Uskup Valentinus: Mimpi Saya jadi Profesor Dayak bidang Filsafat Murni Buyar Setelah Diangkat jadi Uskup

December 09, 2022
Last Updated

Misa Episkopal Mgr Valentinus Saeng CP sebagai Uskup Sanggau. [Foto: Komsos KAP] 

“Mengapa saya?” 

Valentinus Saeng bercerita tentang pertanyaannya kepada Tuhan. Selama lima bulan, lelaki asal Desa Keramuk, Sekadau itu bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saeng masih belum percaya jika dipilih sebagai uskup di Keuskupan Sanggau, menggantikan Mgr Guilio Mencucini CP yang mengundurkan diri karena usianya yang sudah mencapai 75 tahun.

“Satu-satunya ambisi saya adalah menjadi orang Dayak pertama yang jadi professor bidang filsafat murni. Itu saja. Bukan menjadi uskup, bukan!” kata Saeng ketika pentahbisan episkopal pada 10 November 2022.

Bagi imam Kongregasi Pasionis (CP) itu hidup sebagai imam dan menjadi dosen sudah cukup. Namun, Tuhan punya rencana lain dalam hidupnya. Pria yang lahir pada 28 Oktober 1969 itu menjadi staf pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang. Tak heran, jika keinginan untuk menjadi seorang professor bidang filsafat murni sangat kuat.

“Namun, saya menyerah kepada Tuhan seperti Daniel. Sekian lama saya bersembunyi di Malang, juga dalam lingkungan Kongregasi, saya selalu mundur dalam pemilihan baik dalam lingkup provinsi maupun Asia Pasifik serta di lingkup dunia. Saya menolak jabatan apapun karena saya ingin fokus di dunia penelitian (dunia Kampus) tetapi Tuhan memberi ini (uskup). Saya mau lari ke mana pun, Tuhan berada di sana. Saya hanya bisa berkata, inilah saya utuslah saya,” kata Uskup Valen.

Masa kanak-kanak Uskup Valen dihabiskan di Keramuk. Ia menempuh pendidikan dasar di SDN Nanga Tengkojam, kemudian masuk SMP Negeri Nanga Belitang. Setelah itu, masuk seminari menengah di SMA Karya, Sekadau. Sejak di seminar menengah, Uskup Valen sudah berniat menjadi seorang imam. Karena itu, ia meneruskan pendidikan postulat pasionis di Batu, Malang. Valen kemudian ditahbiskan sebagai imam pasionis pada 26 September 1998 di Sekadau.

Valen kemudian melanjutkan studi di Universitas Pontificial St. Thomas Aquino Angelicum, Roma. Di universitas yang sama, ia memperdalam ilmu filsafat murni. Uskup Valen menguasai lima bahasa internasional yakni Italia, Jerman, Perancis, Latin, dan Inggris. Tentu saja, Uskup Valen sangat fasih berbahasa ibu kendati sudah sangat lama meninggalkan kampung halaman.

Mimpi Saeng sebagai orang Dayak pertama yang jadi profesor filsafat murni buyar. Bapa Paus Fransiskus memberikan tongkat gembala untuk melayani umat di Keuskupan Sanggau, yang terdiri atas umat di Kabupaten Sanggau dan Sekadau.  

Mgr Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmojo, Uskup Agung Jakarta, yang hadir dalam tahbisan episkopal Uskup Valen mengajak umat mendukung uskup baru dengan doa dan terlibat aktif. “Semua sudah terurai dalam lambang dan logo Uskup Valen dengan penjelasannya di sampul terakhir dalam buku misa,” kata Kardinal Suharyo.

Kardinal Suharyo mengutip Surat Rasul Paulus kepada Timotius, "Peliharalah Harta yang Indah." Artinya Uskup Valen mau menjalankan apa yang telah dijalankan oleh Timotius atas saran Rasul Paulus, dalam zaman dan konteks yang berbeda, tapi semangatnya adalah menjalankan pesan yang diterima dari Timotius dari Rasul Paulus. “Siapa tahu namanya nama Uskup Valen ini nambah jadi Monsinyur Timotius Valentinus Saeng. Jadi enggak usah ganti kartu penduduk,” ujar Kardinal.

Uskup Valen mengambil Roti dan Anggur, lambang ekaristi sebagai logo. Seperti roti ekaristi yang diambil dan diberkati kemudian dipecah-pecahkan, kemudian dibagikan. Uskup Valen bersyukur karena dipilih dan yakin diberkati agar hidup dibagikan untuk pelayanan.

“Kemudian yang tidak boleh dilewatkan adalah simbol JXP - Jesu XPI Passio karena Mgr Valen adalah anggota kongregasi passionis. Beliau mempunyai devosi kebaktian kepada sengsara kristus. Sengsara kristus kita tahu bukanlah sengsara yang dicari-cari. Kalau mencari kesengsaraan itu namanya sakit. Sengsara Kristus menjadi pokok kebaktian karena itu bentuk dari korban demi kasih. Timotius diajak oleh Rasul Paulus untuk menderita. Ikutlah menderita demi injilnya oleh kekuatan Allah,” kata Kardinal Suharyo.

Artikel Lain: Ditahbiskan jadi Uskup Sanggau, Ini Pesan Uskup Agung kepada Valentinus Saeng

Selengkapnya