitas dan hidup di kamp seperti meja, kuusi, ember, cangkir harus mereka sediakan sendiri, bahkan dibuat sendiri dengan bahan yang tersedia. Sekali kali kalau penjaga Jepang lalai, mereka dapat sesuatu yang dapat digunakan untuk keperluan umum di barak. Salah satunya kawat-kawat berduri dapat dijadikan paku untuk membuat kursi dan meja. Namun untuk hal-hal yang menyerempet tersebut sekiranya diketahui penjaga Jepang maka hukuman menjadi ganjarannya.


Dalam serba sulit tersebut, para misionaris harus kreatif untuk dapat bertahan hidup. Sehari-hari mereka semua wajib kerja paksa. Ada yang membuat lapangan pesawat terbang, ada yang membuat jalan, ada yang membersihkan rumah atau barak. Tetapi ada disela-sela waktu kerja itu, para misionaris dapat melakukan kerja tangan seperti membuat sepatu dengan kayu oleh Bruder Damianus, MTB. Ada juga yang menjahit topi dan pakaian untuk kerja oleh saudara Kapusin, Bruder Juvenalis dan Bruder Avelinus. Ada yang membuat pipa rokok seperti Bruder Bruno, SMM. Pastor Linsen SMM membuat ember dan tong air dari kayu dan batang karet.

 

Hanya ada satu misionaris yang agak istimewa diperlakukan oleh Jepang, yakni Bruder Leo Geers, MTB. Bruder Leo Geers kebetulan menguasai sepuluh bahasa dengan cara belajar otodidak. Beberapa bahasa yang dikuasainya antara lain; bahasa Perancis, Spanyol, German, Inggris, Yunani, Mandarin, Italia, Belanda, Rusia, Melayu, Arab, termasuk bahasa Jepang. Maka pada saat di kamp, dia mendapat tugas sebagai juru bahasa. Dia dibebaskan dari kerja berat. Seringkali dalam sehari, ia berkali-kali dipanggil ke kantor Jepang untuk berbagai urusan para tahanan.

 

Sering terdengar serdadu Jepang memanggilnya. “Liiiie…iee…ieee…oooooo,” demikian serdadu Jepang, berteriak memanggil nama Bruder, Leo yang membuat orang yang mendengar teriakan tersebut segera bergegas menuju ke barak di mana Bruder. Leo Geers tempati untuk menyampaikan padanya si Jepang sedang memanggilnya.


Penulis: Br. Kris Tampajara, MTB

Editor: Budi Atemba

 

Artikel Lain: Tiga Ribu Misionaris Belanda jadi Tawanan Jepang di Kamp Lintang, Kuching

Selengkapnya