Nyantrik; Benarkah Santri Ngruki jadi Militan dan Cenderung Radikal? (Bag. 5)

November 24, 2022
Last Updated

[Peringatan: Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi 30 tahun yang lalu. Jika ada perubahan dalam 30 tahun belakangan ini, penulis tidak update.]

Sebuah poster yang terdapat pada salah satu ruangan di Ponpes Ngruki, Solo, 14 April 2008. [Foto: AFP] 

Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki berdiri pada 10 Maret 1972 dengan Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin di Jalan Gading Kidul No. 72A, Solo, jika pembaca pernah tinggal di Kota Solo alias Surakarta tentu paham daerah Gading yang berada di dekat alun-alun Kidul Kraton Surakarta. Pondok Pesantren Islam Al Mukmin Ngruki ada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam dan Asuhan Yatim Al-Mukmin (YPIA).

Pada waktu dibuka pertama kali pada tahun 1972, jumlah santri yang diasramakan sebanyak 30 santri termasuk didalamnya 10 santri dari Asuhan YPIA. Adapun para perintis dan pendirinya ada 8 orang, dua diantaranya adalah Ustadz Abdullah Sungkar, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, dan para pendukung yang lain.

Mengingat perkembangan santri yang sangat pesat dengan sarana dan prasarana yang masih terbatas, maka dua tahun berikutnya yaitu tahun 1974 pengurus Yayasan Pendidikan dan Asuhan Yatim/Miskin Al-Mukmin (YPIA)  memindahkan lokasi madrasah ke Dukuh Ngruki Kelurahan Cemani, Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Bangunan Pondok menempati tanah wakaf milik KH. Abu Amar. Sejak saat itu, pesantren ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin Ngruki-Surakarta/Solo.

***

Kembali kepada kisah dua pendiri Pondok Ngruki, yaitu Abdullah Sungkar (meninggal dunia tahun 1999) dan Abu Bakar Ba'asyir. Mereka berdua pada tahun 1985 melarikan diri ke Malaysia untuk menghindari penangkapan aparat karena disangka terlibat kasus Komando Jihad yang dianggap bertanggung jawab atas beberapa kejadian teror di Indonesia, seperti penyerangan pos polisi di Bandung, peledakan Candi Borobudur, pembajakan pesawat Garuda Woyla yg terjadi di Don Muang Thailand.

Dari tempat persembunyian di Malaysia inilah, salah satu hasil mereka adalah mendidik dua buronan kelas kakap kasus terorisme di Indonesia tahun 2000-an, yaitu Dr. Azahari dan Nordin M. Top. Dari jalur Malaysia ini juga diberangkatkan orang-orang Indonesia yang ingin melakukan amal jihad ke Afganistan saat ada konflik dengan Uni Sovyet (Rusia).

Orang-orang Indonesia itu tentu saja ada dari alumni Ngruki yang sebenarnya izin keberangkatannya (visa belajar) adalah untuk belajar Agama Islam di Pakistan, namun banyak di antaranya memilih untuk ikut Jihad di Afganistan. Alumni atau veteran perang Afganistan ini  kemudian hari ikut meramaikan konflik sektarian di berbagai wilayah di Indonesia.

Saat saya masuk Ngruki, sedang hangat kejadian keributan antara aparat dengan Jamaah Warsidi di Lampung pada tahun 1988.

Ustadz Abdullah Sungkar dan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir kembali ke Indonesia dari Malaysia pada tahun 1998. Namun tidak lama kemudian Ustadz Abdullah Sungkar meninggal dunia di Solo. Ustadz Abdullah Sungkar ini orator ulung. Ceramah beliau yang saya dengar di kaset saat masih nyantri isi materiya tentang keutamaan Jihad, amar makruf nahi mungkar harus diutamakan dengan tangan jangan hanya pakai mulut.

Hinaan kepada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika pun sudah saya dengar dari ceramah ustadz ini yang kemudian isi hinaan di copas oleh Habib Rizieq dari Petamburan, Jakarta. Jika orang tua Anda pernah tinggal di Solo dan menjadi jemaah pengajian di Masjid Agung Surakarta, Ustadz Abdullah Sungkar adalah satu penceramah yang rutin mengisi kajian di sana pada era tahun 80-an.

***

Lulusan Ngruki (khususnya Jurusan Mualimin) memang dididik untuk menjadi Guru Agama. Ada pertanyaan dari masyarakat awam, kenapa santri Ngruki menjadi militan dan cenderung radikal?

Saya akan jawab dengan pertanyaan begini :

Jika Anda santri Ngruki (khususnya Jurusan saya Mualimin) yang selama 24 jam perhari 7 hari seminggu selama bertahun-tahun tinggal di sebuah kompleks asrama dengan tiap dinding dan tembok bahkan kaca cermin penuh dengan tulisan kaligrafi Arab berisi ayat ayat kitab suci Al-Qur'an dan Hadist Nabi SAW yang mengajak untuk berperang, keutamaan Jihad dan mati syahid dan segala hal yg mengajak kita mempersiapkan diri untuk sebuah perang suci.

Kemudian ditambah lagi isi tausyiah (ceramah) baik di mesjid ataupun di kamar masih membahas hal yang sama. Juga pelajaran yang kami terima di kelas tidak jauh dari hal hal yang saya sebutkan di atas.

Apakah output yang Anda dapatkan dari semua itu?

Hal-hal begitulah yang kami terima dan kami "makan" setiap hari. Baik oleh saya maupun santri Ngruki lainnya yang masih berusia muda, usia ABG yang sedang labil. Memang benar ayat-ayat itu dan hadits Nabi SAW yang disampaikan itu ada dan tertulis di mushaf Al-Qur'an dan kitab kitab Hadits. Kami juga mendapatkan penjelasan secara mendetil tentang Asbabun Nuzul (sebab musababnya turun sebuah ayat),

Namun sayangnya kami tidak diperbolehkan untuk mendebat atau mempertanyakan konteks ayat ayat dan hadits tersebut jika diterapkan di masa sekarang yg jaraknya sudah 1400 tahun lebih dari jaman Nabi SAW. Yang sering saya terima saat itu argumen "Lha wong Nabi saja berperang, masak kita tidak?"

Kalaupun ada ayat dan hadits tentang kasih sayang, hal itu sebatas disampaikan belaka dan jikapun dibahas mendetil yang berhubungan dengan muamalah (hubungan sosial) kepada nonmuslim atau dengan yang tidak sepaham dengan ajaran Ngruki, nanti akan balik ke ayat ayat perang. Nauzubillah

Apakah di sana juga diajarkan ilmu kemiliteran dan taktik perang serta penggunaan senjata?Saya jawab pelajaran kemiliteran dan taktik perang serta penggunaan senjata itu tidak ada diajarkan. Wallahi. Demi Tuhan.

Pelajaran sehari-hari di kelas sudah ditetapkan sesuai kurikulum yang disusun secara mandiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren. Secara materi pelajaran, di kelas 1 sampai kelas 2 Mualimin kami masih mendapatkan pelajaran umum seperti Fisika dan Biologi ditambah Bahasa Indonesia. Pelajaran Bahasa Inggris dan Arab menjadi pelajaran penting karena santri diwajibkan untuk berbicara dengan dua bahasa tersebut.

Para santri Mualimin Ngruki tidak mendapatkan pelajaran PMP atau PPKN dan Sejarah. Sejauh saya tahu, pelajaran Pancasila adalah haram. Saat itu segala sesuatu yang dikeluarkan Pemerintah Republik Indonesia itu difatwa haram. Oleh karena itu, ijazah persamaan SMP dan SMA pun haram. Jadi kemungkinan kami untuk melanjutkan kuliah di universitas umum di Indonesia saat itu tidak mungkin.

Ada kakak kelas saya, santri dari Bandung yang anaknya pintar dan tidak nakal dikeluarkan oleh pengasuh pondok karena ketahuan mengikuti ujian persamaan setingkat SMP di Jawa Barat.

***

Sekadar tambahan, kami tidak diperbolehkan mengadakan upacara bendera, menghormati bendera merah putih. Karena difatwakan bahwa bendera dan lambang negara Garuda Pancasila adalah berhala.

Kasus ini sebenarnya mendapatkan perhatian dari aparat keamanan saat itu. Bahkan ada satu petugas khusus dari Koramil Grogol Sukoharjo, seorang tentara yang ditugaskan untuk datang ke asrama pondok pesantren Ngruki untuk ngopyak-opyak kami mengadakan upacara bendera di halaman pondok. Saya masih ingat namanya Pak Rasus, beliau babinsa dari Koramil Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo.

***

Khusus pelajaran bahasa, kurikulum pondok pesantren Ngruki mengambil buku buku dari Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Pelajaran agama seperti Aqidah, Syariah, Ilmu Fiqh, Imla', Ilmu Mustholahul Hadits, Ilmu Kaligrafi dan lain lain mendapat porsi paling banyak.

Banyak pelajaran di atas yang membutuhkan kemampuan menghafal. Khususnya pelajaran Tahfidz (menghafal Al Qur'an). Mulai kelas 1 Mualimin diwajibkan setor 1 juz dalam setahun. Dimulai dari juz 30 kemudian 29 dan selanjutnya. Jadi dihafal mundur. Para jago-jago hafalan Qur'an ini akan mendapatkan posisi istimewa, banyak dari mereka setelah lulus dari Ngruki mendapatkan bea siswa untuk kuliah di Timur Tengah.

Di antaranya bisa kuliah di Universitas Ummul Qura di Madinah dan Universitas Al Azhar di Mesir. Ada juga yang melanjutkan kuliah ke LIPIA (dulu namanya LPBA) di Jakarta, sebuah lembaga pendidikan setara Diploma yang mempelajari Bahasa dan Budaya Arab serta Ajaran Islam, Yayasan tersebut didanai oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Santri yang bisa kuliah di kampus itu setelah lulus dari pondok pesantren menjadi idola juniornya. Kuliah mereka gratis dengan uang saku yang besar pada saat itu. Mereka menerima uang saku senilai Rp200.000 per bulan jika bisa diterima di LIPIA. Nilai yang cukup besar pada tahun 1990-an. Kalau uang saku yang diterima di Ummul Qura dan Al Azhar saya tidak tahu. Tapi tetap ada dan tentunya bernilai lebih besar daripada yang diterima mahasiswa LIPIA.

Salah satu santri yang terkenal pintar, cerdas dan ahli hafalan adalah Ustadz Zain Annajah yang kemarin ditangkap oleh Densus 88 pada bulan Desember 2021. Ustadz ini ketika saya masuk pada tahun 1989, baru lulus dari Ngruki. Dia menjadi salah satu wali kelas saya. Bidang keahlian Ustadz Zain ini Syariah dan Ushul Fiqh. Ustadz Zain berasal dari Klaten, Jawa Tengah.

***

Semua yang tertulis di atas, saya alami 30 tahun yang lalu. Kondisi Pondok Ngruki waktu sekarang, saya tidak update.

Tulisan ini tidak bermaksud membuat pembaca ketakutan memasukkan anak anaknya ke Pondok Pesantren. Kasus Pondok Ngruki ini hanya satu contoh, yang kebetulan saya langsung mengalami. Pengalaman ini terjadi hampir 30 tahun yang lalu.

Apakah Pondok Ngruki sudah berubah?
Dari yang saya dengar sayangnya belum.

Silakan masukkan anak anak Anda ke Pondok Pesantren yang masih menghormati dan menjaga keanekaragaman di Indonesia.
Buat apa memasukkan anak-anak kita ke sebuah Pondok yang tidak mau mengakui bahwa kita hidup berdampingan dengan banyak hal. Ajarkanlah Islam Rahmatan Lil Alamin. Islam yang ramah bukan Islam yang marah.

Kunci utama yang saya pegang untuk bisa lepas dari pikiran radikal yang saya dapatkan selama mondok di pondok pesantren Ngruki itu adalah kalimat :

OPEN MIND FOR A DIFFERENT VIEW.

Yang uniknya kalimat tersebut saya dapatkan dari sebuah lirik dari grup rock Metallica di lagu Nothing Else Matters. Untuk melepaskan semua itu butuh waktu lama.

Penulis: Didien Khoerudin

Artikel Lain: Nyantrik; Celana Jeans dan Kisah Novel Terlarang (Bag. 4)

Selengkapnya